Harga minyak dunia menguat, ancaman Trump ke Iran jadi pemicu

JAKARTA – Harga minyak dunia terus menunjukkan ketahanan di level tinggi, memasuki fase bullish yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga komoditas ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang membayangi kawasan Timur Tengah, memicu kekhawatiran serius di pasar global terkait potensi gangguan pada pasokan minyak dan jalur logistik vital.

Advertisements

Merujuk data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (30/1/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2026 tercatat di New York Mercantile Exchange mencapai US$65,21 per barel. Angka ini merefleksikan lonjakan impresif sebesar 13,57% secara bulanan. Sementara itu, harga minyak Brent juga mengalami kenaikan signifikan, bertengger di level US$69,3 per barel, atau menguat 13,92% dalam periode bulanan yang sama.

Menurut Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, pemicu utama di balik meroketnya harga minyak belakangan ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik. Secara spesifik, ancaman-ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran telah menciptakan sentimen ketidakpastian yang kuat di pasar komoditas. Lukman menjelaskan bahwa sentimen ini bukan hanya berpotensi mengganggu produksi minyak di Iran, tetapi juga dikhawatirkan akan memicu disrupsi serius pada jalur logistik di seluruh kawasan strategis tersebut.

Lukman lebih lanjut memproyeksikan bahwa prospek harga minyak sepanjang tahun 2026 akan sangat bergantung pada dinamika perkembangan situasi di Iran. Apabila eskalasi konflik benar-benar terjadi dan berkelanjutan dalam jangka panjang, ia memperkirakan harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi, bahkan dapat melonjak lebih jauh. Namun, Lukman juga mengingatkan bahwa pergerakan harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh seberapa cepat dan efektif proses eskalasi atau penyelesaian konflik tersebut. Jika ketegangan mereda dalam waktu relatif singkat, tidak menutup kemungkinan harga minyak akan kembali terkoreksi dalam beberapa bulan berikutnya, seiring pemulihan kondisi pasar.

Advertisements

Dalam konteks pasokan minyak global, Lukman menilai bahwa OPEC+ sejatinya masih memiliki kapasitas untuk menutupi potensi kekurangan suplai jika produksi Iran terganggu. Namun, fokus kekhawatiran utama pasar komoditas justru terletak pada ancaman gangguan berkepanjangan terhadap jalur distribusi dan logistik minyak yang krusial di kawasan Timur Tengah, yang dampaknya bisa jauh lebih kompleks dan meluas.

Bagi para investor, komoditas minyak memang tetap menarik untuk dicermati tahun ini, namun dengan catatan penting bahwa pasar ini sangat sarat dengan spekulasi dan volatilitas yang ekstrem. Lukman menekankan perlunya investor untuk menyiapkan beragam skenario. Hal ini dikarenakan harga minyak seringkali bergerak secara tidak linier atau sulit diprediksi seiring dengan dinamika geopolitik yang cepat berubah, membutuhkan strategi adaptif dalam menghadapi ketidakpastian.

Untuk menggambarkan kompleksitas pasar ini, Lukman mencontohkan kasus Irak di masa lalu. Meskipun invasi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya berhasil dalam waktu yang relatif singkat, pemulihan jalur logistik minyak memerlukan waktu lebih dari satu tahun, dan pemulihan produksi minyak bahkan membutuhkan waktu lebih dari lima tahun. Ironisnya, setelah sempat melonjak 50%-100% sebelum invasi, harga minyak justru kembali normal saat invasi berlangsung, menunjukkan sifat pasar yang tidak selalu logis dan sulit ditebak.

Oleh karena itu, Lukman menekankan bahwa skenario Irak tidak dapat serta-merta diterapkan pada situasi Iran saat ini, mengingat karakter dan potensi dampak konflik yang mungkin jauh berbeda. Untuk proyeksi harga minyak pada kuartal I 2026, Lukman menyampaikan bahwa kisaran pergerakan akan sangat ditentukan oleh sejauh mana eskalasi geopolitik berkembang. Jika terjadi eskalasi konflik berkepanjangan, ia memperkirakan harga minyak WTI berpotensi menembus kisaran US$70 – US$80 per barel, sementara harga minyak Brent diproyeksikan berada di rentang US$75 – US$80 per barel.

Ringkasan

Harga minyak dunia terus menguat ke level tinggi, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya ancaman dari Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran serius akan potensi gangguan pada pasokan dan jalur logistik minyak global. Per 30 Januari 2026, harga minyak WTI tercatat US$65,21 per barel dan Brent mencapai US$69,3 per barel, menunjukkan kenaikan signifikan secara bulanan.

Analis memproyeksikan bahwa prospek harga minyak sepanjang 2026 akan sangat bergantung pada dinamika di Iran; eskalasi konflik berpotensi mempertahankan harga tinggi atau melonjak. Meskipun OPEC+ dinilai mampu menutupi kekurangan suplai, kekhawatiran utama pasar adalah gangguan pada jalur distribusi minyak yang krusial. Oleh karena itu, investor disarankan untuk mewaspadai volatilitas pasar yang tinggi dan menyiapkan beragam skenario.

Advertisements