IHSG ambrol dan trading halt dua hari, OJK putuskan ngantor di BEI mulai besok

Solderpanas – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah sigap dengan mengumumkan akan berkantor sementara di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Jumat, 30 Januari. Keputusan strategis ini diambil menyusul gejolak hebat di pasar modal Indonesia, yang ditandai dengan ambrolnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara drastis hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

Advertisements

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam konferensi pers yang digelar di Gedung BEI, Jakarta, pada Kamis, 29 Januari. “Mulai besok kami juga akan berkantor di sini,” ujarnya, menegaskan komitmen OJK untuk berada lebih dekat dengan pusat denyut nadi pasar modal.

Langkah relokasi sementara ini dijelaskan Mahendra sebagai wujud nyata dari upaya reformasi bursa yang sedang digalakkan. Ia menekankan bahwa perbaikan menyeluruh akan segera dilakukan, dengan prioritas utama pada peningkatan transparansi dan integritas di seluruh aspek pasar modal. “Kunci dasarnya adalah reformasi yang memperbaiki transparansi dan integritas. Namun, fokus kami bukan hanya pada itu, melainkan pada reformasi secara menyeluruh agar perbaikan berjalan cepat, tepat, dan efektif,” jelasnya lebih lanjut, menunjukkan keseriusan OJK dalam menghadapi tantangan ini.

Keputusan OJK ini tidak terlepas dari kabar mengejutkan yang datang dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sebelumnya, MSCI secara tiba-tiba membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga Mei 2026. Pembekuan ini didasari oleh sorotan tajam MSCI terhadap kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran akan adanya potensi perilaku perdagangan yang dapat merusak mekanisme pembentukan harga yang wajar dan tepat di pasar modal Indonesia.

Advertisements

Dampak langsung dari keputusan MSCI ini langsung terasa di lantai bursa. IHSG tercatat ambrol lebih dari 8 persen selama dua hari berturut-turut, memicu dua kali penghentian sementara perdagangan atau trading halt berturut-turut, sebuah kondisi yang menunjukkan tekanan luar biasa pada pasar saham domestik.

Situasi ini juga memberikan pukulan telak bagi sejumlah saham konglomerat besar (Big Caps) di Indonesia. Deretan perusahaan ternama mengalami koreksi signifikan, antara lain:

  • Grup bisnis milik Prajogo Pangestu, salah satu konglomerat terkemuka, turut terimbas. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok hingga Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 14,81 persen ke level Rp 2.300, sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melemah 11,84 persen menjadi Rp 8.375. Bisnis lain dalam Grup Chandra Asri milik Prajogo Pangestu juga tak luput; PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 5 persen ke Rp 6.650, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) ambruk 12,14 persen ke Rp 1.230.
  • Dari Kelompok Bakrie, beberapa saham menunjukkan pelemahan serius: PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 11,58 persen ke Rp 1.145, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,53 persen ke Rp 294, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 9,42 persen ke Rp 125, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bahkan menyentuh ARB 14,97 persen ke Rp 1.420.
  • Saham-saham dari Kelompok ‘Happy’ Hapsoro Sukmonohadi juga merasakan dampaknya. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) jatuh ARB 15 persen ke Rp 1.445, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 15 persen ke Rp 4.590, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) anjlok 14,97 persen ke Rp 6.250.
  • Terakhir, Kelompok Sugianto Kusuma alias Aguan juga mengalami koreksi substansial. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 14,89 persen ke Rp 9.575, sedangkan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun 14,68 persen ke Rp 6.250.

Dalam nada peringatan yang tegas, MSCI menggarisbawahi bahwa jika tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan hingga Mei 2026, mereka tidak akan segan untuk mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia. Konsekuensi terburuknya adalah penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, sebuah langkah yang tentu akan berdampak luas dan serius terhadap kepercayaan investor serta likuiditas pasar modal di masa mendatang.

Advertisements