Aturan iklim ketat bisa melemahkan motivasi ramah lingkungan

UPAYA dalam menanggulangi perubahan iklim seringkali diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan mobil pribadi, menghemat energi di rumah, atau mengubah pola makan. Banyak individu yang secara sadar dan sukarela telah menerapkan kebiasaan-kebiasaan ini sebagai bentuk dukungan mereka terhadap kelestarian lingkungan.

Advertisements

Namun, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Sustainability mengungkapkan paradoks yang menarik. Ketika kebiasaan-kebiasaan baik ini diubah menjadi aturan wajib oleh pemerintah, dukungan publik justru cenderung menurun.

Peneliti dari Santa Fe Institute Amerika Serikat, Katrin Schmelz, menjelaskan dalam studinya bahwa kontrol yang terlalu berlebihan dari pihak eksternal seperti pemerintah justru menurunkan minat masyarakat untuk ikut andil dalam aksi iklim tersebut. “Kebijakan dapat mengubah nilai-nilai mendasar seseorang,” katanya seperti dikutip Earth pada Rabu, 31 Desember 2025.

Para peneliti menemukan bahwa kebijakan iklim yang bersifat memaksa juga dapat menjadi bumerang bagi motivasi masyarakat. Alih-alih memperkuat komitmen, aturan yang dirancang dengan pendekatan kontrol ketat justru berpotensi mengikis nilai-nilai lingkungan yang sudah tertanam dalam diri individu.

Advertisements

Fenomena psikologis ini dikenal sebagai crowding out, di mana kontrol eksternal dari pemerintah justru mendesak keluar motivasi internal seseorang. Ketika warga merasa otonomi mereka terancam atau hilang karena aturan yang kaku, timbul reaksi penolakan yang disebut sebagai control aversion atau keengganan terhadap kontrol. Akhirnya memicu resistensi terhadap kebijakan tersebut.

Studi ini memberikan contoh perbandingan antara kebijakan Covid-19 lalu. Menurut peneliti, penolakan terhadap mandat iklim tampak 52 persen lebih tinggi daripada penolakan terhadap pengendalian pandemi. Hal ini menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan bahwa pendekatan paksa tidak selalu efektif.

Menurut studi ini, kunci keberhasilan jangka panjang terletak pada perancangan kebijakan yang cerdas tapi tetap menghormati kebebasan individu. Selain itu, juga memberikan alternatif yang realistis, seperti transportasi umum yang andal sebelum membatasi kendaraan pribadi, dan membangun kepercayaan bahwa aturan tersebut benar-benar efektif mengurangi emisi, bukan sekadar simbolis belaka.

Namun perlu dipahami bahwa tidak semua kebijakan menimbulkan penolakan yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan tentang efektivitas memainkan peran kunci. Ketika masyarakat percaya bahwa suatu kebijakan benar-benar mengurangi emisi, penentangan akan berkurang.

Pilihan Editor: Bisakah Kembang Api Tahun Baru Lebih Ramah Lingkungan

Advertisements