
Dampak penguasaan Amerika Serikat terhadap Venezuela terhadap harga minyak dunia memang masih terlalu dini untuk diprediksi secara konkret. Namun, bagi Indonesia, situasi ini dinilai sangat sensitif, terutama mengingat statusnya sebagai negara pengimpor minyak. Para analis memandang bahwa dalam jangka panjang, tindakan AS ini berpotensi memposisikannya sebagai kekuatan dominan atas sumber energi dunia, sebuah skenario yang secara tidak langsung akan sangat memengaruhi Indonesia.
Ketenangan Caracas mendadak pecah oleh dentuman besar yang terdengar bertepatan dengan serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (03/01) dini hari.
Menyikapi eskalasi tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas segera bergerak cepat untuk memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di sana. Dari data agregat yang tercatat di Perwakilan RI, terdapat 50 WNI yang berdomisili di Caracas. “Semua WNI dalam kondisi aman,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang.
Tak lama setelah insiden dentuman kuat di wilayah Caracas dan sekitarnya terkonfirmasi, media sosial KBRI Caracas segera mengabarkan situasi terkini. Para WNI diimbau untuk tetap tenang dan segera menghubungi KBRI Caracas jika membutuhkan bantuan. Yvonne juga menambahkan bahwa koordinasi erat terus dilakukan dengan Duta Besar RI di Caracas, sesuai arahan Menteri Luar Negeri, guna memastikan keamanan dan keselamatan WNI di Venezuela tetap menjadi prioritas utama.
Pemerintah Indonesia turut mengeluarkan sikap resmi yang memprioritaskan perlindungan warga sipil. “Kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan penyelesaian secara damai melalui langkah de-eskalasi dan dialog,” ujar Yvonne, seraya menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB.

Menurut Suzie Sudarman, Dosen Senior di Departemen Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, serangan AS ini sejatinya mengincar pasokan minyak di Venezuela. “Jadi, sekarang adalah era di mana interest in financial power diinterpretasi ulang oleh Trump. Venezuela akan diambil demi minyak dan emasnya, juga ada lithium di situ,” jelas Suzie, menggarisbawahi motif ekonomi di balik tindakan geopolitik tersebut.
Lantas, bagaimana implikasi dari peristiwa ini bagi Indonesia? Dan bagaimana relasi historis Indonesia dengan Venezuela selama ini?
Bagaimana situasi terkini di Venezuela?
Setelah rentetan dentuman dan ledakan yang menguncang Caracas dan beberapa lokasi penting lainnya, seperti La Carlota, lapangan udara militer di pusat kota, serta pangkalan militer utama Fuerte Tiuna, pemadaman listrik melanda permukiman sekitar. Serangan tersebut juga meluas ke Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira, yang turut mengalami pemadaman listrik. KBRI Caracas mengonfirmasi situasi ini, dengan Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang menyatakan, “Di Negara Bagian Miranda dan Aragua mengalami pemadaman listrik di beberapa wilayah. Di Caracas, ada beberapa daerah yang terjadi pemadaman listrik seperti di wilayah Cumbres de Curomo dan wilayah Prados del Este.”

Meski demikian, pasokan listrik di wilayah Cumbres de Curomo telah kembali menyala sejak Minggu (4/1) sore waktu setempat, meskipun Prados del Este masih gelap. Layanan transportasi Metro di ibu kota juga masih terhenti hingga kini. Namun, aktivitas masyarakat di Caracas mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terlihat lebih aktif dibandingkan hari sebelumnya yang diliputi ketegangan akibat serangan. Saat itu, Caracas mendadak senyap dan gelap, membuat warga dilanda kekhawatiran akan serangan lanjutan.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah kawasan yang biasanya ramai dan sibuk, seperti Chacao, Altamira, dan Avenida Libertador di Caracas, terlihat lengang dari sore hingga malam. Pemerintah Venezuela pun telah menetapkan protokol keamanan ketat di berbagai wilayah. “Kondisi di lapangan saat ini terpantau jauh lebih kondusif. KBRI Caracas juga terus melakukan komunikasi intensif dengan WNI di Venezuela. Per hari Minggu siang waktu setempat, KBRI telah kontak para WNI lagi untuk memastikan semua dalam kondisi aman,” tambah Yvonne.
Di sisi lain, sebagian pendukung Maduro melakukan aksi demonstrasi pada Minggu sore, menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerah dan tidak akan tunduk pada negara mana pun yang berniat menguasai Venezuela. Sementara itu, pihak oposisi Maduro menunjukkan kehati-hatian dalam merayakan penangkapan tersebut. Kendati demikian, protokol keamanan ketat yang sempat diberlakukan pada Sabtu mulai diperlonggar. Sejumlah toko roti dan kedai kopi mulai beroperasi, dan sebagian warga berinisiatif berbelanja kebutuhan pokok sebagai stok, khawatir situasi bisa memburuk sewaktu-waktu.
Baca juga:
- AS tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan besar – Apa yang diketahui sejauh ini?
- Intelijen, pesawat tanpa awak dan senjata api: Bagaimana AS menangkap Maduro
Apa dampak serangan AS ke Venezuela bagi Indonesia?
Dalam tatanan geopolitik global, Suzie Sudarman menilai posisi Indonesia berpotensi menjadi “negara korban dalam skenario yang sedang dibangun Trump” melalui serangan AS ke Venezuela ini. Suzie menjelaskan bahwa Trump saat ini mendefinisikan kepentingan kekuasaan dengan membagi dunia dalam tiga kategori: negara adidaya, negara non-demokratis dengan lingkup pengaruh, dan negara-negara yang akan dimanipulasi demi terwujudnya kategori-kategori tersebut. Negara-negara dalam kategori ketiga, yang berpotensi menjadi korban manipulasi, sangat rawan bagi Indonesia. “Kalau dikategorikan seperti itu, sangat membahayakan bagi Indonesia. Apalagi kita saat ini kurang pandai, kurang siap, dan sebagainya,” kata Suzie, menyoroti kerentanan Indonesia.
Baca juga:
- Donald Trump ingin mengendalikan minyak Venezuela, bagaimana caranya?
- Siapa Delcy Rodriguez, pemimpin Venezuela pengganti Nicolas Maduro?
Analisis Suzie juga mengemukakan bahwa wilayah pengaruh AS memang telah menjangkau negara-negara Amerika Latin. Hal ini terlihat dari respons beragam negara-negara di kawasan tersebut pasca-serangan dan penangkapan Maduro; Brasil, Meksiko, dan Uruguay mengecam “intervensi pemerintahan” AS yang dinilai melanggar hukum internasional, sementara Argentina, Paraguay, dan Ekuador mengapresiasi penangkapan Maduro. Meskipun dinamika geopolitik di Venezuela ini belum memberikan dampak langsung yang signifikan bagi Indonesia dalam jangka pendek, pemerintah Indonesia semestinya sudah mulai membangun jejaring pengaman melalui berbagai regulasi yang tepat sasaran, baik secara politik maupun ekonomi. Suzie memprediksi masa pemerintahan Trump masih akan berlangsung beberapa tahun ke depan, sehingga pemahaman mendalam tentang lanskap geopolitik global menjadi krusial. “Harus ada orang yang lihai dan bijak, serta menguasai peta geopolitik dan paham hubungan internasional. Bisa jadi suram jika tidak di tangan yang tepat, apalagi lalu dimanipulasi saat kita sedang lemah-lemahnya karena tidak ditangani yang mahir,” ujar Suzie, yang memandang penerapan politik bebas aktif Indonesia kini semakin samar.
Suzie juga mengingatkan Indonesia untuk berhati-hati. Dengan penguasaan AS di Venezuela, dominasi AS sebagai negara adidaya akan semakin menguat. Minyak Venezuela, menurutnya, berperan ganda: memperkuat posisi tawar AS di dalam negeri yang membutuhkan anggaran besar, sekaligus sebagai alat menekan di panggung global. “Dia punya bantal berupa minyak ini,” ucapnya, merujuk pada pernyataan Trump pasca-serangan bahwa Washington akan sangat terlibat dalam industri minyak Venezuela.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengakui bahwa Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global karena statusnya sebagai pengimpor. Namun, lonjakan harga akibat peristiwa di Venezuela ini diprediksi masih terbatas dalam jangka pendek. Persoalan krusialnya terletak pada potensi penguasaan AS terhadap Venezuela dalam jangka panjang, yang dapat menempatkan Amerika sebagai salah satu kekuatan dominan atas sumber energi global. Situasi ini dinilai Faisal sangat berisiko, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga tata kelola dan geopolitik global. “Indonesia, secara tidak langsung, juga akan terdampak dalam jangka panjang,” tegas Faisal.
Venezuela, dengan cadangan minyak terbesarnya di dunia, secara historis sangat bergantung pada industri ini. Namun, perannya dalam produksi dan ekspor global telah menurun drastis sepanjang 20 tahun terakhir. “Karena mismanajemen dan infrastruktur yang menua, produksinya terus menurun. Yang besar saat ini adalah cadangannya, bukan produksinya,” terang Faisal. Produksi minyak Venezuela saat ini berkisar 1 juta barel per hari, kurang dari 1 persen produksi minyak global, dengan separuhnya diekspor. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Rusia yang nilai ekspornya mencapai USD 122,5 miliar pada 2024, sementara Venezuela hanya berkisar USD 9,8 miliar. Posisi Venezuela yang pernah masuk lima besar eksportir minyak pada 2005, kini merosot ke ranking 24 berdasarkan data Trade Map 2024. Oleh karena itu, Faisal berpendapat bahwa situasi di Venezuela tidak serta-merta akan mengguncang pasar minyak global secara drastis, berbeda dengan ketegangan Iran-Israel yang pernah menyebabkan harga minyak melonjak hingga USD 80 per barel.
Namun, sepak terjang AS selama ini menunjukkan adanya tujuan jangka panjang. Sasaran pada Venezuela, yang telah diincar bertahun-tahun, didorong oleh kebutuhan AS akan pasokan minyak berat. Cadangan minyak Venezuela yang sangat besar memang didominasi jenis minyak berat, sehingga sangat menarik minat AS untuk menguasainya. “Refinery atau kilang di Texas dan Louisiana selama ini bergantung pada pasokan minyak berat dari Amerika Latin, termasuk Venezuela. Jadi, meskipun AS surplus produksi minyak ringan, mereka tetap membutuhkan minyak berat dari luar,” papar Faisal. Dengan penguasaan Venezuela, AS berpeluang besar untuk kembali mendominasi sektor energi global dan mengalihkan ketergantungan dunia pada minyak Timur Tengah, memungkinkan AS berperan kembali sebagai kunci pasokan energi Barat.
Bagaimana relasi Indonesia dan Venezuela?
Indonesia dan Venezuela telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1959, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Soekarno, melalui gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika yang diinisiasinya, sangat populer di negara-negara Amerika Latin, termasuk Venezuela. Bahkan, ia disebut mirip Simon Bolivar, dengan foto-fotonya terpajang di sekolah-sekolah Venezuela. Suzie Sudarman menjelaskan bahwa Indonesia memang pernah memiliki hubungan politik luar negeri yang erat dengan Venezuela sebagai sesama negara non-blok. Namun, situasi berubah drastis memasuki era Orde Baru.
“Sejak menjadi Orde Baru, tentunya mencoba untuk menjauh dari Chavez (Hugo Chavez) waktu itu. Chavez ini kan seperti Gaddafi yang anti-Amerika,” ujar Suzie. Ketika rezim Orde Baru runtuh, hubungan Indonesia dan Venezuela kembali menghangat. Pada Agustus 2000, Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengundang Presiden Venezuela, Hugo Chavez, untuk berkunjung ke Indonesia. Pada Oktober 2000, giliran Gus Dur yang melakukan kunjungan balasan ke Venezuela untuk menghadiri KTT OPEC di Caracas.
Memasuki periode pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, relasi Indonesia-Venezuela kembali berjarak. Saat itu, Indonesia membutuhkan impor minyak dengan harga murah, dan Venezuela bersedia dengan syarat Presiden Chavez bisa berkunjung ke Indonesia. “SBY enggak mau. Syaratnya Chavez bilang mau berjabat tangan dan dipotret tapi akhirnya ditolak, karena ketakutan sama Amerika Serikat. Chavez ini kan musuh Amerika,” kata Suzie. Terlihat jelas bahwa meskipun ada keinginan untuk mendapatkan minyak murah, Indonesia enggan mengambil risiko terlihat pro-Chavez karena kekhawatiran akan reaksi AS. Suzie menambahkan, “Nah, Maduro ini enggak ada kelanjutan dari Indonesia kepada Venezuela itu bagaimana, atau pandangannya terhadap Venezuela juga tidak artikulatif secara jelas.” Sikap tidak artikulatif Indonesia ini, menurutnya, disebabkan oleh kebutuhan besar Indonesia akan dana dan investasi dari AS, terutama dengan adanya tarik-ulur persoalan tarif dagang.
Meskipun hubungan perdagangan, kerja sama sektor pariwisata, hingga pendidikan melalui pertukaran beasiswa tetap terjalin, Indonesia berupaya menjaga sikap netral dan berhati-hati dalam merespons serangan yang baru-baru ini terjadi di Venezuela. Ini mencerminkan upaya Indonesia menyeimbangkan prinsip-prinsip politik luar negeri dengan realitas kepentingan ekonomi global.
- Operasi CIA di Indonesia: Film porno, daftar perburuan komunis, hingga Metode Jakarta
- Krisis Venezuela: Mengapa Rusia dan Amerika Serikat begitu tertarik dengan negara ini?
- Donald Trump ingin mengendalikan minyak Venezuela, bagaimana caranya?
Ringkasan
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela yang menyebabkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari dini hari memicu ledakan dan pemadaman listrik luas di Caracas serta sekitarnya. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas segera memastikan 50 WNI dalam kondisi aman, mengimbau ketenangan, dan pemerintah Indonesia menyerukan penyelesaian damai dengan menghormati hukum internasional. Meskipun dampak langsung terhadap harga minyak global masih terlalu dini diprediksi, situasi ini sangat sensitif bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Para analis menilai serangan ini bertujuan menguasai cadangan minyak besar Venezuela, berpotensi menjadikan AS kekuatan dominan atas sumber energi dunia dalam jangka panjang. Skenario ini, menurut ahli, menempatkan Indonesia pada posisi rentan secara ekonomi dan geopolitik. Meskipun relasi historis Indonesia-Venezuela pernah erat namun berjarak karena pengaruh AS, Indonesia kini berupaya menjaga netralitas, sambil tetap waspada terhadap potensi dampak jangka panjang bagi kepentingannya.
