Israel Serbu Umat Kristen Palestina yang di Hari Natal

PERAYAAN Natal di seluruh Palestina dan di Israel ditandai dengan kekerasan, penindasan, dan trauma berkepanjangan akibat perang Israel di Gaza. Kekerasan terjadi ketika komunitas Kristen Palestina sedang merayakan Natal di tengah pengepungan, pengawasan, dan pendudukan Israel.

Advertisements

Di kota Haifa bagian utara, suasana perayaan di lingkungan Kristen Palestina di Wadi al-Nisnas berubah menjadi kacau setelah polisi Israel menyerbu daerah tersebut. Polisi Israel menangkap dan memukuli warga, menurut rekaman dan keterangan saksi mata yang dibagikan secara daring.

Keluarga-keluarga yang sedang mempersiapkan Natal disambut dengan kekerasan dan penangkapan. Dilansir dari New Arab, insiden ini mencerminkan komunitas Palestina yang menjadi target rutin Israel, bahkan selama hari raya keagamaan.

Penindakan keras di Haifa terjadi ketika umat Kristen di seluruh Palestina merayakan Natal di tengah kehancuran akibat serangan Israel di Gaza dan semakin ketatnya cengkeraman kendali militer di Tepi Barat yang diduduki.

Advertisements

Di Betlehem, tempat kelahiran Yesus dan simbol identitas Kristen Palestina, Patriark Latin Yerusalem Pierbattista Pizzaballa berpesan kepada ribuan warga Palestina, baik Kristen maupun Muslim. Pizzaballa mengatakan bahwa pesan Natal tahun ini tidak dapat dipisahkan dari penderitaan dan ketahanan.

“Kita memutuskan untuk menjadi terang,” katanya. “Dan terang Betlehem adalah terang dunia.”

Bagi Georgette Jackaman, warga Bethlehem yang berprofesi sebagai pemandu wisata dari keluarga yang telah menetap di kota itu selama beberapa generasi, Natal kali ini membawa kesedihan sekaligus makna. Ini adalah perayaan Natal pertama yang sesungguhnya bagi kedua anaknya yang masih kecil.

Meskipun gencatan senjata di Gaza diumumkan pada bulan Oktober, kekerasan Israel di seluruh Tepi Barat belum berhenti. Pasukan Israel terus melakukan serangan hampir setiap hari, sementara serangan pemukim terhadap warga Palestina telah mencapai tingkat rekor, menurut PBB.

Seiring memburuknya kemiskinan, sekitar 4.000 orang telah meninggalkan Betlehem untuk mencari pekerjaan, kata para pejabat setempat, yang mempercepat erosi kehadiran umat Kristen di Palestina.

Saat ini, umat Kristen hanya berjumlah kurang dari dua persen dari populasi Tepi Barat. Angka ini banyak menurun disebabkan oleh pendudukan, pencekikan ekonomi, dan migrasi paksa.

Serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina telah mencapai tingkat tertinggi sejak kantor kemanusiaan PBB mulai mencatat data pada tahun 2006. Serangan tersebut melibatkan pembunuhan , pemukulan, dan perusakan properti, seringkali di bawah perlindungan militer Israel.

Sebelumnya, Al Jazeera melaporkan bahwa pada Rabu, lebih dari 570 pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki di bawah perlindungan polisi. Warga Palestina mengatakan bahwa serangan semacam itu melanggar status quo yang telah lama berlaku yang mengatur situs tersuci ketiga dalam Islam.

Advertisements