
BINTANG Real Madrid, Kylian Mbappe, melontarkan kritik pedas terhadap performa dan inkonsistensi timnya usai takluk 2-4 dari Benfica. Hasil pahit ini memastikan Los Blancos gagal menembus delapan besar fase liga Liga Champions, sebuah pencapaian yang jauh dari ekspektasi. Penyerang asal Prancis itu tegas menyatakan bahwa timnya tidak bermain dengan mentalitas layaknya tim juara.
Dalam laga yang digelar di Estadio da Luz pada Kamis dinihari, 29 Januari 2026, Mbappe berhasil mencetak dua gol, menambah koleksi golnya menjadi 13 di Liga Champions musim ini. Namun, kontribusi individualnya yang cemerlang itu tak mampu menyelamatkan Madrid dari kekalahan. Akibatnya, mereka tergelincir ke peringkat kesembilan klasemen dan kini harus melalui babak play-off yang melelahkan bulan depan untuk memperebutkan tiket ke fase gugur.
Menggarisbawahi kegagalan tim, Mbappe menegaskan pentingnya detail dalam kompetisi elite ini. “Di Liga Champions, setiap detail itu penting jika ingin meraih kemenangan. Benfica telah menunjukkan bahwa jika Anda datang tanpa membawa semua yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan Liga Champions, lawan akan menghancurkan Anda,” ujar Mbappe, seperti dikutip dari ESPN.
Kekecewaan juga turut disuarakan oleh gelandang Madrid, Jude Bellingham. “Jelas ini menyakitkan, kalah dengan cara seperti ini. Saya tidak punya banyak yang bisa dikatakan sekarang. Kami memiliki begitu banyak talenta, namun kami sangat membutuhkan mentalitas yang sama, siapa pun lawannya,” ungkap pemain internasional Inggris tersebut, menyiratkan adanya masalah fundamental dalam skuad.
Menyusul hasil minor ini, Real Madrid kini dihadapkan pada tantangan berat di babak play-off, di mana mereka akan bertemu kembali dengan Benfica atau Bodo/Glimt. Undian untuk menentukan lawan dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 30 Januari 2026. Pelatih Alvaro Arbeloa mengakui adanya banyak faktor yang menyebabkan kekalahan tim. “Saya ingin mengatakan ini hanya satu hal, tapi sebenarnya banyak aspek, yaitu duel, saat menguasai bola, maupun tanpa bola. Kami jauh dari level terbaik kami. Masih banyak yang harus diperbaiki,” jelas Arbeloa.
Pertandingan kontra Benfica tersebut juga diwarnai momen dramatis, yaitu gol sundulan kiper Benfica, Anatoliy Trubin, pada menit ke-98. Gol tak terduga ini memicu selebrasi besar di Lisbon dan memastikan Benfica melaju ke play-off dari posisi ke-24.
Lebih lanjut, Mbappe menegaskan bahwa akar masalah Real Madrid bukan terletak pada kualitas pemain atau strategi taktik, melainkan pada kurangnya hasrat bertanding. “Ini bukan tentang kualitas, dan bukan tentang taktik. Ini tentang memiliki keinginan yang lebih besar dari lawan. Terlihat jelas bahwa bagi Benfica semuanya dipertaruhkan, sementara dari kami itu tidak terlihat. Padahal sebelum pertandingan, kedua tim sama-sama punya target. Kami ingin masuk delapan besar, Benfica ingin bertahan di 24 besar. Kami melihat itu dari Benfica, tapi tidak dari kami. Itu masalah besar,” pungkas pemain berpaspor Prancis tersebut, menyoroti perbedaan motivasi yang mencolok.
Musim Real Madrid memang diwarnai gejolak, dimulai dengan kepergian pelatih Xabi Alonso di awal bulan ini. Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di bawah arahan Arbeloa, termasuk kemenangan 2-0 atas Villarreal di LaLiga pekan lalu, Mbappe menilai timnya masih belum menemukan konsistensi. “Saya tidak punya penjelasan untuk masalah ini. Penampilan kami melawan Benfica tidak sama seperti saat melawan Villarreal. Kami tidak konsisten. Kami harus menyelesaikannya,” kata Mbappe, menekankan urgensi perbaikan.
Ia juga menyayangkan bahwa Madrid kini harus menjalani dua laga tambahan di babak play-off. “Kami ingin memiliki waktu di Februari untuk memperbaiki permainan, tapi sekarang kami harus bermain di play-off,” keluh Mbappe, menyoroti dampak jadwal padat terhadap persiapan tim.
Sepanjang fase liga musim ini, Real Madrid telah menelan tiga kekalahan dari delapan pertandingan, masing-masing saat menghadapi Liverpool, Manchester City, dan Benfica.
Pilihan Editor: Sadio Mane: Duta Besar Sepak Bola yang Membawa Senegal Juara
Ringkasan
Kylian Mbappe mengkritik mentalitas Real Madrid setelah timnya kalah 2-4 dari Benfica dan gagal menembus delapan besar fase liga Liga Champions. Ia menegaskan timnya tidak bermain dengan mentalitas layaknya juara, meskipun ia sendiri berhasil mencetak dua gol dalam laga tersebut. Kekalahan ini membuat Real Madrid harus menghadapi babak play-off yang padat bulan depan.
Mbappe menekankan bahwa masalah utama timnya bukan pada kualitas atau taktik, melainkan pada kurangnya hasrat bertanding dan inkonsistensi. Ia menggarisbawahi pentingnya detail dalam kompetisi elite ini, di mana Benfica menunjukkan keinginan yang lebih besar. Pelatih Alvaro Arbeloa dan Jude Bellingham juga mengakui adanya masalah fundamental yang perlu diperbaiki.
