
Solderpanas Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (5/5/2026), ditopang penurunan harga minyak meski ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Melansir Reuters pada awal perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 95,2 poin atau 0,19% ke level 49.037,12.
Indeks S&P 500 menguat 32,9 poin atau 0,46% ke 7.233,62, sementara Nasdaq Composite naik 191,1 poin atau 0,76% ke posisi 25.258,88.
Bitcoin Tembus US$ 80.000, Didorong Arus ETF dan Sentimen Global
Sentimen pasar saat ini bergerak dinamis, dipengaruhi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, di tengah kekhawatiran gangguan jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.
Di sisi lain, harga minyak justru terkoreksi. Minyak Brent turun sekitar 2,1%, meski masih bertahan di atas level US$ 110 per barel.
Pelaku pasar menilai pergerakan saham didorong oleh kinerja emiten yang relatif solid, sehingga membantu menopang valuasi di tengah ketidakpastian global.
“Laba perusahaan yang lebih baik dari perkiraan menjadi penopang utama pasar saat ini,” ujar pelaku pasar.
Meski demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena perkembangan konflik berlangsung cepat dan kerap memunculkan informasi yang saling bertentangan.
GOTO Akui Dimiliki Danantara, Segini Porsi Kepemilikannya!
Analis juga mengingatkan bahwa pasar berpotensi mengalami koreksi jika risiko terburuk dari konflik belum sepenuhnya tercermin dalam harga aset.
Dari sisi sektoral, sejumlah saham mencatat penguatan. Archer-Daniels-Midland naik sekitar 1% setelah membukukan laba kuartal I yang melampaui ekspektasi.
DuPont menguat 1,8% usai menaikkan proyeksi laba tahunan.
Sementara itu, saham Pinterest melonjak 17,7% setelah memproyeksikan pendapatan kuartal II di atas ekspektasi analis.
Di sektor teknologi, Intel naik 3,8% setelah laporan menyebut Apple tengah menjajaki kerja sama produksi chip dengan Intel dan Samsung Electronics.
Berada di Fase Transisi, Pendapatan TOBA Melesat 20,5%, Rugi Menyusut Tajam
Ke depan, pelaku pasar menantikan rilis data pasar tenaga kerja AS, khususnya laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), yang akan menjadi indikator arah kebijakan moneter bank sentral AS.
