
Sebuah fenomena alam mengejutkan warga Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Sabtu siang, 27 Desember 2025. Hujan abu tipis sempat turun, menjadi pengingat akan aktivitas Gunung Merapi yang kembali memuntahkan awan panas guguran (APG). Peristiwa ini memicu kewaspadaan, meskipun dampaknya dilaporkan tidak signifikan.
Menurut penuturan Purwanto, seorang warga Dukuh Kadipiro, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, hujan abu mulai terasa sekitar pukul 13.00 WIB. Kejadian ini berlangsung sesaat setelah wilayah tersebut diguyur hujan air, menciptakan kombinasi yang tak biasa. “Tadi pas di luar rumah, kok ada abu. Tapi cuma sedikit,” ungkap Purwanto kepada awak media, Sabtu, 27 Desember 2025, menggambarkan momen singkat saat partikel vulkanik itu terasa.
Ia menambahkan bahwa hujan abu tersebut sangat singkat, hanya berlangsung sekitar lima menit, dan tidak meninggalkan endapan tebal yang berarti. “Hanya sekitar lima menit, bekasnya juga hampir tidak kelihatan,” imbuh Purwanto, menandakan dampak yang sangat minim dan tidak mengganggu aktivitas warga secara signifikan.
Konfirmasi mengenai fenomena ini turut disampaikan oleh Mawardi, Kepala Desa Cepogo. Ia membenarkan adanya laporan hujan abu di wilayahnya, khususnya di Dukuh Tumang dan beberapa desa lain yang berada di Cepogo bagian atas. “Iya, tadi memang sempat hujan abu, tapi hanya sebentar,” terang Mawardi, memperkuat kesaksian warga.
Lebih lanjut, Mawardi menjelaskan bahwa hujan abu tersebar di sejumlah desa yang berlokasi strategis di lereng Gunung Merapi. Desa-desa yang terdampak meliputi Wonodoyo, Jombong, Gedangan, Sukabumi, Genting, dan Desa Cepogo sendiri, mencerminkan jangkauan sebaran abu vulkanik dari aktivitas gunung.
Aktivitas Awan Panas Gunung Merapi
Dari informasi yang berhasil dihimpun, hujan abu ini tidak lepas dari aktivitas awan panas guguran (APG) Gunung Merapi yang terjadi dua kali pada Sabtu siang. Kejadian pertama terpantau pada pukul 11.21 WIB, di mana awan panas meluncur sejauh sekitar 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak. Saat itu, arah angin bertiup ke timur, membawa partikel abu vulkanik ke wilayah Cepogo.
Selang sepuluh menit kemudian, pada pukul 11.31 WIB, Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran. Kali ini, jarak luncur tercatat lebih jauh, mencapai sekitar 2.000 meter, dengan arah luncur yang sama, yakni ke barat daya atau hulu Kali Krasak, menunjukkan pola aktivitas yang berkelanjutan.
Meskipun demikian, hingga berita ini ditulis, belum ada laporan mengenai dampak signifikan yang ditimbulkan oleh hujan abu tipis ini. Pihak berwenang mengimbau warga untuk tetap waspada dan senantiasa mengikuti perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Merapi dari sumber terpercaya demi keselamatan bersama.
Di sisi lain, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNG Merapi) menegaskan bahwa jalur pendakian ke puncak masih ditutup sepenuhnya hingga saat ini. Larangan ini diberlakukan demi menjaga keselamatan pengunjung dan sebagai bagian dari langkah mitigasi risiko mengingat potensi bahaya yang masih ada.
Pilihan editor: Jarak Aman saat Wisata ke Lereng Gunung Merapi
