
MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian meminta Bupati Aceh Selatan Mirwan M. S. segera kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, Mirwan diketahui sedang menjalani ibadah umrah di Arab Saudi saat wilayahnya dilanda banjir. Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Benni Irwan mengungkapkan permintaan Tito disampaikan langsung kepada Mirwan setelah informasi keberangkatan Mirwan viral dan menuai sorotan publik.
Pilihan Editor: Mengapa Elite Menjadikan Bencana Sebagai Panggung Pencitraan
“Pak Menteri langsung menghubungi Bupati dan meminta agar segera kembali ke Tanah Air. Tentu perlu ada proses teknis seperti pemesanan tiket, tapi intinya perintahnya adalah segera pulang,” kata dia saat dihubungi Jumat, 5 Desember 2025.
Benni mengatakan Kemendagri tidak menutup kemungkinan menjatuhkan sanksi kepada Mirwan setelah ia kembali. “Kasus ini akan ditindaklanjuti sesuai aturan. Bisa saja setelah kembali beliau dipanggil untuk dimintai klarifikasi. Hasil pemeriksaan yang akan menentukan bentuk sanksi bila ada,” ujar dia.
Kemendagri memastikan belum ada kepala daerah lain yang bepergian ke luar negeri saat bencana berlangsung. Menurut Benni, sebelumnya Tito Karnavian telah mengeluarkan surat edaran dan menggelar pertemuan virtual dengan seluruh kepala daerah. Isinya untuk mengingatkan kepala daerah agar fokus pada mitigasi bencana, pengendalian inflasi, dan persiapan Natal dan tahun baru.
Keberangkatan Bupati Aceh Selatan menjadi polemik saat daerahnya dilanda bencana. Mirwan tercatat mengajukan permohonan izin perjalanan luar negeri dengan alasan penting melalui surat bernomor 093/1334/2025 tertanggal 24 November 2025 yang dikirim kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Namun, Pemerintah Aceh menolak memproses izin tersebut karena status darurat bencana masih berlaku di tingkat provinsi maupun kabupaten, sebagaimana tertuang dalam surat balasan bernomor 100.1.4.2/18413 pada 28 November 2025.
Meski izin belum terbit, Mirwan tetap berangkat ke Tanah Suci. Hingga berita ini diturunkan, ia belum memberikan pernyataan resmi terkait keberangkatannya. Sementara itu, penanganan banjir dan longsor di Aceh Selatan masih berlangsung.
Adapun Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkap korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera tembus 800 jiwa, per Kamis, 4 Desember 2025, pukul 16.00 WIB. Bahkan Aceh merupakan daerah terbanyak menelan korban jiwa.
“Saya melaporkan bahwa hingga sore ini untuk jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa,” ucap Abdul Muhari dalam konferensi pers daring melalui kanal YouTube BNPB, Kamis sore 4 Desember 2025. Dalam laporan itu pula, sebanyak 518 jiwa dinyatakan hilang dan 2,7 ribu jiwa luka-luka.
BNPB merincikan, di Provinsi Aceh jumlah korban meninggal berjumlah 325 jiwa, sementara 170 orang masih dinyatakan hilang. Di Sumatera Utara, 311 orang telah ditemukan meninggal dan 127 orang hilang. Adapun di Sumatera Barat, tercatat 200 orang tewas dan 221 orang belum ditemukan.
