Peta terbaru ungkap detail menakjubkan lanskap tersembunyi di bawah lapisan es Antarktika

Sebuah terobosan ilmiah telah mengubah cara kita memandang salah satu misteri terbesar di planet ini: topografi daratan yang tersembunyi di balik lapisan es tebal Antarktika. Peta terbaru yang dirilis menunjukkan rupa benua beku di Kutub Selatan ini dengan tingkat detail yang belum pernah terungkap sebelumnya. Temuan revolusioner ini, menurut para ilmuwan, berpotensi secara signifikan memperdalam pemahaman kita tentang benua putih raksasa yang membeku tersebut.

Advertisements

Tim peneliti mencapai pencapaian luar biasa ini dengan menggabungkan data satelit mutakhir dengan prinsip-prinsip fisika kompleks mengenai pergerakan gletser Antarktika. Mereka secara cermat memodelkan lanskap dasar benua seolah-olah lapisan es yang tebal telah disingkirkan seluruhnya. Hasilnya, sebuah panorama menakjubkan terbentang, mengungkap keberadaan ribuan bukit dan punggungan yang sebelumnya tak terdeteksi, serta menyajikan rangkaian pegunungan tersembunyi di Antarktika dengan kejernihan visual yang jauh melampaui pemetaan terdahulu.

Meskipun peta inovatif ini masih menyisakan beberapa celah ketidakpastian, detail-detail yang baru terungkap sangatlah vital. Para peneliti percaya bahwa informasi baru ini akan menjadi kunci untuk memahami bagaimana Antarktika akan bereaksi terhadap tantangan perubahan iklim global. Lebih jauh lagi, data krusial ini esensial untuk memprediksi secara lebih akurat dampak potensial perubahan tersebut terhadap proyeksi kenaikan permukaan laut di masa depan.

“Ini ibarat sebelumnya Anda hanya memiliki kamera film dengan piksel yang buram, dan sekarang Anda memiliki citra digital dengan perbesaran yang tepat tentang apa yang sebenarnya terjadi,” terang Helen Ockenden, penulis utama penelitian dan peneliti di University of Grenoble-Alpes, menjelaskan signifikansi terobosan ini.

Advertisements

Selama beberapa dekade, meskipun satelit telah memberikan pemahaman yang cukup baik tentang permukaan es Antarktika, misteri di balik permukaannya tetap menjadi salah satu teka-teki terbesar. Ironisnya, pengetahuan kita tentang topografi di bawah lapisan es Antarktika—yang kerap disebut sebagai “bagian bawah” benua—bahkan lebih minim dibandingkan informasi permukaan beberapa planet lain di Tata Surya.

Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Para peneliti kini dengan bangga mengklaim telah berhasil menyusun apa yang mereka yakini sebagai peta paling lengkap dan terperinci yang pernah ada mengenai lanskap bawah es Antarktika, membuka tabir yang selama ini menyelimuti benua terdingin di Bumi.

“Saya sangat bersemangat melihatnya dan menyaksikan seluruh dasar daratan Antarktika secara sekaligus,” ujar Profesor Robert Bingham, ahli glasiologi dari University of Edinburgh dan salah satu penulis studi. “Menurut saya, ini sangat luar biasa,” tambahnya, mengungkapkan kekagumannya terhadap pencapaian monumental ini.

Mungkin Anda juga tertarik:

  • Jasad pria yang hilang di gletser Antarktika ditemukan 65 tahun kemudian
  • Perubahan iklim: Gletser terbesar di Antarktika meleleh dengan cepat dan dapat pecah dalam 5-10 tahun, kata ilmuwan
  • Bongkahan es raksasa dari Antartika dalam jalur tabrakan dengan suaka margasatwa di Georgia Selatan

Pendekatan tradisional untuk memetakan dasar Antarktika selama ini mengandalkan pengukuran dari darat maupun udara menggunakan teknologi radar. Radar mampu menembus lapisan es yang di beberapa area mencapai ketebalan 4,8 kilometer. Namun, pemindaian ini seringkali terbatas pada garis survei atau lintasan tertentu yang bisa terpisah puluhan kilometer. Akibatnya, para ilmuwan terpaksa mengisi celah-celah kosong tersebut dengan perkiraan, meninggalkan banyak bagian daratan bawah es yang belum terpetakan secara detail.

Robert Bingham mengilustrasikan kesulitan ini dengan analogi yang kuat: “Bayangkan jika Dataran Tinggi Skotlandia atau Pegunungan Alpen di Eropa tertutup es, dan satu-satunya cara untuk memahami bentuknya adalah melalui penerbangan sesekali yang berjarak hanya beberapa kilometer. Tidak mungkin Anda bisa melihat semua gunung dan lembah tajam yang kita tahu ada di sana.” Analogi ini memperjelas betapa tidak memadainya metode lama dalam menangkap kompleksitas topografi bawah es Antarktika.

Melihat keterbatasan metode konvensional, para peneliti mengadopsi pendekatan revolusioner. Mereka menggabungkan data komprehensif tentang permukaan es yang diperoleh dari satelit dengan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip fisika yang mengatur pergerakan es. Informasi ini kemudian dicocokkan dengan data dari lintasan survei radar terdahulu, menciptakan gambaran yang jauh lebih lengkap dan akurat.

Helen Ockenden menggambarkan prinsip di balik metode ini dengan analogi yang mudah dipahami: “Ini sedikit mirip seperti saat Anda bermain kayak di sungai; jika ada batu di bawah air, terkadang muncul pusaran di permukaan yang memberi tahu Anda tentang keberadaan batu tersebut.” Ia melanjutkan, “Es jelas mengalir dengan cara yang sangat berbeda dari air, tetapi tetap saja, ketika es mengalir di atas punggungan atau bukit di dasar batuan… hal itu bermanifestasi pada topografi permukaan serta pada kecepatannya.” Ini berarti, perubahan pada permukaan dan aliran es adalah petunjuk tak langsung mengenai bentuk daratan di bawahnya.

Pendekatan baru ini tidak hanya mengonfirmasi keberadaan rangkaian pegunungan utama yang sebelumnya telah diketahui di Antarktika, tetapi juga berhasil mengungkap puluhan ribu bukit dan punggungan yang sama sekali belum pernah ditemukan. Lebih dari itu, detail di sekitar pegunungan dan ngarai yang selama ini terkubur di bawah lapisan es kini terlihat jauh lebih tajam dan jelas.

“Saya pikir sangat menarik untuk melihat semua lanskap baru ini dan mengetahui apa yang ada di sana,” ungkap Ockenden, yang kegembiraannya terasa melalui analogi: “Ini seperti saat Anda melihat peta topografi Mars untuk pertama kalinya, dan Anda akan merasa, ‘wah, ini sangat menarik, ini terlihat sedikit seperti Skotlandia,’ atau ‘ini tidak mirip dengan apa pun yang pernah saya lihat sebelumnya’.” Perasaan takjub ini menyoroti betapa mendasarnya perubahan perspektif yang dibawa oleh peta ini.

Di antara penemuan-penemuan yang paling menonjol adalah terungkapnya sebuah saluran dalam yang menakjubkan, terukir di dasar daratan Antarktika, tepatnya di area yang dikenal sebagai Cekungan Subglasial Maud. Saluran ini memiliki kedalaman rata-rata 50 meter, lebar enam kilometer, dan membentang sejauh hampir 400 kilometer, menunjukkan fitur geografis yang signifikan di bawah es.

Meskipun demikian, para peneliti mengakui bahwa peta yang baru dikembangkan ini kemungkinan bukan merupakan versi final. Pemetaannya masih mengacu pada asumsi-asumsi tertentu mengenai pola aliran es, yang seperti metode lainnya, membawa faktor ketidakpastian. Selain itu, masih banyak aspek mengenai batuan dasar dan sedimen yang terletak di bawah lapisan es yang belum sepenuhnya terungkap.

Kendati demikian, para ilmuwan lain secara luas menyepakati bahwa peta-peta ini merupakan langkah maju yang sangat berharga. Mereka menekankan bahwa nilai optimalnya akan tercapai jika dikombinasikan dengan survei lanjutan yang dilakukan dari darat, udara, dan ruang angkasa.

“Ini adalah produk yang sangat berguna,” kata Peter Fretwell, ilmuwan senior di British Antarctic Survey di Cambridge, yang meskipun tidak terlibat langsung dalam studi ini, telah banyak berkontribusi pada upaya pemetaan sebelumnya. Ia menambahkan, “Hal ini memberi kita kesempatan untuk mengisi celah di antara survei-survei tersebut,” menggarisbawahi potensi besar peta baru ini untuk melengkapi data yang sudah ada.

Para peneliti menegaskan bahwa pemahaman yang lebih rinci mengenai setiap punggungan, bukit, pegunungan, dan saluran yang baru terpetakan ini akan sangat krusial dalam menyempurnakan model komputer yang memprediksi bagaimana Antarktika akan berubah di masa depan. Bentang alam dan fitur-fitur dasar ini secara fundamental memengaruhi seberapa cepat gletser di atasnya bergerak, dan pada akhirnya, seberapa cepat gletser tersebut dapat menyusut dalam kondisi iklim yang semakin memanas.

Pentingnya studi ini tidak dapat diremehkan, mengingat kecepatan pencairan es di Antarktika di masa depan diakui secara luas sebagai salah satu ketidakpastian terbesar dalam sains iklim global. Dengan data yang lebih akurat, para ilmuwan dapat membuat proyeksi yang lebih andal.

“Studi ini memberikan gambaran yang lebih baik tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan seberapa cepat es di Antarktika akan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global,” tegas Fretwell, merangkum dampak signifikan dari temuan ini bagi masa depan planet kita.

Penelitian inovatif ini telah dipublikasikan dalam jurnal akademik bergengsi, Science.

  • Lapisan es laut Antarktika terus mencair, mencetak rekor terendah
  • Argoland, benua yang hilang ratusan juta tahun lalu jadi kunci asal usul keanekaragaman fauna Indonesia
  • Lapisan es di Antarktika Timur mulai mencair, ‘raksasa tidur’ yang berpotensi memicu kenaikan permukaan laut

Advertisements