
GUBERNUR Jakarta Pramono Anung secara resmi memulai babak baru penataan kawasan vital ibu kota, Jalan H.R. Rasuna Said, pada Rabu, 14 Januari 2026. Langkah monumental ini diawali dengan pembongkaran tiang-tiang monorel yang telah mangkrak selama hampir 22 tahun, sebuah simbol fasilitas publik yang terbengkalai dan kini akan direvitalisasi.
Pramono Anung menjelaskan bahwa upaya penataan ini merupakan bagian integral dari komitmen Pemerintah Provinsi Jakarta untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas fasilitas publik yang sudah lama terlantar. “Kami melakukan penataan Jalan Rasuna Said yang dimulai dengan memotong tiang monorel yang sudah menginjak 22 tahun usianya,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Selatan pada Rabu siang, menandai dimulainya era baru infrastruktur di Jakarta.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut merinci aspek finansial proyek ini. Biaya pemotongan tiang-tiang tersebut tergolong efisien, hanya menelan anggaran Rp 254 juta. Namun, anggaran keseluruhan untuk penataan Jalan Rasuna Said diperkirakan mencapai Rp102 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan menyeluruh yang meliputi perbaikan jalan, saluran air, penataan taman, hingga optimalisasi utilitas kota, menciptakan kawasan yang lebih modern dan fungsional.
Secara total, terdapat 109 tiang monorel yang membentang di sepanjang Jalan Rasuna Said. Seluruh tiang-tiang ini akan dibongkar dan kawasan tersebut akan ditata ulang untuk menciptakan tampilan yang lebih rapi dan tertata. Gubernur Pramono Anung meyakini bahwa inisiatif penataan ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas jalan secara signifikan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi solusi efektif dalam mengurangi permasalahan kemacetan Jakarta di area tersebut.
Demi meminimalisir gangguan terhadap aktivitas warga dan lalu lintas harian, proses pembongkaran tiang-tiang monorel akan dilaksanakan secara eksklusif pada malam hari. Pramono Anung dengan tegas memastikan bahwa tidak akan ada penutupan jalur lalu lintas selama pengerjaan berlangsung, menegaskan komitmen Pemprov Jakarta untuk kenyamanan publik. “Pengerjaannya akan dilakukan pada malam hari sehingga tidak ada penutupan jalur,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Pramono Anung telah melayangkan surat resmi kepada PT Adhi Karya, memberikan tenggat waktu satu bulan sejak surat diterima untuk memulai pembongkaran tiang. Dengan ketegasan, Pramono menyatakan bahwa jika batas waktu tersebut tidak dipenuhi, Pemprov Jakarta tidak akan ragu untuk mengambil alih dan membongkar sendiri tiang-tiang monorel tersebut.
Lebih lanjut, Pramono mengungkapkan bahwa segala persoalan hukum terkait pembongkaran telah rampung, didukung oleh adanya surat resmi dari Kejaksaan Tinggi Jakarta. Komunikasi dengan PT Adhi Karya akan terus berjalan sepanjang proses penataan, termasuk koordinasi terkait penyerahan besi-besi hasil pembongkaran yang akan dikelola tanpa melibatkan kontraktor khusus, menunjukkan efisiensi dalam pelaksanaan.
Prioritas utama pembongkaran tiang monorel saat ini berfokus di kawasan Rasuna Said. Setelah tuntas di lokasi ini, Pemprov Jakarta akan melakukan evaluasi terhadap tiang-tiang monorel yang berada di kawasan Senayan. Menurut Pramono, sebagian tiang di Senayan akan dibongkar, sementara sebagian lainnya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan inovatif seperti pemasangan perangkat video drone dan media reklame, mencerminkan visi jangka panjang pemanfaatan aset kota.
Pilihan Editor: Mengapa Tiang Monorel Jakarta Akhirnya Dibongkar
Ringkasan
Gubernur Jakarta Pramono Anung pada 14 Januari 2026 memulai pembongkaran tiang-tiang monorel di Jalan H.R. Rasuna Said yang telah mangkrak selama hampir 22 tahun. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jakarta merevitalisasi fasilitas publik dan menata kawasan tersebut secara menyeluruh. Proyek penataan jalan ini diperkirakan menelan anggaran Rp 102 miliar, termasuk perbaikan jalan, saluran air, dan taman, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas jalan serta mengurangi kemacetan.
Total ada 109 tiang monorel yang akan dibongkar, dengan biaya pemotongan tiang sebesar Rp 254 juta. Proses pembongkaran akan dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan lalu lintas, tanpa penutupan jalur. Setelah rampung di Rasuna Said, Pemprov Jakarta akan mengevaluasi tiang-tiang monorel di Senayan, di mana beberapa akan dibongkar dan sisanya akan dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti perangkat video drone.
