Alasan Komisi XI DPR memilih Thomas jadi deputi gubernur BI

KOMISI XI Dewan Perwakilan Rakyat telah memilih Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru. Proses pemilihan dilakukan setelah uji kelayakan dan kepatutan terhadap tiga kandidat selesai pada Senin, 26 Januari 2026. Setelah itu, keputusan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan berjalan pada Selasa, 27 Januari 2026 untuk disetujui oleh pimpinan DPR RI.

Advertisements

Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun menilai pengalaman dan pengetahuan fiskal yang dimiliki Thomas Djiwandono dapat melengkapi kapasitasnya ketika menjabat sebagai Deputi Gubernur BI. Hal itu disampaikan Misbakhun menjawab pertanyaan publik ihwal Thomas yang tidak memiliki rekam jejak di bidang moneter.

“Jabatan Deputi Gubernur BI adalah jabatan kolektif-kolegial di dalam sebuah forum Dewan Gubernur. Jadi menurut saya, pengalaman di monetary policy itu bisa diperkuat ketika Pak Thomas mempunyai pengalaman di fiscal policy. Jadi saling melengkapi. Dan itu bisa berjalan dalam proses selanjutnya,” kata Misbakhun mengutip Antara, Selasa, 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan bank sentral Indonesia bekerja berdasarkan undang-undang dengan pengambilan keputusan dilakukan oleh Dewan Gubernur secara kolektif kolegial. “Ada gubernur sebagai Gubernur BI dalam sebuah Dewan Gubernur BI. Kemudian ada deputi gubernur senior dan deputi gubernur. Jadi tidak bisa dikatakan masing-masing itu berdiri sendiri-sendiri. Ada kolektif kolegial,” kata Misbakhun.

Advertisements

Ia menilai Thomas merupakan sosok yang profesional. Hal ini diperkuat pada pernyataan penutup Thomas dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono ketika uji kepatutan dan kelayakan dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 26 Januari 2026. Tempo/Amston Probel

Ketika ditanya mengenai pertimbangan Komisi Keuangan memilih Thomas sebagai Deputi Gubernur BI, Misbakhun mengatakan Wakil Menteri Keuangan tersebut merupakan figur yang bisa diterima oleh semua partai politik. Selain itu, ia menilai, pemaparan Thomas dalam uji kelayakan dinilai relevan dengan situasi saat ini di mana kebijakan moneter dan fiskal harus bersinergi lebih erat.

“(Keputusan diambil) secara musyawarah mufakat. Tidak ada catatan sama sekali. Bahkan banyak catatan-catatan yang masuk justru adalah catatan yang sangat positif, mengenai komitmen untuk memperkuat profesionalisme, independensi BI, dan sebagainya,” tutur Misbakhun.

Thomas Djiwandono menjadi kandidat terakhir yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI. Sebelumnya, dua kandidat lain yakni Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro yang berasal dari internal Bank Indonesia telah menyelesaikan uji tersebut.

Pilihan Editor: Masa Depan Integritas Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Advertisements