
Wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dilanda bencana banjir dan tanah longsor parah dalam beberapa hari terakhir akibat cuaca ekstrem. Peristiwa memilukan ini telah menyebabkan terputusnya akses jalan vital ke berbagai kota dan kabupaten, melumpuhkan jaringan listrik serta komunikasi di sejumlah area terdampak. Tragedi ini juga telah menelan korban jiwa dan mengakibatkan kerusakan serius pada infrastruktur serta bangunan.
Pemerintah Kerahkan 11 Helikopter Distribusi Bantuan untuk Bencana Sumatera
Menanggapi krisis yang terjadi, pemerintah pusat telah mengambil langkah cepat dengan mengirimkan sebelas helikopter dari Jakarta. Armada ini dikerahkan untuk mempercepat penanganan bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 29 November 2025, menegaskan, “Sampai dengan hari ini, pemerintah telah mengirimkan total 11 helikopter TNI dan Basarnas dari Jakarta ke lokasi daerah terdampak bencana.” Upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan bantuan banjir dan logistik dapat menjangkau seluruh area yang terisolasi.
Menteri Pertahanan Soroti Kondisi Wilayah Terdampak yang Memprihatinkan
Kondisi di lapangan mendapat perhatian serius dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Saat meninjau situasi di wilayah Aceh pada Sabtu, 29 November 2025, ia menyebut bahwa beberapa wilayah banjir berada dalam titik kritis. Menurutnya, kondisi ini membutuhkan intervensi segera untuk distribusi bantuan dan dukungan logistik yang memadai. “Saya melihat situasi ini memprihatinkan dan memerlukan bantuan cepat hari ini sampai seterusnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, menggarisbawahi urgensi penanganan kemanusiaan.
Jumlah Korban Jiwa Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Terus Bertambah
Dampak paling tragis dari bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera adalah jatuhnya korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam melaporkan bahwa 74 orang telah meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Data per 28 November 2025, pukul 20.00 WIB, menunjukkan bahwa korban jiwa ini tersebar di lima kecamatan, dengan Kecamatan Palembayan menjadi daerah terparah dengan 27 korban meninggal. Kepala Pusat Data Informasi BPBD, Abdul Muhari, pada 29 November 2025, menjelaskan bahwa dari total tersebut, 21 korban telah berhasil teridentifikasi, sementara enam lainnya masih dalam proses identifikasi.
Banjir Sumatera: Alarm Merah Dampak Perusakan Hutan dan Energi Ekstraktif
Di balik cuaca ekstrem, analisis mendalam menunjukkan adanya faktor lain yang memperparah banjir bandang di berbagai wilayah di Pulau Sumatera. Peneliti Bidang Hukum Lembaga The Indonesian Institute Center for Public Policy Research, Christina Clarissa Intania, menekankan bahwa penyebab banjir bukan hanya curah hujan tinggi atau siklon tropis semata. Ia menyoroti minimnya area resapan akibat masifnya perusakan hutan yang terkait dengan aktivitas energi ekstraktif. Kondisi hutan yang tidak prima membuat ekosistem tidak optimal dalam menahan air hujan. “Cuaca memang sangat memengaruhi situasi banjir. Namun, jika hutan-hutan kita di Sumatera dalam kondisi prima, ada kemungkinan banjir sebesar ini bisa dicegah,” kata Christina melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu, 29 November 2025.
Pola Hujan Unik di Kawasan Utara Sumatera: Penjelasan Ilmiah ITB
Sementara itu, pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan perspektif ilmiah mengenai fenomena banjir ini. Menurut Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, bencana dapat terjadi karena tiga faktor utama: atmosfer, kondisi geospasial, dan kapasitas tampung wilayah. Ia mengungkapkan bahwa karakteristik curah hujan di wilayah utara Sumatera berbeda dengan daerah lain di Indonesia, menunjukkan adanya pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun. “Dan saat ini berada pada puncaknya,” jelas dosen dari kelompok keahlian sains atmosfer itu, seperti dikutip dari laman ITB pada Jumat, 28 November 2025, menjelaskan mengapa curah hujan tinggi di Sumatera Utara saat ini begitu signifikan.
Eka Yudha Saputra dan Ervana Trikarinaputri, Anwar Siswandi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Mengapa Banjir Besar Sumatera Belum Menjadi Darurat Nasional
Ringkasan
Beberapa wilayah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dilanda bencana banjir serta tanah longsor parah akibat cuaca ekstrem pada akhir November 2025. Peristiwa ini menyebabkan putusnya akses jalan, gangguan listrik dan komunikasi, serta menelan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Pemerintah merespons cepat dengan mengirimkan sebelas helikopter untuk distribusi bantuan ke daerah terdampak, sebagaimana disampaikan Sekretaris Kabinet dan disoroti oleh Menteri Pertahanan.
Dampak tragis terlihat dari bertambahnya korban jiwa, dengan 74 orang meninggal di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, per 28 November 2025. Selain cuaca ekstrem, para ahli menyoroti perusakan hutan akibat aktivitas energi ekstraktif yang mengurangi area resapan air. Pakar ITB menambahkan, pola hujan unik di utara Sumatera, yang saat ini mencapai puncaknya, turut berkontribusi pada intensitas bencana ini.
