
MANTAN Plt Kasubdit Fasilitasi Sarana, Prasarana, dan Tata Kelola Direktorat Sekolah Menengah Pertama pada Kemendikbudristek, Cepy Lukman Rusdiana, mengaku berinisiatif mengambil rekaman layar sebuah pertemuan virtual yang membahas tentang spesifikasi Chromebook secara diam-diam. Cepy merasa perlu melakukan hal itu karena dia curiga wacana pengadaan yang mengarah pada satu merek, yakni ChromeOS, akan segera terjadi.
Dia menjelaskan, kecurigaan itu mulai muncul sejak pemaparan pihaknya soal rencana pengadaan TIK dipotong. Saat itu pihaknya masih mengacu pada pengadaan peralatan Lab Komputer untuk Proses Belajar Mengajar (PBM) pada 2019.
“Kemudian baru saya ber-WA dengan Bu Poppy, ‘ini bahaya enggak?’ gitu, karena ini sudah mengarah (ke Chromebook),” kata Cepy saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa, 13 Januari 2026.
Pada video hasil rekaman layar tersebut yang ditampilkan di sidang hari ini, terdengar diskusi sejumlah orang. Berdasarkan suara-suara itu, Cepy menyatakan, turut hadir dalam rapat yang tidak ia sebutkan tanggal peristiwanya, Fiona Handayani, Anindito Aditomo, dan Ibrahim Arief alias Ibam.
“Jadi kita mau apa usulannya apakah ada satu komputer yang harus Windows dan sisanya harus Chrome atau atau gimana? Itu rekomendasinya gimana sekarang kalau dari diskusi ini?” terdengar suara perempuan yang menurut keterangan Cepy adalah Fiona.
Setelah itu, suara Ibam terdengar menyahuti pertanyaan yang dilontarkan. “Intinya kita nggak nge-require langsung nih harus Chrome. Cuma karena ada satu kebutuhan untuk bisa manage device-nya secara massal seperti ini, itu yang bikin memang solusi atau opsi yang apa yang murah juga di lapangan ya itu via Chromebook,” kata Ibam.
Suara yang sama itu kemudian menjelaskan, perawatan perangkat via Windows membutuhkan biaya yang lebih banyak, mengingat sistemnya yang memerlukan pembaruan langganan setiap tahun. Sementara, menurut dia biaya itu bisa ditekan dengan menggunakan Chromebook yang hanya perlu melakukan pembayaran satu kali di muka pada saat pembelian.
“Jadi itu, itu salah satu preference juga kenapa (Chromebook). Malah proposenya biar harganya lebih murah dan itu bisa provide lebih banyak laptop untuk mahasiswa dan siswa di seluruh Indonesia,” ujar Ibam.
Berdasarkan pemahaman Cepy, Ibam menjelaskan tentang spesifikasi dan penambahan Chrome device management pada rapat tersebut. “Kemudian kalau tidak salah saat itu Pak Anindito menanyakan dengan spesifikasi seperti itu, kalau tidak salah, kalaupun tidak dituliskan operating system-nya Chrome OS, apakah sudah bisa mengarah ke Chrome OS? Betul, karena CDM itu kan Chrome Device Management, itu sudah pasti ChromeOS dan Chromebook gitu di situ. Jadi arahnya memang sudah harus ke sana,” ujar Cepy.
Ia merasa rangkaian situasi saat itu aneh karena dia seakan dipaksa untuk beralih ke Chromebook dan benar-benar mengabaikan mekanisme yang selama ini diterapkan begitu saja. “Sudah diputus saja, dikasih yang baru, dan spesifikasinya sudah ditentukan, kemudian jumlahnya juga sudah ditentukan, segala macam. Sudah, jadi kami berinisiatif merekam itu,” ujarnya.
“Jadi Saudara merekam itu karena menganggap ini sudah berbahaya ya karena sudah diarahkan ke salah satu OS ini ya?” tanya Jaksa.
“Betul,” balas Cepy.
Pilihan Editor: Dakwaan Krusial Dugaan Korupsi Laptop Nadiem Makarim
