
SEORANG pejabat senior Venezuela mengatakan kepada New York Times seperti dikutip TRT World bahwa warga sipil dan tentara tewas selama operasi Amerika Serikat yang menargetkan untuk menculik Presiden Nicolas Maduro.
Mengutip seorang pejabat senior Venezuela yang berbicara dengan syarat anonim, laporan tersebut mengatakan, “Setidaknya 40 orang, termasuk warga sipil dan tentara, tewas dalam serangan itu.”
Para pejabat AS mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa serangan itu melibatkan kampanye udara skala besar yang bertujuan untuk melumpuhkan pertahanan udara Venezuela sebelum pasukan darat dikerahkan.
“Lebih dari 150 pesawat AS dikerahkan untuk melumpuhkan pertahanan udara sehingga helikopter militer dapat mengirimkan pasukan yang menyerang posisi Maduro,” kata laporan itu, mengutip para pejabat AS.
Tidak ada konfirmasi publik langsung dari Gedung Putih atau Pentagon mengenai jumlah korban atau cakupan penuh operasi tersebut.
Pasukan AS menangkap dan menerbangkan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, keluar dari Venezuela pada Sabtu pagi dalam apa yang digambarkan Presiden AS Donald Trump sebagai operasi dramatis semalam.
Trump mengatakan Amerika Serikat akan memimpin Venezuela hingga “transisi yang aman, tepat, dan bijaksana” terjamin.
Jaksa federal di Distrik Selatan New York membuka dakwaan pada Sabtu pagi, menuduh Maduro dan Flores menyelundupkan “berton-ton kokain” ke Amerika Serikat, bersama dengan kejahatan lain yang diduga dilakukan.
Para kritikus memperingatkan bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional, mengabaikan Kongres AS, dan berisiko menimbulkan ketidakstabilan lebih lanjut di seluruh Venezuela dan wilayah yang lebih luas.
Tiba di New York
Maduro seperti dilaporkan Al Jazeera dikawal keluar dari pesawat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York, Amerika Serikat pada Sabtu waktu AS atau Ahad pagi WIB 4 Januari 2026.
Pemimpin Venezuela yang ditangkap itu terlihat dalam rekaman buram mengenakan jaket biru dengan wajah ditutup.
Ia dikawal menuruni tangga pesawat oleh pejabat AS dan dikelilingi oleh puluhan petugas penegak hukum saat berjalan di landasan pacu, seperti yang terlihat dalam rekaman tersebut.
Seperti dilaporkan ABC News, Maduro dipindahkan dengan pesawat pemerintah AS dari pangkalan militer AS di Gitmo ke New York.
Maduro kini diperkirakan akan naik helikopter ke Kota New York, didampingi oleh Badan Narkotika AS (DEA). Ia kemudian akan menuju lokasi di Kota New York dengan iring-iringan kendaraan untuk diproses sebelum ditahan di penjara.
Maduro didakwa pada 2020 di Distrik Selatan New York atas konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan pelanggaran senjata karena diduga berkolusi dengan kelompok pemberontak Kolombia yang dikenal dengan inisialnya, FARC, untuk “membanjiri” AS dengan kokain.
“Seperti yang dituduhkan, Maduro dan para terdakwa lainnya secara tegas bermaksud membanjiri Amerika Serikat dengan kokain untuk merusak kesehatan dan kesejahteraan bangsa kita. Maduro dengan sangat sengaja menggunakan kokain sebagai senjata,” klaim Jaksa Agung AS saat itu, Geoffrey Berman, ketika dakwaan diumumkan.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar negeri, tetapi tidak mengungkapkan ke mana AS akan membawanya.
Meskipun sumber tidak menyebutkan secara spesifik di mana Maduro akan ditahan, para terdakwa yang menunggu persidangan di pengadilan federal di Manhattan biasanya ditahan di MDC-Brooklyn.
Maduro terancam hukuman empat kali penjara seumur hidup dalam dakwaan pidana yang diajukan di Amerika Serikat, menurut dokumen pengadilan seperti dilansir Sputnik dan dikutip Antara.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan segera menjalani persidangan di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Pada Maret 2020, Maduro dan sejumlah pihak yang diduga bersekongkol dengannya didakwa dalam empat perkara.
Dakwaan itu meliputi konspirasi terkait narkoterorisme, penyelundupan kokain ke Amerika Serikat, penggunaan dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak dalam kegiatan narkoterorisme.
Selain itu, Maduro juga didakwa bersekongkol memiliki dan menggunakan senjata serta alat peledak tersebut.
Masing-masing dakwaan itu memiliki hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Namun, dakwaan narkoba terhadap Maduro membuat marah banyak pihak. Sebab, Trump pada 16 Desember lalu mengampuni mantan presiden Honduras Juan Orlando Hernández, yang sebelumnya telah divonis bersalah di pengadilan AS atas tuduhan perdagangan narkoba serupa.
Seperti dilaporkan Axios, perang narkoba Trump memang sensasional, tetapi tidak selalu memprioritaskan jalur masuk narkoba ke Amerika Serikat.
AS menangkap Maduro dalam semalam setelah berminggu-minggu tekanan diplomatik dan militer, mengirimkan armada besar di lepas pantai Venezuela dan berulang kali menenggelamkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di dekat perairannya.
Venezuela adalah titik transit untuk kokain yang menuju AS, meskipun Badan Narkotika AS (DEA) mengatakan sebagian besar masuk melalui Meksiko. Sebagian besar kokain yang mencapai AS dibudidayakan di Kolombia, tetangga Venezuela.
Venezuela bukanlah sumber fentanyl yang signifikan, meskipun Trump juga mengklaim menargetkan pengiriman fentanyl. Rantai pasokan fentanyl biasanya mengalir dari Cina, melalui Meksiko, ke AS.
Dakwaan terhadap bahkan Maduro tidak menyebutkan fentanyl, meskipun Trump telah menyatakannya secara terbuka.
Perang melawan narkoba AS terhadap Venezuela disinyalir bukan tentang narkoba, tetapi tentang ideologi. Maduro telah berselisih dengan AS dan Trump secara pribadi selama satu dekade.
Pilihan Editor:
