
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti fakta mengejutkan bahwa Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Cilacap menempati posisi teratas sebagai daerah dengan jumlah korban longsor terbanyak di Jawa Tengah (Jateng) dalam satu dekade terakhir. Pengungkapan ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana di wilayah-wilayah rawan tersebut.
Tragedi terbaru mengguncang Cilacap pada Jumat (14/11), ketika longsor menerjang dan menyebabkan dampak serius. Dari 23 warga yang dilaporkan hilang, 16 di antaranya telah ditemukan meninggal dunia, sementara tujuh korban lainnya masih dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.
Tak berselang lama, Banjarnegara juga dilanda bencana serupa pada Minggu (16/11). Insiden longsor di daerah ini mengakibatkan tiga korban ditemukan meninggal dunia, sementara 27 warga lainnya dilaporkan masih hilang, memperpanjang daftar duka akibat fenomena alam ini.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, mengungkapkan bahwa berdasarkan catatan historis, pola kejadian longsor di Jateng secara konsisten terpusat di wilayah tengah hingga selatan provinsi tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya karakteristik geografis dan geologis yang spesifik di kawasan tersebut.
“Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi,” tegas Muhari dalam jumpa pers virtual yang dilaksanakan pada Senin (17/11). Peringatan ini menyoroti pentingnya upaya berkelanjutan dalam perbaikan lingkungan dan mitigasi bencana untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Data BNPB periode 2015–2024 secara konkret menunjukkan bahwa Banjarnegara memegang peringkat pertama sebagai wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia dan mengungsi tertinggi akibat tanah longsor. Selama kurun waktu tersebut, tercatat sebanyak 13.351 jiwa warga terpaksa mengungsi dan 330 orang kehilangan nyawa karena bencana ini.
Menyusul di posisi kedua adalah Kabupaten Cilacap, dengan 9.547 warga mengungsi dan 276 jiwa meninggal dunia akibat longsor. Selanjutnya, daftar daerah rawan ini diikuti oleh Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga, yang juga sering menjadi lokasi terjadinya bencana tanah longsor.
Abdul Muhari lebih lanjut menjelaskan bahwa longsor sering terjadi di wilayah perbukitan yang memiliki karakteristik struktur tanah gembur dan porositas tinggi. Kondisi ini membuat tanah rentan terhadap perubahan. “Sehingga ketika hujan turun dalam durasi lama, air mengisi rekahan dan memicu bidang luncuran tanah,” pungkas Muhari, memberikan penjelasan ilmiah di balik seringnya kejadian longsor di daerah-daerah tersebut.

Ringkasan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Cilacap sebagai daerah dengan jumlah korban longsor terbanyak di Jawa Tengah selama satu dekade terakhir. Baru-baru ini, Cilacap dilanda longsor yang menyebabkan 16 meninggal dan 7 hilang, diikuti Banjarnegara dengan 3 meninggal dan 27 hilang akibat bencana serupa.
Data BNPB periode 2015-2024 menunjukkan Banjarnegara memiliki 330 korban meninggal dan 13.351 pengungsi, sedangkan Cilacap mencatat 276 meninggal dan 9.547 pengungsi. Longsor sering terjadi di wilayah perbukitan dengan struktur tanah gembur dan porositas tinggi yang rentan saat hujan deras, sehingga BNPB menekankan urgensi perbaikan lingkungan dan mitigasi bencana berkelanjutan.
