Muhidin M Dahlan, pendekar kliping dan arsip dari Bantul – ‘Sejarah kita adalah sejarah otoritarianisme’

Penguasa kerap memanipulasi sejarah sesuai kepentingan mereka. Oleh karena itu, mengkliping berita produk jurnalistik menjadi strategi ampuh untuk melawannya, demikian penuturan Muhidin M. Dahlan, seorang dokumentator partikuler yang telah mengarsipkan ribuan surat kabar dan majalah.

Advertisements

Di atas meja panjang rumah Muhidin M. Dahlan (47) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terpampang tumpukan buku berjudul Kabar Buruk Dari Langit bersama puluhan surat kabar dan majalah lawas. Koleksi berharga ini termasuk majalah Fikiran Ra’jat (1933), koran Minggoe Merdeka (1947), majalah Api Kartini (1960), majalah Tempo (1971), majalah Forum (1993), dan buletin Suara Independen (1995).

“Ini di antara arsip surat kabar yang saya simpan,” ungkap Muhidin pada Kamis (06/11/2025), seraya menjelaskan pentingnya koleksi tersebut sebagai bahan dasar penulisan kronik sejarah Indonesia. Dari kliping berita inilah, ia berhasil melahirkan karya-karya signifikan seperti buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara (2024) dan Kronik Otoritarianisme Indonesia: Dinamika 80 Tahun Ketatanegaraan Indonesia (2025), yang ditulis berkolaborasi dengan Zainal Arifin Mochtar.

“Itu sumbernya kliping berita semua. Saya tidak beropini,” tegas Muhidin sambil menunjuk buku Kronik Otoritarianisme Indonesia, menekankan bahwa karyanya semata-mata didasarkan pada fakta jurnalistik.

Advertisements

Muhidin, seorang penulis produktif asal Donggala, Sulawesi Tengah, yang kini menetap di Bantul, DIY, telah menerbitkan lebih dari 30 buku sejak tahun 2000, baik secara mandiri maupun kolaborasi. Kepindahannya ke Yogyakarta pada tahun 1996, setelah lulus STM, didorong oleh tekad kuatnya untuk memahami dunia buku, karena baginya, Yogyakarta adalah Kota Pergerakan dan Kota Buku. Ia sempat menempuh pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) jurusan Teknik Bangunan, serta aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi. Namun, studi tersebut tidak diselesaikannya (1997–2000), sebab, ia mengakui, “Itu bukan tujuan saya… Tujuan saya itu mengenali buku, dari A sampai Z.”

Setelah meninggalkan IKIP, Muhidin mencoba kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga) jurusan Sejarah Peradaban Islam, namun nasibnya serupa; ia keluar pada tahun 2001. Sejak saat itu, Muhidin mendedikasikan dirinya pada penulisan buku dan kini menasbihkan diri sebagai dokumentator partikuler, sebuah pekerjaan yang disebutnya sebagai panggilan jiwa. Baginya, aspek finansial bukanlah prioritas. “Ini tugas sosial,” ujar penulis buku Ideologi Saya adalah Pramis: Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer (2016) ini.

Melihat Pramoedya Ananta Toer setiap hari mengkliping berita

Pada tahun 2003, Muhidin merasa tujuan kepindahannya ke Yogyakarta menemukan jalannya. Ia bertemu dengan sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer. “Jalan yang saya dapatkan adalah, saya bertemu Pram, pertama kali di Jogja,” tutur penulis novel Adam Hawa (2005) ini. Ia diajak oleh Astuti Ananta Toer (Titi), salah satu putri Pramoedya, untuk bergabung mendirikan penerbit buku Lentera Dipantara dan menangani redaksi penerbitan ulang karya-karya Pram yang pernah diterbitkan Hasta Mitra.

Pengalaman berharga ini memberinya kesempatan mengenal Pram secara lebih dekat, termasuk menyaksikan kebiasaan harian Pram dalam mengarsipkan dan mengkliping berita. “Gunting, tempel, rapikan. Itu saja kerjaannya setiap hari. Mengkliping,” kenang Muhidin. Dari bahan-bahan kliping itulah, Pramoedya melahirkan mahakarya lima jilid Kronik Revolusi Indonesia 1945–1949.

Terbitkan buku ‘Seabad Kebangkitan Indonesia’ setebal 1,7 meter

Wafatnya Pramoedya pada tahun 2006 menjadi titik tolak Muhidin untuk melanjutkan tradisi ‘pendekar gunting’ yang pernah dilakukan Pram. “Setelah saya kumpulkan kliping-kliping kematian Pram. Ya sudah, start. Artinya melanjutkan Pram. Jadi estafet,” ungkapnya. Pada tahun yang sama, ketika Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi pahlawan nasional, Muhidin melihat adanya ketidaksetujuan dari militer terhadap Pram yang telah “membuka kotak pandora” Tirto. Dari situlah, Muhidin menginisiasi “Indonesia Boekoe” bersama para pemuda untuk melakukan riset surat kabar dan kronik sejarah.

Mengiringi momentum penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada TAS, Muhidin dan timnya menyusun buku berdasarkan kliping berita surat kabar yang terbit mulai tahun 1907, tahun terbitnya Medan Prijaji milik TAS. Selama setahun (2006–2007), mereka berkantor di Jakarta untuk merampungkan buku Seabad Pers Kebangsaan 1907–2007. “Kita menyeleksi sekitar 4.000 [judul] surat kabar yang terbit dari 1907,” jelas Muhidin.

Setelah itu, Muhidin melanjutkan dengan buku Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia 1908–2008. Demi menghormati Pram, ia tidak menggarap kronik periode 1945–1949, melainkan fokus pada periode 1908–1944 dan melompat ke 1950–2008. Buku monumental setebal 1,7 meter ini hanya dicetak satu eksemplar oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta pada tahun 2008, sebagai perayaan Hari Kebangkitan Nasional.

Usai peluncuran buku tersebut, Muhidin memindahkan arsip surat kabar dan klipingnya ke rumahnya di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Saking banyaknya, dibutuhkan dua truk besar untuk membawanya, bahkan proses pemindahan harus dilakukan tengah malam agar tidak mengganggu lalu lintas kampung. Kini, arsip-arsip tersebut menjadi koleksi Warung Arsip dan tersebar di beberapa lokasi: di salah satu galeri seni, di rumah Muhidin, dan di Magelang. Sebagian besar arsip telah dipindai menjadi kliping digital yang dapat diakses publik melalui situs warungarsip.co, tempat publik juga bisa berbelanja buku dan arsip lainnya. “Dikelola Warung Arsip, sampai sekarang, di Yogyakarta,” kata Muhidin, salah satu pendiri inisiatif ini.

‘Andai anak-anak remaja punya kebiasaan mengkliping…’

Selama bergelut di dunia buku bersama keluarga Pram, Muhidin sangat akrab dengan kebiasaan Pram, mulai dari mengkliping hingga mencatat detail harian. “Setiap hari Pram menulis di catatan harian,” kata Muhidin. “Dia menjadi jurnalis untuk dirinya sendiri.” Ia teringat sebuah catatan harian Pram tentang pentingnya kliping, yang ditemukan Muhidin saat Pram menjadi pembicara temu pengarang dengan anak-anak SMP di Bojongsari, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, Pram mengkritik lembaga pendidikan yang kurang serius mengajarkan praktik mengkliping.

Kutipan catatan harian Pramoedya tersebut kini menjadi mural di dinding tembok kantor Indonesia Boekoe di Sewon, Bantul, DIY: “Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai ke akar-akarnya. Sayang sekali, pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.” Catatan ini ditemukan Muhidin saat menulis untuk majalah Iboekoe edisi khusus Pram, di mana ia memperoleh izin dari keluarga Pram untuk menukil beberapa catatan dan melahirkan tulisan berjudul Si Pendekar Gunting Dari Bojong (2006).

Berkat ketekunan dalam mengkliping berita dan penyusunan buku Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908–2008), Muhidin merasa dirinya kebal terhadap kebohongan kekuasaan, baik personal maupun institusi. “Nah kata Pram, hanya orang yang mengkliping yang tidak mudah jatuh dalam dusta kekuasaan. Dusta institusi negara, yang memang banyak dustanya, terutama dalam sejarah. Apalagi sejarah kita adalah sejarah otoriteranisme,” jelas Muhidin. “Saya membuktikan itu. Tidak bisa dibohongin oleh Prabowo,” tegasnya.

Muhidin mencontohkan responsnya terhadap pernyataan mantan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang kala itu menjabat Ketua Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, mengenai tidak terbuktinya genosida oleh Soeharto pasca-30 September 1965. “Itu kan [kita] dianggap goblok. Dikiranya enggak ada yang mengkliping. Dikiranya itu semua orang tidak lagi menyimpan ingatan tentang itu,” ujar Muhidin dengan nada geram. Ia juga mengkritisi rencana pemerintahan Prabowo untuk mencatat ulang sejarah Indonesia dan pernyataan Fadli mengenai tidak adanya tragedi perkosaan massal saat peristiwa Mei 1998.

Muhidin membantah klaim tersebut dengan kliping berita bertanggal September 1998, yang memuat pengakuan negara—melalui Menteri Kehakiman Muladi—adanya perkosaan massal yang terorganisir pada Mei 1998. Dari kliping-kliping ini pula, ia menemukan pola serupa dalam kasus penculikan aktivis politik 1997-1998, yang kemudian ditulisnya dalam buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara (2024).

“Nah kata Pram, kalau kamu mengkliping kamu tidak mungkin bisa terhipnosis, tersirep. Atau dalam bahasanya kasar sekali, dibohongi oleh kekuasaan,” tegas Muhidin, menekankan bahwa kliping adalah benteng pengetahuan publik. Ia menyadari bahwa bukti klipingnya mungkin akan dibantah, namun ia menantang negara untuk membuka arsip nasional, arsip tentara, dan arsip intelijen jika berani. “Membuka arsip Prabowo BAP-nya saja enggak mau,” imbuhnya, meyakini negara tidak akan berani membuka arsip kasus pemerkosaan dan penculikan aktivis 1998, apalagi peristiwa 1965. “Nah, itu kan lebih enteng, gitu kan. Ketahuan siapa membohongi. Tapi itu juga enggak dilakukan [negara], gitu,” ujarnya.

  • Fadli Zon klaim pemerkosaan dalam Kerusuhan Mei 98 ‘rumor’ dan ‘tak ada bukti’
  • Apa bukti Soeharto terlibat pembantaian massal 1965?
  • Penulisan ulang sejarah Indonesia – Rawan dijadikan alat legitimasi, meminggirkan perempuan dan sejarah Papua

‘Bahas sejarah Indonesia, tanpa bahas revolusi cetak, itu cacat’

Muhidin menemukan banyak peristiwa sejarah penting di Indonesia yang absen dari teks resmi pemerintah, berkat hasil arsip dan kliping surat kabar miliknya. Ia mencontohkan fakta bahwa lebih dari 60% anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah jurnalis, sebuah informasi yang tidak tercatat dalam sejarah resmi. Ia juga mengungkap berbagai peristiwa bersejarah yang telah dihapus, seperti peran penting masyarakat Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia dan tragedi Razia Agustus 1951 yang menargetkan mereka. “Apakah itu ada dalam sejarah? Tidak ada, dihapus itu,” tegasnya.

Dari semua kliping yang dimilikinya, Muhidin meyakini bahwa membahas sejarah Indonesia harus selalu mempertimbangkan media cetak yang berkembang pada masanya, sebab ruh sejarah Indonesia berada di dalam surat kabar. Risetnya menunjukkan bahwa mayoritas tokoh pergerakan adalah jurnalis, dan ide kemerdekaan pun banyak lahir dari kalangan mereka. Mengutip sejarawan mendiang Benedict Richard O’Gorman Anderson (Ben Anderson), Muhidin menyatakan, “Membahas sejarah Indonesia tanpa membahas revolusi cetak, itu cacat.”

Inilah yang menjadi alasan utama Muhidin menganggap kliping-kliping berita miliknya sebagai sumber fakta sejarah yang tak ternilai, yang jika dirangkai hari demi hari, akan membentuk kronik sejarah yang esensial. “Enggak boleh diremehkan. Halah cuma media, cuma koran. Karya-karya mereka [jurnalis] sebagai sumber sejarah!” seru Muhidin. Ia mencontohkan buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishi yang juga menggunakan sumber koran secara rapi untuk disertasinya. “Jadi jangan hanya menolak, tapi pelajarilah sejarah pergerakan,” tekannya. Dalam mengkurasi kliping, Muhidin sangat cermat, hanya memilih karya-karya jurnalis, bukan dokumen lain seperti sertifikat tanah, karena baginya, “sukma sejarah Republik Indonesia ada di situ.”

Sejarawan: ‘Kliping berita surat kabar itu salah-satu sumber primer’

Eka Ningtyas, peneliti dan pengajar Program Studi Ilmu Sejarah di FISIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menegaskan bahwa apa yang Muhidin lakukan—mengkliping berita surat kabar dan merangkainya menjadi kronik peristiwa sejarah—secara akademik sah sebagai dasar kronik sejarah. “[Kliping] itu bisa menjadi satu basis kuat untuk membuat kronik atau serial kejadian,” kata Eka merujuk pada kliping dalam buku Kronik Penculikan Aktivis 1998, dan menambahkan, “Dan tentu saja bisa dikatakan sebagai salah satu sumber primer.”

Menurut Eka, kerja partikuler Muhidin sangat bermanfaat bagi publik, terutama dalam menjaga dan merawat ingatan kolektif agar tidak melupakan peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Ia bahkan menyebutnya sebagai “pembukuan sejarah publik” yang efektif menangkal narasi sejarah penguasa yang cenderung menghilangkan suatu peristiwa. Eka, sebagai peneliti sejarah, memahami bahwa setiap pemenang dan pemegang kekuasaan memiliki keinginan untuk menciptakan sejarah versinya sendiri, dan ia mengamati adanya tendensi serupa pada pemerintah saat ini. “Ada tendensi itu terjadi lagi sekarang,” katanya.

Eka berharap negara tidak memanipulasi sejarah, khususnya terkait kekerasan tahun 1998. Jika pemerintah menghapus kasus perkosaan dan kekerasan pada tragedi Mei 1998 dari historiografi Indonesia terbaru, menurut Eka, itu adalah kesalahan fatal. Oleh karena itu, buku kronik yang ditulis Muhidin bisa menjadi bukti sah keberadaan peristiwa tersebut. “Buku ini [Kronik Penculikan Aktivis 1998] saya pikir sah, karena memang sudah dikurasi, dan secara kronologis sangat detail dari 1997 sampai 1998 ketika kekerasan itu terjadi,” papar Eka.

‘Demi melawan lupa, harus kerja kolektif’

Pekerjaan Muhidin jauh dari sederhana; ini bukan sekadar gunting-tempel, melainkan seni berpikir dan mengelola data. “Ini seni mengelola data sebenarnya,” ujarnya. Dalam menggeluti dunia kliping, Muhidin mengidolakan tiga sosok. Pertama, Pramoedya Ananta Toer, yang ia identifikasi sebagai Pramis paling tekun dalam membuat catatan harian dan mengkliping. “Di antara semua Pramis, saya yang paling bisa mengkliping,” akunya.

Sosok kedua adalah Hans Bague Jassin (HB Jassin), sastrawan dari Gorontalo, yang baginya sangat unik dalam membagi waktu untuk mengkliping. HB Jassin akan mengkliping dari jam 12 malam hingga 6 pagi, mengajar di kampus UI pada pagi hari, lalu sorenya berkeliling Senen mencari bahan kliping, tidur saat Magrib, dan bangun kembali pukul 12 malam untuk mengkliping. “Tidak akan mampu saya konsisten itu menirunya,” aku Muhidin.

Idola ketiga adalah Pitut Suharto, seorang intelijen yang tekun mengkliping semua esai surat kabar yang terbit, dan hasil klipingnya bahkan diterbitkan hingga 21 jilid. “Bayangkan bagaimana kerjanya Badan Intelijen menyusun 21 jilid, dari semua artikel-artikel penting yang pernah terbit sepanjang 1910, 1920, 1930,” jelasnya. Dari sosok Pitut, Muhidin menyadari bahwa negara pun adalah “tukang kliping” yang bekerja untuk legitimasi sejarah, dan itulah yang harus dilawan.

Melihat kompleksitas dan skala kerja ketiga idolanya, Muhidin memilih untuk melakukan kerja-kerja kliping secara kolektif, menyadari bahwa ia tidak bisa melakukannya sendirian seperti Pram atau HB Jassin, apalagi seperti Pitut yang didanai negara. “Makanya [buku] Kronik Satu Abad itu bisa dikerjakan satu tahun. Kalau mengikuti seperti Pram atau HB Jassin, seumur hidup nggak bisa,” katanya. “Saya tahu kelemahannya. Makanya pakai kolektif. Melawan Lupa itu harus kolektif. Kalau nggak itu matilah kita.”

Jurus pindai Muhidin

Di ruangan berukuran sekitar 3,5×3,5 meter, Muhidin menunjukkan alat-alat kliping modernnya: laptop, pemindai (scanner), dan penggaris. Ia dengan terampil mengukur majalah, memasukkannya ke pemindai, dan dalam sekejap, gambar majalah muncul di layar laptop dan tersimpan dalam folder. Proses kliping digital ini jauh lebih praktis dan cepat dibandingkan metode tradisional gunting-lem yang dilakukannya di masa lalu. “Platformnya berubah,” kata Muhidin.

Dulu, ia menggunting koran dan menempelnya, persis seperti Pram. Namun, ia merasa sayang membuang bagian-bagian lain yang ikut tergunting, seperti iklan. “Saya tidak tega membuang iklan,” katanya, sebab baginya, iklan juga merupakan produk sejarah yang kelak akan menjadi artefak penting 30 atau 50 tahun mendatang. Selain itu, metode gunting membutuhkan biaya lebih besar karena harus membeli dua surat kabar untuk mendapatkan halaman depan dan belakang yang berbeda.

Oleh karena itu, Muhidin merasa beruntung dengan adanya teknologi pemindai saat ini, yang memungkinkan seluruh halaman terpindai tanpa ada yang terbuang. Atau cukup menggunakan kamera ponsel untuk mengambil gambar. “Maka saya beruntung tidak seperti Pram, yang harus menggunting,” tutur Muhidin. Ia mengakui, teknologi terus berkembang, tetapi yang tidak pernah berubah adalah ketekunan. Meskipun alat pindai kini tersedia, tidak semua orang memiliki ketekunan untuk mengkliping. “Tidak semua orang bisa mengkliping. Padahal teknologinya ada,” ujarnya.

Bagi Muhidin, yang terpenting dari proses mengkliping adalah tujuan. Tanpa tujuan, seseorang hanya akan menjadi “tukang” dan membuang waktu. Ia tidak mempersoalkan jika ada yang menolak atau tidak mengakui kliping arsip berita-beritanya sebagai sumber sejarah. Baginya, mengkliping adalah seni berpikir dan tindakan politik, sekaligus bentuk penghormatan kepada jurnalis yang telah bekerja keras mengumpulkan fakta di lapangan. “Mau dianggap ini [kliping berita] bukan dokumen arsip autentik. Terserah. Ini pilihan ideologis. Dan ini adalah penghormatan kepada kaum jurnalis,” katanya, tegas.

‘Publik jangan mau dibohongi’

Melihat realitas bahwa negara juga memiliki “tukang kliping” dengan kepentingan legitimasi sejarah, dan kecenderungan sejarah adalah milik pemenang, Muhidin menekankan pentingnya publik memiliki benteng pengetahuan sendiri agar tidak mudah dibohongi. “Massa harus punya benteng pengetahuan sendiri. Karena dia massa, maka dokumentasi massa itu ada media massa,” ujarnya.

Meski banyak orang pernah diajarkan mengkliping di sekolah dasar, hanya sedikit yang menekuninya hingga dewasa. Maria Al-Zahra dan Aqeela Jangkar Kemilauva, mahasiswi semester akhir dan semester 3 UIN Sunan Kalijaga, mengaku pernah dikenalkan kliping di SD, namun baru kembali melakukannya saat kuliah. Keduanya aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena UIN Sunan Kalijaga, di mana mereka mengarsip berita surat kabar periode 1975–2025 dan mengumpulkan esai tokoh dari 1980–1987.

Maria menemukan banyak informasi krusial yang tak mungkin ditemukannya tanpa mengkliping, seperti model pembiayaan kampus, intimidasi, hingga kasus kekerasan seksual di kampus. “Jadi ngerasa menyesal, kok gak [mengkliping] dari dulu saja. Kenapa baru sekarang dan di akhir perkuliahan,” kata Maria. Sementara Jangkar menyadari proses kliping kini lebih mudah dengan teknologi ponsel. Keduanya sepakat bahwa kerja kliping akan lebih ringan jika dilakukan secara kolektif, dan kliping berita bisa menjadi dasar argumen serta bukti peristiwa masa lalu. “Setidaknya itu menjadi penguat argumen kita,” kata Jangkar.

Jangkar juga berpendapat bahwa generasi sekarang sebenarnya banyak melakukan praktik kliping, hanya saja dengan platform yang berbeda, misalnya membuat cut-out posting di media sosial. “Jadi tinggal mengubah kontennya dengan berita-berita surat kabar,” sarannya. Platform mungkin telah berubah, dari gunting Pram hingga pemindai Muhidin, namun tujuannya tetap satu: membentengi diri dan tidak bisa dibohongi kekuasaan.

Muhidin berujar, dalam kultur otoritarianisme, ada pihak yang gemar “menggunting” sejarah. Mengkliping adalah metode klasik yang sangat ampuh untuk membentengi diri. “Karena tingkat akhir dari mengkliping adalah berpikir rasional, dan berpijak pada realitas. Maka, mengklipinglah,” tandas Muhidin.

Wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan, melakukan liputan ini dan menuliskannya untuk BBC News Indonesia.

  • ‘Saya suka Pram karena lambangkan perlawanan’ – Pramoedya Ananta Toer di mata Gen Z, Gen Milenial dan Gen X
  • Satu abad Pramoedya Ananta Toer: ‘Meneguhkan dan tidak membuat FOMO’
  • Mengenal Pramudya Ananta Toer lebih dekat lewat catatan dan surat-surat
  • Kerusuhan Mei 1998: “Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?”
  • Perkosaan Mei 1998 ‘tak pernah terungkap, tak pernah dituntaskan’
  • Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya
  • ‘Saya suka Pram karena lambangkan perlawanan’ – Pramoedya Ananta Toer di mata Gen Z, Gen Milenial dan Gen X
  • Dulu dilarang Orde Baru, novel ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer kini masuk kurikulum sekolah – Mengapa siswa direkomendasi membaca sejumlah karya sastra terpilih?
  • Satu abad Pramoedya Ananta Toer: ‘Meneguhkan dan tidak membuat FOMO’

Advertisements