Kronologi balita di Majene muntah-diare usai santap MBG

SILVIA terbangun dari tidur sekitar pukul 00.30 WITA ketika anak laki-lakinya yang berusia dua tahun muntah-muntah di penghujung malam, Selasa, 13 Januari 2026. “Tiga kali muntah di rumah langsung dilarikan ke puskesmas,” kata perempuan berusia 38 tahun ini saat Tempo hubungi.

Advertisements

Mundur sekitar tujuh jam sebelum kejadian, Silvia bercerita anaknya sempat menyantap hidangan dari program makan bergizi gratis (MBG). Makan tersebut diantar ke rumahnya sekitar pukul lima sore waktu setempat atau Senin, 12 Januari 2026.

Sejak berstatus sebagai penerima manfaat MBG pada awal Januari ini, Silvia kerap mendapat makanan pada sore hari. Kondisi itu berbeda dengan anak sekolah yang menerima pada waktu makan siang.

Silvia mengatakan tidak sempat mencicipi makanan yang terdiri dari nasi putih, mi goreng, ayam suwir, dan potongan buah semangka. Sesaat makanan tiba, perempuan warga Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat itu mengatakan anaknya langsung melahap hidangan itu.

Advertisements

Sekitar pukul tujuh malam waktu setempat, Silvia mengatakan anaknya kembali menyantap sisa MBG. Anaknya kemudian tidur sekitar pukul sepuluh malam.

Di tengah malam, Silvia mengatakan anaknya terbangun dan memuntahkan isi perutnya. Ia kemudian membawa anaknya ke puskesmas karena kondisinya nampak lemah. Ia bercerita ketika hendak pergi ke puskesmas, anak tetangganya mengalami hal serupa. “Tetangga di samping rumah ternyata anaknya juga muntah-muntah pada saat itu,” tutur dia.

Hingga saat ini, Silvia menjelaskan anaknya masih terbaring di kasur puskesmas. Ia mengatakan anaknya tidak lagi mengalami muntah. Namun kini diare.

Silvia mengatakan petugas puskesmas belum menyimpulkan penyebab anaknya mengalami muntah-muntah. Silvia mengatakan tim medis masih mencari penyebabnya. “Apakah betul keracunan atau bagaimana,” ujar dia.

Sementara itu, Camat Tubo Sendana Abdul Azis mengatakan sudah melakukan mediasi antara penerima manfaat dan sejumlah pihak program MBG di kantornya, pada Selasa, 13 Januari 2026.

Abdul menjelaskan dalam mediasi itu penerima manfaat mendesak perubahan waktu pengiriman MBG. Ia mengatakan penerima manfaat menginginkan agar pengiriman makan bergizi gratis dilakukan sama seperti ketika SPPG mengirimkan ke sekolah. “Jam 10 (pagi),” kata Abdul saat dihubungi.

Soal kasus keracunan, Abdul mengatakan belum ada kesimpulan atas penyebab penerima manfaat MBG mengalami sakit dan dilarikan ke puskesmas. Tempo berupaya mengonfirmasi kasus dugaan keracunan di Kabupaten Majene kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang. Namun hingga artikel ini terbit, Nanik belum menjawab pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp.

Sebanyak 50 orang terkonfirmasi mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Mayoritas korban merupakan balita, berdasarkan data awal yang dihimpun tim surveilans dinas kesehatan setempat.

Data Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat mencatat hingga Selasa, 13 Januari 2026 pukul 16.00 waktu setempat, 40 orang masih dalam penanganan fasilitas kesehatan. Rinciannya, sembilan orang dirawat di rumah, satu orang dinyatakan sembuh, dan tidak ada pasien yang dirujuk ke rumah sakit.

Hubungan masyarakat Puskesmas Majene membenarkan bahwa sebagian besar korban merupakan anak balita. “Rata-rata korban adalah balita. Untuk ibu hamil, masih kami cek kembali untuk validasi data,” kata petugas Humas Puskesmas Majene saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Tim surveilans bersama dinas kesehatan telah mengambil sampel muntahan korban serta sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan. Berdasarkan pendataan awal, menu MBG yang dikonsumsi korban meliputi nasi putih, ayam suwir, mi kecap, sayur sop, tahu kuning, dan buah semangka.

Pengambilan sampel makanan dilakukan di Bank Sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majene Tubo Sendana Onang oleh petugas kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Majene. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tersebut mulai dilakukan pada 13 Januari 2026.

Dinas kesehatan mencatat sejumlah gejala yang dialami korban sebelum mendapatkan penanganan medis, antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, sakit kepala, demam, serta turgor kulit yang jelek. Dugaan sementara, keracunan berasal dari makanan MBG yang didistribusikan oleh SPPG Majene Tubo Sendana Onang yang dikelola Yayasan Kreatif Jaya Perdana dan dibagikan di sekolah serta posyandu.

Hingga kini, dinas kesehatan setempat belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa tersebut. Tim surveilans dan dinkes setempat masih melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan sumber dan pola penyebaran kasus sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.

Dinda Shabrina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Belanja MBG Mubazir untuk Sendok Bebek dan Seragam Dapur

Advertisements