Musibah melanda Kabupaten Bireuen, Aceh, setelah Jembatan Juli, infrastruktur vital yang menghubungkan akses utama Bireuen-Takengon, ambruk total. Jembatan ini tidak mampu menahan terjangan derasnya banjir bandang yang melanda kawasan tersebut, mengakibatkan lumpuhnya jalur transportasi darat dan memutus akses bagi ribuan warga.
Di tengah keterputusan akses ini, inisiatif transportasi darurat yang unik muncul sebagai solusi. Warga kini bergantung pada sebuah kotak besi yang didesain khusus, beroperasi layaknya sistem flying fox, untuk menyeberangi sungai. Alat sederhana namun krusial ini menjadi satu-satunya jembatan penghubung bagi masyarakat yang ingin beraktivitas.
Kotak besi ini tidak hanya menopang individu, melainkan dirancang untuk mengangkut hingga tiga orang dewasa sekaligus atau sejumlah barang, memastikan mobilitas tetap berjalan di tengah kondisi darurat. Kehadiran sarana vital ini telah menjadi tulang punggung aktivitas warga dan pergerakan logistik sejak Jembatan Juli putus pada 26 November 2025, akibat luapan dahsyat Sungai Peusangan yang memorakporandakan area sekitar.
