Konflik Thailand Kamboja memanas, korban tewas jadi 13 orang

PERTEMPURAN antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut di hari ketiga. Mengutip laporan Al Jazeera, penembakan lintas perbatasan dan serangan udara memaksa lebih dari setengah juta warga sipil untuk meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan, menurut pihak berwenang.

Advertisements

Para pejabat dari kedua negara tetangga di Asia Tenggara itu pada hari Rabu juga saling menuduh telah menyulut kembali konflik. Korban tewas akibat konflik mencapai sedikitnya 13 tentara dan warga sipil.

“Lebih dari 400.000 orang telah dipindahkan ke tempat penampungan yang aman di tujuh provinsi,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, kepada wartawan dalam konferensi pers, Rabu, 10 Desember 2025.

“Warga sipil terpaksa dievakuasi dalam jumlah besar karena apa yang dinilai sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan mereka,” katanya.

Advertisements

Militer Thailand juga melaporkan bahwa roket yang ditembakkan dari Kamboja telah mendarat di dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Surin pada Rabu pagi. Pasien dan staf rumah sakit terpaksa berlindung di bunker.

Di negara tetangga Kamboja, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Maly Socheata mengatakan 101.229 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan aman dan rumah kerabat di lima provinsi.

Cambodianess, sebuah situs web yang dioperasikan oleh Cambodian Media Broadcasting Corporation, melaporkan bahwa jet F-16 Thailand telah menyerang dua wilayah di negara itu, sementara penembakan artileri Thailand terus berlanjut di tiga wilayah lainnya.

Portal berita Matichon Online Thailand juga melaporkan bahwa militer negara itu telah mengerahkan pesawat tempur F-16 untuk menyerang satu target militer Kamboja di sepanjang perbatasan pada Rabu pagi.

Menurut surat kabar Thailand The Nation, mengutip sumber militer, roket dan tembakan artileri Kamboja juga menargetkan 12 daerah garis depan di empat provinsi Thailand pada pagi hari. Belum ada laporan langsung mengenai korban jiwa.

Untuk pertama kalinya mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, mengatakan pada Selasa, 9 Desember 2025 bahwa negaranya telah memulai serangan balik terhadap Thailand. Pernyataan Hun Sen itu setelah dua hari ia membantah adanya serangan balasan seiring bentrokan mematikan di perbatasan antara kedua negara tetangga kembali berkobar.

France 24 melaporkan bahwa Hun Sen muncul setelah seminggu pertempuran kembali terjadi yang telah menewaskan sedikitnya 10 orang dan memicu kembali ketegangan meskipun sebelumnya telah terjadi gencatan senjata.

Pertempuran antara Thailand dan Kamboja menyebar Selasa ke wilayah baru di perbatasan yang disengketakan. Jumlah korban meningkat dan ratusan ribu warga sipil melarikan diri akibat bentrokan tersebut.

Baik Thailand maupun Kamboja saling menyalahkan atas bentrokan baru tersebut. Thailand melancarkan serangan udara dan menggunakan tank terhadap negara tetangganya pada Senin, 8 Desember 2025.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan kepada wartawan bahwa militer negaranya akan tetap teguh. “Thailand harus berdiri teguh di belakang mereka yang melindungi kedaulatan kita. Kami tidak bisa berhenti sekarang,” ujarnya.

Di provinsi Surin, Thailand, Sutida Pusa, 30 tahun, yang mengelola sebuah toko makanan kecil, mengatakan pada hari Senin bahwa kerabatnya telah dipindahkan ke pusat evakuasi sehari sebelumnya. Warga yang lain tetap tinggal untuk menjaga harta benda mereka.

Dia telah melakukan perjalanan bolak-balik antara tempat penampungan sementara dan rumahnya, yang terletak kurang dari 20 kilometer dari perbatasan, untuk merawat anggota keluarga di kedua tempat tersebut. “Saya ingin melihat situasinya terlebih dahulu, karena suara pertempuran tidak sekeras saat bentrokan besar pada 24 Juli,” katanya. “Kami tidak pernah mempercayai situasi.”

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Uni Eropa, dan Perdana Menteri Malaysia pada hari Senin mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan menghentikan konflik.

Pilihan editor: Konflik Memanas, Lebih dari 500.000 Warga Thailand-Kamboja Mengungsi

Advertisements