Data terkini korban bencana Sumatera: 883 meninggal, 518 hilang


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis pemutakhiran data terkini mengenai dampak bencana ekologis dahsyat yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 25 November lalu. Berdasarkan akses pada Geoportal Data Bencana Indonesia milik BNPB per Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 06.58 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat tragedi ini telah menembus angka 883 jiwa, menunjukkan peningkatan signifikan sebanyak 47 korban hanya dalam kurun waktu satu hari.

Advertisements

Selain korban jiwa yang terus bertambah, laporan yang sama juga mengindikasikan bahwa 520 jiwa masih dinyatakan hilang, dengan penambahan dua orang dari data sehari sebelumnya. Situasi korban luka-luka pun tak kalah memprihatinkan, di mana angkanya melonjak dua kali lipat dari semula 2.200 menjadi 4.200 orang pada Sabtu pagi, menggarisbawahi skala penderitaan yang meluas di wilayah terdampak.

Pilihan Editor: Mengapa Elite Menjadikan Bencana Sebagai Panggung Pencitraan

BNPB merinci lebih lanjut data korban di masing-masing provinsi terdampak. Di Provinsi Aceh, tercatat 345 jiwa meninggal dunia dan 174 orang masih dalam pencarian. Sementara di Sumatera Utara, 312 orang dilaporkan tewas dan 133 orang lainnya belum ditemukan. Kondisi serupa terjadi di Sumatera Barat, dengan 226 jiwa meninggal dunia dan 213 orang masih dinyatakan hilang.

Advertisements

Dampak bencana ekologis ini menyebar luas, meliputi 51 kabupaten/kota di seluruh Pulau Sumatera. Kerugian materiil yang ditimbulkan sangat besar; hingga saat ini, setidaknya 121 ribu rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Tidak hanya itu, 1.100 fasilitas umum, 270 fasilitas kesehatan, 509 fasilitas pendidikan, 338 rumah ibadah, 221 gedung atau kantor, serta 405 jembatan juga porak-poranda akibat terjangan air bah dan tanah longsor, melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Menanggapi dinamika data korban yang terus berubah, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa proses verifikasi dan validasi telah diperketat. Langkah ini diambil menyusul adanya perbedaan laporan yang terdeteksi pada dasbor daring. Abdul Muhari menegaskan bahwa angka yang dipublikasikan dalam laman geoportal ini saat ini telah melalui koreksi menyeluruh berdasarkan laporan-laporan yang masuk secara online.

Abdul Muhari juga menambahkan bahwa BNPB terus berkoordinasi erat dengan berbagai pihak, termasuk Kodam Iskandar Muda, Kodam Aceh, dan Lanud Sultan Iskandar Muda. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan operasi pencarian dan penyelamatan para korban yang masih hilang, seperti yang disampaikannya pada Rabu, 3 Desember lalu.

Saat ini, seluruh upaya pencarian, penyelamatan, dan penanganan darurat tetap terfokus di tiga provinsi yang menjadi episentrum bencana, dengan perhatian khusus pada situasi di Aceh. Namun, akses menuju beberapa wilayah terdampak masih menjadi tantangan besar. Hal ini disebabkan oleh parahnya kerusakan infrastruktur serta intensitas hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda stabil, semakin mempersulit upaya bantuan dan pemulihan.

Ervana berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Advertisements