
DIREKTUR PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah pada Senin pekan depan masih akan melemah di kisaran Rp 16.780 – 16.810 per dolar AS. Pelemahan kurs ini melanjutkan tren pada akhir pekan ini.
“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Jumat, 30 Januari 2026. Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat kemarin melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.786 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.755 per dolar AS.
Ibrahim melihat pelemahan akibat faktor politik di Amerika Serikat perihal calon Ketua Federal Reserve atau bank sentral Negeri Paman Sam. Selain itu ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran masih berlanjut.
Di dalam negeri, ada faktor Bank Indonesia yang terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus menumbuhkan kepercayaan pasar global di tengah meningkatkan volatilitas keuangan internasional.
Pengelolaan dilakukan dengan memerhatikan dinamika suku bunga global, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. “Langkah ini dinilai krusial untuk meredam dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik,” ucap Ibrahim.
Kemudian Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan transformasi ekonomi melalui lima sinergi strategis, yaitu stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, percepatan hilirisasi industri, penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan, serta akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional.
Bank Indonesia juga terus mengimplementasikan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Ini juga termasuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta ekonomi syariah. “Guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutur Ibrahim.
Pilihan Editor: Mengapa Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah