Asosiasi Asuransi minta anggota permudah klaim korban banjir Sumatera

ASOSIASI Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menerbitkan surat edaran untuk semua perusahaan yang menjadi anggota agar permudah persyaratan dokumen dalam klaim asuransi jiwa kepada korban banjir Sumatera. Pemegang polis yang dimaksud berada di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Advertisements

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengatakan, ini menyesuaikan kondisi para pemegang polis yang terdampak dan kemungkinan dokumen yang dibutuhkan rusak atau hilang. Ketentuan dalam surat itu juga telah dikomunikasikan bersama Otoritas Jasa Keuangan.

“Kami enggak bisa paksa, tapi kami mengimbau kepada anggota AAJI supaya tolong dicarikan solusi,” ujarnya saat konferensi pers di kantor AAJI pada Senin, 8 Desember 2025.

AAJI mengimbau kepada 56 perusahaan yang menjadi anggota supaya bersikap proaktif kepada pemegang polis. Sehingga perusahaan tidak hanya menunggu klaim asuransi dari pemegang polis yang baru saja dilanda bencana.

Advertisements

Budi mengatakan klaim asuransi jiwa ini penting bagi pihak keluarga yang menjadi ahli waris. Apalagi jika pemegang polis tersebut merupakan tulang punggung keluarga dan justru meninggal. “Emotional loss-nya tetap ada, tapi financial loss-nya bisa kita batasi,” ucapnya.

Dia menyampaikan bahwa asuransi jiwa juga penting untuk menggerakkan kembali perekonomian keluarga. Apalagi jika keluarga hanya pedagang kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Berbeda dengan skala industri besar yang kemungkinan besar akan bangkit kembali pasca musibah.

“Kalau memang ada proteksi asuransinya, diharapkan bisa memulai babak kedua dari kehidupan setelah banjir dengan manfaat asuransi yang dibayarkan,” kata Budi.

Saat ini, kata Budi, perusahaan anggota AAJI masih menghitung jumlah penerima manfaat akibat banjir Sumatera. Namun estimasi sementara biaya yang akan dicairkan mencapai Rp 50-100 miliar dan akan dibagikan kepada penerima manfaat sesuai ketentuan polis.

Sebagaimana diketahui, banjir dan longsor di tiga provinsi ini terjadi sejak akhir November lalu. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban tewas mencapai 961 orang per hari ini. Kemudian korban luka sebanyak lima ribu orang dan yang masih hilang sebanyak 293 orang.

Pilihan Editor: Bagaimana Pemerintah Mengatasi Minimnya Tenaga Kesehatan di Wilayah Bencana

Advertisements