
PERSATUAN Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia pada Sabtu, 3 Januari 2026. Juru taktik asal Inggris itu dinilai memiliki kualifikasi paling ideal untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Patrick Kluivert.
Namun bagi PSSI, Herdman bukan sekadar pelatih dengan rekam jejak internasional. Ia juga dipandang sebagai sosok dengan kisah hidup inspiratif dan sebuah perjalanan yang kerap disebut sebagai contoh nyata overachievement.
Seperti dikutip dari Skor.id, Herdman tumbuh di Consett, wilayah industri di timur laut Inggris. Ia lahir dari keluarga pekerja keras. Kakek dan ayahnya bekerja di pabrik baja. Lingkungan tersebut membentuk karakter dan pandangannya tentang hidup seperti nilai ketahanan, kepercayaan, dan persaudaraan yang kelak menjadi fondasi filosofi kepelatihannya.
Karier Herdman dimulai dari bawah. Ia mengajar paruh waktu sambil melatih tim-tim usia muda. Pada 2001, ia meninggalkan Inggris menuju Selandia Baru, membawa serta istrinya, Clare, kekasih masa kecil yang telah mendampinginya sejak usia 16 tahun. Dukungan keluarga, termasuk dua anak mereka, Lilly dan Jay, menjadi jangkar penting dalam perjalanannya.
Dari jalur inilah Herdman mencatatkan sejarah. Ia menjadi satu-satunya pelatih di dunia yang berhasil membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara lolos ke Piala Dunia. Bersama Kanada, Herdman membangun sistem yang berkelanjutan dan melahirkan generasi baru pemain, termasuk Alphonso Davies.
Keputusan Herdman menerima tawaran Indonesia disebut bukan pilihan biasa. Di tengah berbagai pendekatan dari negara lain, ia justru memilih tantangan di Asia Tenggara. “Indonesia bukan sekadar pekerjaan. Ini panggilan untuk transformasi,” kata Herdman dalam pertemuan perdananya dengan PSSI pada pertengahan Desember lalu.
Ia menyebut melihat potensi besar dalam sepak bola Indonesia dari gairah publik yang kuat dan kerinduan panjang akan prestasi. Pilihan itu menegaskan bahwa Herdman mencari lebih dari sekadar kemenangan di lapangan. Ia menginginkan proyek dengan dampak sosial dan budaya yang luas.
Mantan pelatih Toronto FC tersebut memandang Timnas Indonesia sebagai kanvas untuk membangun warisan jangka panjang. Ia dikenal sebagai arsitek yang mampu menyelaraskan pengembangan bakat dari level akar rumput hingga tim nasional, melalui konsep One Team, pendekatan yang dinilai relevan dengan keragaman budaya dan talenta Indonesia.
Herdman juga menegaskan sikapnya terhadap identitas lokal. “Saya tidak datang untuk memaksakan budaya asing. Saya datang untuk menggali dan memuliakan budaya sepak bola Indonesia,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya membangun persaudaraan di dalam tim, di mana seluruh pemain, baik lokal maupun naturalisasi, merasa dihargai dan memiliki tujuan yang sama. “Kami akan membangun identitas Garuda yang kuat secara taktik dan tidak terkalahkan dalam semangat,” kata Herdman.
Pilihan Editor: Mengapa PSSI Memilih John Herdman Menjadi Pelatih Timnas
