
YOGYAKARTA – Dosen hukum tata negara Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Zainal Arifin Mochtar, baru-baru ini menjadi sasaran teror melalui panggilan telepon. Ia mengungkapkan, pada Jumat, 2 Januari 2026, ia menerima telepon dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai anggota kepolisian, mengancam akan melakukan penangkapan jika Zainal tidak segera menghadap.
Kronologi insiden teror telepon ini dibagikan Zainal melalui akun Instagram pribadinya, @zainalarifinmochtar, pada tanggal yang sama. Dalam unggahannya, ia menyertakan tangkapan layar panggilan telepon dari nomor mencurigakan tersebut, yakni +6283817941429.
“Baru saja masuk telepon ini. Mengaku dari Polresta Yogyakarta, meminta saya segera menghadap dan membawa KTP, jika tidak akan segera melakukan penangkapan,” tulis Zainal, mengutip isi percakapan yang diterimanya. Ia menambahkan bahwa penelepon tersebut berbicara dengan nada dan intonasi yang sengaja diberatkan, seolah menunjukkan otoritas tertentu.
Merespons panggilan teror ini, Zainal Arifin Mochtar mengaku tidak gentar. Ia bahkan mengungkapkan bahwa ini bukan kali pertama ia menerima telepon serupa dalam beberapa hari terakhir. “Siapapun tahu, modus seperti ini adalah penipuan dan tidak jelas,” tegasnya, menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap ancaman tersebut. Ia hanya tertawa, mematikan ponsel, dan melanjutkan aktivitasnya.
Guru besar hukum tata negara ini menyoroti fenomena maraknya penipuan serupa. Menurutnya, hal ini terjadi karena lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku dan minimnya perlindungan data pribadi warga negara. Ia menyayangkan bagaimana data warga dengan mudah diperjualbelikan, sehingga banyak orang menjadi target empuk aksi penipuan berkedok polisi. Sikap tegas Zainal yang tak gentar menghadapi teror ini menunjukkan keprihatinannya terhadap kebebasan ruang gerak penipu di Indonesia.
Insiden teror telepon terhadap Zainal Arifin Mochtar ini bukanlah kasus tunggal. Peristiwa ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah serangkaian aksi teror serupa menimpa para aktivis dan influencer yang secara vokal mengkritik penanganan bencana di Sumatera. Saat dikonfirmasi oleh Tempo, Zainal menyatakan tidak menaruh curiga apakah ada pernyataan keras yang ia sampaikan terkait kritik terhadap pemerintah sebelum kejadian ini.
Rangkaian teror terhadap pengkritik pemerintah ini mencakup beberapa nama. Sebelumnya, musisi asal Aceh, Ramond Dony Adam yang dikenal sebagai D.J. Donny, menerima kiriman bangkai ayam, surat ancaman, bahkan bom molotov. Di Aceh pula, influencer Shery Annavita melaporkan dikirimi sekantung telur busuk dan menjadi korban vandalisme pada mobilnya.
Tidak hanya individu, teror juga menyasar organisasi lingkungan. Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga dikirimi bangkai ayam disertai pesan bernada ancaman. Teror yang menimpa Iqbal ini kuat dugaan berkaitan erat dengan kerja-kerjanya sebagai pengkampanye Greenpeace, terutama kritik tajamnya terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan bencana Sumatera yang belakangan menjadi sorotan publik.
Kasus-kasus ini menyoroti pola intimidasi yang tampaknya menargetkan mereka yang berani menyuarakan kritik. Artikel ini disusun berdasarkan kontribusi dari Ervana Trinakaputri dan Hendrik Yaputra.
