Pemerintah yakin inflasi akhir 2025 tak menekan daya beli

SEKRETARIS Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso optimistis laju inflasi 2,92 persen secara tahunan pada Desember 2025 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen.

Advertisements

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan inflasi pada penutupan 2025 ini tak menekan daya beli masyarakat. “Pemerintah menyakini bahwa kondisi saat ini tidak akan menyebabkan daya beli masyarakat tertekan,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 7 Januari 2025.

Di samping itu, Susiwijono mengatakan pemerintah akan menjaga konsumsi masyarakat. Caranya, pemerintah bakal memberikan bantuan sosial, perlindungan sosial, dan kebijakan fiskal untuk mendukung konsumsi seperti pajak pertambahan nilai, tranportasi, pangan, energi, dan sebagainya.

Selain itu, pemerintah pusat dan daerah serta Bank Indonesia akan tetap melaksanakan strategi 4K, yaitu Keterjangkaun Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Efektif. “Untuk memastikan pengendalian harga tetap terjaga dalam kisaran target,” katanya.

Advertisements

Menurut Susiwijono capaian inflasi dalam kisaran target ini terutama dari inflasi pangan yang didorong oleh meningkatnya permintaan selama musim libur sekolah serta Natal dan Tahun Baru. Namun, permintaan akhir tahun ini terjadi di tengah pasokan yang terbatas karena belum masuk masa panen. “Selain itu, gangguan pasokan dan distribusi juga berasal dari cuaca ektrem dan banjir khususnya di wilayah Sumatera,” kata dia.

Meski begitu, Susiwijono memastikan tekanan inflasi pangan tersebut cenderung bersifat sementara. Alasannya, efek musiman akhir tahun yang biasanya mereda setelah libur lewat, sementara gangguan distribusi akibat banjir akan menurun ketika jalur pasok pulih.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pemerintah perlu segera menahan laju inflasi agar tak semakin menekan daya beli masyarakat. Apalagi, penyumbang inflasi pada 2025 mayoritas dari komoditas pangan. “Terutama harga bahan-bahan yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat,” ujar Faisal saat dihubungi pada Senin, 5 Januari 2025.

Pada awal tahun depan, inflasi diprediksi berlanjut hingga semester I 2026. Kajian Tim Ekonomi Bank Mandiri dalam EconMark memproyeksikan inflasi pada Januari-Februari 2026 berada di kisaran 3,5-4,0 persen secara tahunan. Hingga akhir 2026, EconMark memproyeksikan inflasi berada di posisi 2,78 persen secara tahunan.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro peningkatan inflasi pada awal 2026 karena upah minimum, permintaan program Makan Bergizi Gratis, diskon listrik pada 2025, perayaan Idul Fitri, dan aneka pengeluaran rumah tangga yang meningkat, dan faktor musiman.

Meski diprediksi tak berlangsung lama, Andry mengatakan pemerintah harus menjaga distribusi dan harga pangan pada awal tahun. Sebab, tantangan inflasi sebenarnya kenaikan harga pangan. “Jadi solusinya adalah menjaga pasokan pangan apalagi di kuartal I saat ada puasa dan lebaran,” kata Andry, Selasa, 6 Januari 2025.

Dalam laporan BPS, inflasi ini terdorong oleh harga sebagian besar indeks pengeluaran meningkat. Inflasi terjadi pada komoditas cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, kopi bubuk, wortel, minyak goreng, sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, sewa rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, bensin, mobil, akademi / perguruan tinggi, dan emas perhiasan.

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi tahunan antara lain tomat, bawang putih, jengkol, daging babi, sabun cair/cuci piring, pengharum cucian / pelembut, sabun detergen bubuk, tarif kereta api, telepon seluler, dan Sekolah Menengah Atas.

Sementara itu, inflasi pada penutupan 2025 meningkat 0,64 persen secara bulanan dari posisi 0,44 persen pada 2023. Komoditas penyumbang inflasi bulanan ini dipicu naiknya harga cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur ayam ras, beras, minyak goreng, bawang putih, cabai hijau, sawi putih / pecay / pitsai, kangkung, bayam, kelapa, bensin, angkutan udara, angkutan antar kota, dan emas perhiasan. Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan hanya cabai merah.

Pilihan Editor: Pendorong Kenaikan Inflasi di Awal 2026

Advertisements