Outflow asing jadi pemberat, rupiah masih berisiko tertekan di awal pekan

Solderpanas – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan menunjukkan pergerakan yang volatil pada awal pekan mendatang. Kondisi ini didorong oleh sentimen arus modal keluar asing yang belum mereda, serta padatnya agenda rilis data ekonomi penting pada minggu pertama Februari.

Advertisements

Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (30/1/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot gagal keluar dari tekanan. Rupiah berakhir di level Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai pelemahan sebesar 0,18% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.755 per dolar AS. Senada, kurs rupiah Jisdor juga mencatatkan pelemahan dua hari berturut-turut, dengan penurunan 0,06% menjadi Rp 16.796 per dolar AS pada hari Jumat.

Menurut Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan rupiah kali ini utamanya dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi penurunan kelas pasar saham Indonesia. “Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh outflow dana asing yang dipicu kekhawatiran downgrade kelas pasar IHSG ke frontier. Adapun Goldman Sachs telah men-downgrade IHSG ke underweight,” jelas Lukman kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Lukman menambahkan bahwa sentimen ini tidak bersifat sementara, melainkan berpotensi terus membebani pergerakan rupiah dalam beberapa hari hingga satu pekan ke depan. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan ini bukan berarti rupiah tidak berdaya di hadapan dolar AS. Tekanan eksternal dan arus modal keluar memang membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Advertisements

Menyongsong perdagangan awal pekan pada Senin (2/2/2026), investor diimbau untuk mencermati serangkaian data ekonomi krusial yang berpotensi memicu volatilitas di pasar mata uang. Seperti biasa di awal bulan, pekan pertama Februari akan dipenuhi dengan rilis data, khususnya dari Amerika Serikat.

Dari AS, fokus pelaku pasar akan tertuju pada data aktivitas manufaktur ISM serta laporan ketenagakerjaan, yaitu Non-Farm Payrolls (NFP). Kedua data ini akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, sekaligus mempengaruhi pergerakan dolar AS secara global. Sementara itu, dari dalam negeri, investor juga akan memantau sejumlah indikator utama seperti neraca perdagangan, data pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV 2025, dan perkembangan transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Dengan kombinasi sentimen outflow dan agenda data ekonomi yang padat, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp 16.700 hingga Rp 16.850 per dolar AS.

Advertisements