Prabowo senang swasembada pangan terealisasi lebih cepat dari target

Dalam kurun waktu yang menakjubkan, hanya satu tahun di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia telah mencatat tonggak sejarah dengan berhasil mencapai swasembada pangan. Pencapaian revolusioner ini bukan sekadar klaim, melainkan dibuktikan dengan rekor cadangan beras pemerintah yang melonjak hingga 3,2 juta ton, sebuah angka tertinggi sepanjang sejarah bangsa ini.

Advertisements

Awalnya, target ambisius swasembada pangan diproyeksikan dalam empat tahun. Namun, berkat sinergi yang kuat dan kerja keras dari berbagai pihak, Indonesia berhasil melampaui ekspektasi tersebut jauh lebih cepat. “Ketika saya dilantik, saya memberikan target empat tahun untuk mencapai swasembada pangan. Terima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras, bersatu, dan kompak. Dalam satu tahun, kita sudah mencapai swasembada. Dalam satu tahun, kita sudah berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak lagi bergantung pada bangsa lain,” tegas Prabowo dalam pidatonya di acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang pada Rabu (7/1), sebagaimana dilansir oleh Badan Komunikasi Pemerintah.

Keberhasilan luar biasa ini menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang lebih kuat, berdaulat, dan mandiri. Menurut Prabowo, kemandirian pangan adalah fondasi vital yang tak bisa ditawar demi kelangsungan hidup dan kemajuan suatu negara. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk mengelola sumber dayanya sendiri demi kesejahteraan rakyat.

Presiden menambahkan, Indonesia pernah berada di ambang krisis pangan akibat ketergantungan masif pada impor pangan. Masa pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga, di mana kesulitan pasokan beras dari luar negeri mengancam stabilitas nasional. Oleh karena itu, pencapaian swasembada pangan ini hadir pada saat yang paling relevan dan tepat, menjadi pilar utama di tengah ketidakpastian global, serta mengukuhkan langkah besar menuju ketahanan nasional.

Advertisements

“Tidak mungkin sebuah bangsa bisa merdeka jika pangan masih tergantung pada bangsa lain. Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga, sebuah peringatan bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada negara lain, terutama untuk pangan dan energi,” tandasnya. Pernyataan ini menegaskan filosofi dasar bahwa kedaulatan sejati berakar pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan esensial secara mandiri.

Tak hanya di sektor pangan, Prabowo juga menaruh keyakinan besar bahwa Indonesia mampu meraih kemandirian energi, mengingat kekayaan alam yang melimpah ruah. Kuncinya, ia menjelaskan, terletak pada pengelolaan yang bijaksana serta perhatian yang serius terhadap kesejahteraan petani dan nelayan sebagai ujung tombak produksi nasional. “Bagaimana mungkin negara sebesar Indonesia, dengan tanah yang subur, masih bergantung pada negara lain untuk pangan? Impor pangan tidak masuk akal bagi saya. Saya tidak habis pikir mengapa petani dan nelayan kita selama ini kurang dihargai, tidak dilindungi, dan kurang dibela,” kritiknya, menyoroti pentingnya penghargaan terhadap para pahlawan pangan.

Menatap ke depan, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan keberlanjutan swasembada pangan. Langkah-langkah konkret akan diambil untuk menurunkan harga pangan dan biaya produksi pertanian, sekaligus memastikan bahwa seluruh hasil panen dapat dinikmati secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Indonesia. Ini baru awal. Kami akan terus menjaga, mengulang, dan mempertahankan swasembada pangan setiap tahun,” pungkas Prabowo dengan optimisme, menandaskan bahwa pencapaian ini adalah landasan untuk masa depan Indonesia yang lebih kuat dan berdaulat.

Advertisements