
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan terkini mengenai eks Siklon Tropis Senyar pada Minggu, 30 November 2025, pukul 7 WIB. Informasi tersebut menyatakan bahwa bekas siklon yang sebelumnya telah memicu bencana besar di Sumatra bagian utara ini kembali mengalami pelemahan signifikan, dari sebelumnya berstatus tropical depression kini menjadi tropical low.
Pada Minggu dini hari, posisi sistem eks Siklon Tropis Senyar terpantau berada di sekitar Laut Cina Selatan, tepatnya di sebelah timur semenanjung Malaysia dan timur Laut Tarempa. Kecepatan angin maksimum di pusat sistem diperkirakan hanya mencapai 46 km/jam. Angka ini jauh menurun drastis jika dibandingkan dengan kecepatan angin 85 km/jam yang terjadi sesaat sebelum badai tersebut menerjang daratan Sumatra pada Rabu pagi lalu, menggambarkan penurunan intensitas yang nyata.
Menurut penjelasan BMKG, pelemahan sistem ini disebabkan oleh berkurangnya dukungan parameter atmosferik yang krusial. Kecepatan angin di sekitarnya tidak lagi signifikan, dan aktivitas konvektif di pusat sirkulasinya terus menunjukkan penurunan. “Sejak Minggu dini hari, 30 November 2025 pukul 1 WIB, bibit siklon tersebut tidak lagi menunjukkan indikasi peningkatan intensitas dan tidak berpotensi untuk berkembang kembali menjadi siklon tropis,” demikian keterangan dari BMKG.
Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa dampak lanjutan terhadap cuaca ekstrem dan kondisi perairan masih dapat terasa hingga setidaknya Senin pagi. Potensi hujan sedang hingga lebat diperkirakan akan melanda wilayah Kepulauan Riau. Sementara itu, di sejumlah perairan seperti perairan Kepulauan Natuna, perairan Kepulauan Anambas, perairan Subi – Serasan, dan Laut Natuna Utara, masyarakat dan pelayaran perlu mewaspadai potensi gelombang tinggi yang dapat mencapai 1,25 hingga 2,50 meter.
Perjalanan Siklon Senyar setelah menerjang Sumatra pada Rabu pagi memang cukup panjang. Badai ini masih bertahan saat melintasi perairan Selat Malaka dan bahkan menyeberang ke Laut Cina Selatan pada Jumat lalu. Pada periode tersebut, Erma Yulihastin, peneliti iklim dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), telah mewanti-wanti potensi badai baru yang dapat terbentuk dari sisa-sisa peluruhan Senyar, yang disebut sebagai vorteks Borneo. Peringatan ini terbukti, saat pada Sabtu siangnya, vorteks tersebut terpantau menguat menjadi depresi tropis.
Per Minggu, 30 November 2025, BMKG juga menginformasikan bahwa vorteks Borneo yang kini telah berkembang menjadi badai tropis, memiliki potensi untuk terus bertahan dan memberikan pengaruh selama dasarian atau sepuluh hari pertama bulan Desember 2025.
Di sisi lain, per Sabtu malam, BMKG juga mengeluarkan peringatan mengenai ancaman dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Koto. Pada saat itu, Siklon Tropis Koto terpantau berada sekitar 1.130 km di sebelah utara timur laut Natuna, dan diperkirakan terus bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Meskipun demikian, kekuatan anginnya masih mencapai 95 km/jam, menandakan potensi bahaya yang masih ada.
Dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Koto meliputi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Kalimantan Barat. Selain itu, di perairan Laut Natuna Utara, masyarakat dan pelayaran diimbau untuk sangat berhati-hati karena adanya potensi gelombang tinggi yang bisa mencapai 2,5 hingga 4,0 meter.
