
PERUSAHAAN minyak milik negara Venezuela, Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA), mengatakan bahwa pihaknya sedang mengadakan negosiasi perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat untuk penjualan minyak mentah.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di kanal Telegram-nya seperti dilansir Xinhua dan dikutip Antara pada Kamis, PDVSA mengatakan kedua belah pihak sedang membahas “penjualan volume minyak”, dan bahwa proses itu dilakukan menggunakan “skema serupa dengan yang saat ini diterapkan pada perusahaan-perusahaan internasional, seperti Chevron”.
Pengumuman tersebut disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Venezuela akan memasok AS dengan minyak berkualitas tinggi.
AS melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Venezuela pada 3 Januari dini hari, menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, kemudian menahan mereka di New York.
AS menuai kecaman dan protes luas menyusul serangan militer terhadap Venezuela itu.
Tindakan AS itu oleh banyak pihak dianggap sebagai pelanggaran hukum yang terutama didorong oleh keinginan untuk menguasai cadangan minyak Venezuela yang melimpah.
Chevron Bersaing dengan Perusahaan Swiss
Perusahaan minyak besar AS, Chevron, perusahaan perdagangan global Vitol, serta pedagang, produsen, penyuling minyak lainnya bersaing untuk memenangkan kesepakatan ekspor minyak mentah Venezuela. Ini sebagai bagian dari pembicaraan mereka dengan pejabat AS untuk mendapatkan lisensi untuk berbisnis dengan negara tersebut, kata sumber industri pada Kamis seperti dilansir Yahoo Finance.
Perusahaan-perusahaan tersebut melobi pemerintah AS untuk mendapatkan bagian dari ekspor minyak yang menguntungkan di masa depan dari produsen Amerika Selatan usai pengumuman Washington tentang kesepakatan awal senilai US$2 miliar untuk memasok minyak Venezuela ke AS dan mungkin pasar lainnya.
Chevron, yang saat ini merupakan satu-satunya perusahaan asing dengan otorisasi AS untuk mengekspor minyak Venezuela, sedang mencari otorisasi dari Washington untuk memperluas lisensi operasinya di Venezuela setelah AS memberlakukan pembatasan terhadapnya tahun lalu, kata sumber pada Rabu.
Sebagai bagian dari permintaannya, perusahaan tersebut mengusulkan untuk meningkatkan ekspor minyak mentah dari usaha patungannya untuk dijual kepada pihak ketiga, dan juga untuk memperdagangkan setidaknya sebagian dari produksi individual PDVSA yang dikelola negara, kata dua sumber pada Kamis.
Di bawah kesepakatan luas yang disetujui pada akhir tahun 2022, Chevron dapat beroperasi dan memperluas bisnis di Venezuela bersama PDVSA, yang memungkinkannya untuk memulihkan miliaran dolar utang yang tertunda. Namun, pembatasan lisensi telah menurunkan ekspor minyak mentah Venezuela menjadi sekitar 100.000 barel per hari pada Desember.
Sumber-sumber tersebut meminta anonimitas untuk membahas informasi rahasia. Chevron dan PDVSA tidak segera menanggapi permintaan komentar. PDVSA mengatakan pada Rabu bahwa negosiasi terkait kesepakatan pasokan minyak dengan AS sedang berjalan.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Pedagang komoditas yang berbasis di Swiss, Vitol dan Trafigura, diperkirakan akan berada di Gedung Putih pada Jumat 9 Januari 2026 untuk pembicaraan tentang pemasaran minyak Venezuela, kata sumber kepada Reuters sebelumnya pada Kamis.
Vitol telah menerima lisensi khusus pendahuluan dari pemerintah AS untuk memulai negosiasi impor dan ekspor minyak dari Venezuela selama 18 bulan.
Pilihan Editor: Cina dan Spanyol Kecam AS karena Kuasai Minyak Venezuela
