
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan pengunduran diri Yohanes Surya dari posisi Komisaris Independen. Senior Vice President Corporate Secretary Telkom, Jati Widagdo, menyebut keputusan itu berlaku sejak 20 November 2025.
“Perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan kaitannya dengan surat pengunduran diri yang diajukan oleh Bapak Yohanes Surya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Jati dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat, 21 November 2025.
Yohanes baru bergabung sebagai Komisaris Independen Telkom pada RUPS Tahunan Mei 2025. Ia masuk bersama sejumlah pejabat negara yang mendapat penugasan di dewan komisaris perseroan.
Sebelumnya, Surya dikenal sebagai fisikawan dan pengajar. Ia mendirikan Surya Institute pada 2006 dan kemudian berkembang menjadi sebuah kampus yang dikenal dengan Surya University yang pembangunannya dimulai pada 2013.
Perintis Tim Olimpiade Fisika Indonesia
Yohanes Surya lahir di Jakarta pada 6 November 1963. Ia menempuh pendidikan Fisika di Universitas Indonesia hingga 1986, kemudian mengajar di SMAK 1 Penabur Jakarta. Dua tahun setelahnya, ia melanjutkan studi magister dan doktoral di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat.
Saat menempuh studi doktoral, ketertarikannya pada kompetisi fisika tumbuh ketika kampusnya menjadi tuan rumah International Physics Olympiad (IPhO) ke-24. Bersama rekannya, Surya mendorong Universitas Indonesia menyeleksi siswa yang mewakili Indonesia. Upaya itu kemudian melahirkan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang dipimpinnya sejak 1994.
Selain melatih TOFI, Yohanes mengajar dan meneliti Fisika Nuklir di Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada 1995–1998.
Pencetak Prestasi Internasional
Di bawah didikan Surya, tim olimpiade Indonesia menorehkan prestasi di berbagai ajang sains internasional. Berdasarkan laman surya.ac.id, TOFI meraih 54 medali emas, 33 perak, dan 42 perunggu dari berbagai kompetisi internasional sepanjang kiprahnya.
Indonesia pernah keluar sebagai juara umum di International Junior Science Olympiad dan meraih penghargaan khusus untuk solusi teori dan eksperimen terbaik di Olimpiade Fisika Asia. Pada 2002, Indonesia bahkan menyabet tiga emas ketika menjadi tuan rumah IPhO ke-33.
Inovator Metode GASING
Kontribusi Yohanes tidak hanya melalui pembinaan olimpiade. Ia juga memperkenalkan metode GASING, singkatan dari Gampang, Asyik, dan Menyenangkan. Ini merupakan metode untuk memudahkan siswa memahami pelajaran eksakta.
Ia aktif melatih guru di berbagai daerah agar pendekatan pembelajaran yang lebih ramah kepada siswa bisa diterapkan luas. Bagi Surya, guru yang baik adalah guru yang bisa menginspirasi muridnya. “Guru yang baik adalah guru yang bisa mengajarkan muridnya dengan mudah, ceria, dan senang,” kata Surya dikutip dari keterangan tertulis di situs surya.ac.id.
Masuk Bursa Menteri
Pada tahun 2014, Yohanes Surya masuk salah satu sosok yang berpotensi menjadi menteri di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Namanya masuk dalam radar berdasarkan polling Jokowi Center dan Radio Jokowi membuka polling dengan nama Kabinet Alternatif Usulan Rakyat.
Nama-nama para profesional atau politikus disodorkan untuk menjadi menteri pembantu presiden. Pada Menteri Riset dan Teknologi, ada sejumlah nama peneliti seperti I Gede Wenten, Romi Satria Wahono, dan Yohannes Surya.
Yohanes lebih memilih ditempatkan sebagai pemberi masukan pada presiden atau menteri-menteri tentang riset yang perlu dikembangkan di Tanah Air. “Saya ini bukan birokrat. Kalau masuk dalam sistem birokrasi, apa saya mampu?” kata Yohanes ketika dihubungi, Jumat, 25 Juli 2014.
Dia mengatakan lebih baik berada di luar sistem dan siap berkontribusi membangun bangsa. Namun Yohannes berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk masuk bursa menteri. Menurut dia, pengembangan riset di Indonesia tak hanya aplikasi, tapi juga yang fundamental, yaitu budaya riset. “Kita tak boleh kalah untuk riset tentang universe ataupun tentang otak,” tutur Yohannes.
Kesulitan Mengelola Universitas Surya
Keinginan Surya mendirikan kampus berbasi riset tidak berjalan mulus. Berdasarkan laporan Tempo pada 2017, baru emoat tahun beroperasi, kampus yang ia dirikan mulai ditinggalkan mahasiswa dan dosen karena terjerat utang kredit tanpa agunan di Bank Mandiri Rp 16 miliar.
Menurut Sri Suri, orang tua seorang mahasiswa teknik fisika angkatan 2014, dia terpaksa memindahkan anaknya perguruan tinggi lain. “Masalah keuangan yang menerpa kampus sudah terlalu berat. Saya khawatir dengan masa depan anak saya,” katanya saat ditemui Tempo pada pertengahan Juni 2017.
Pangkal penyebab kepindahan itu adalah jerat utang Universitas Surya kepada Bank Mandiri. Kampus yang mulai menggelar perkuliahan pada September 2013 itu masih memiliki kewajiban membayar sekitar Rp 16 miliar. Utang itu hasil kredit tanpa agunan berupa student loan yang pengajuannya dilakukan orang tua mahasiswa.
Berdasarkan data Bank Mandiri, nilai student loan yang dihimpun Universitas Surya mencapai Rp 43,5 miliar dari 300 orang tua. Jumlah itu sekitar seperempat dari jumlah total mahasiswa 1.247 orang. Ketidakmampuan kampus membayar ikut menyeret orang tua mahasiswa. Sebab, orang tualah yang menandatangani pengajuan kredit tanpa agunan (KTA) tersebut.
Saat ditemui Tempo, Yohanes Surya mengatakan optimistis bisa mengatasi masalah keuangan lembaganya. Doktor lulusan College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat ini, meyakini kampusnya bakal bangkit kembali. “Sebentar lagi masalah ini akan selesai,” ucapnya saat itu. Kampus Universitas Surya berada di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten.
Adil Al Hasan dan Friski Riana berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan Editor: Kisah Internet Starlink di Pedalaman Papua
