Dolar AS Melemah, Ini Daftar Mata Uang Potensial untuk Investasi

JAKARTA – Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) membuka peluang emas bagi investor ritel untuk mulai melirik pergerakan sejumlah mata uang global. Kondisi pasar saat ini dinilai memberikan momentum yang tepat untuk mengoleksi mata uang asing dengan prospek jangka pendek hingga menengah yang menjanjikan.

Advertisements

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (6/5/2026) pukul 15.48 WIB, mayoritas mata uang utama dunia tercatat menguat terhadap dolar AS. Pasangan mata uang EUR/USD naik 0,48% ke level 1,17, sementara GBP/USD menguat 0,53% ke posisi 1,36. Tren positif juga ditunjukkan oleh AUD/USD yang melonjak 0,95% ke level 0,72.

Penguatan signifikan turut dialami oleh NZD/USD yang naik 1,21% ke 0,59. Di sisi lain, mata uang yen Jepang menunjukkan performa yang solid, tercermin dari pasangan USD/JPY yang turun 1,11% ke level 156,14, serta USD/CHF yang melemah 0,44% ke 0,77.

Presiden HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyoroti bahwa di tengah tren pelemahan dolar AS, dolar Australia (AUD) dan yen Jepang (JPY) merupakan dua instrumen mata uang yang paling layak dicermati oleh investor ritel.

Advertisements

Kinerja Emiten Farmasi Bervariasi Kuartal I-2026, Ini Kata Analis

Menurut Sutopo, dolar Australia memiliki daya tarik tersendiri dari sisi imbal hasil (yield). Kebijakan bank sentral Australia yang agresif dalam mempertahankan suku bunga di level tinggi menjadikan AUD sebagai pilihan menarik bagi investor yang ingin memanfaatkan tren kebijakan moneter ketat.

“Di sisi lain, JPY menjadi aset spekulatif yang sangat menarik karena memiliki potensi pembalikan arah atau reversal yang cukup besar, setelah sebelumnya mengalami pelemahan yang cukup dalam,” ujar Sutopo saat dihubungi, Rabu (6/5/2026).

Ia menambahkan, penurunan harga minyak mentah global serta potensi intervensi lanjutan dari otoritas moneter Jepang diprediksi akan menjadi katalis kuat yang mendorong penguatan yen dalam waktu dekat.

Meskipun demikian, Sutopo mengingatkan bahwa pergerakan pasar mata uang ke depan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global, terutama situasi di kawasan Timur Tengah. Stabilitas geopolitik akan menjadi faktor penentu utama bagi kinerja mata uang berbasis komoditas maupun aset safe haven.

Rupiah Tertahan di Tengah Pelemahan Dolar AS, Ini Faktor Penahannya

Pandangan senada disampaikan oleh Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono. Menurutnya, yen Jepang tetap menjadi primadona bagi investor yang mencari peluang pembalikan tren jangka panjang atau mean reversion, mengingat valuasi mata uang tersebut saat ini masih tergolong undervalued.

Sementara itu, bagi investor yang ingin menangkap momentum pemulihan ekonomi global dan stabilitas harga energi, dolar Australia dinilai tetap menjadi opsi yang prospektif.

Terlepas dari berbagai peluang yang tersedia, Wahyu menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap waspada. Risiko ketegangan geopolitik yang meningkat serta potensi perubahan kebijakan yang mendadak dari bank sentral global harus tetap diperhitungkan dalam strategi investasi Anda.

Ringkasan

Pelemahan dolar Amerika Serikat saat ini memberikan momentum bagi investor untuk melirik mata uang global seperti Euro, Poundsterling, serta dolar Australia dan yen Jepang. Para analis menilai dolar Australia sangat menarik karena kebijakan suku bunga tinggi bank sentralnya, sementara yen Jepang dipandang sebagai aset spekulatif yang berpotensi mengalami pembalikan arah setelah pelemahan signifikan sebelumnya.

Meskipun terdapat peluang investasi yang menjanjikan, investor tetap diingatkan untuk mempertimbangkan risiko volatilitas pasar global. Faktor utama yang perlu dicermati mencakup dinamika geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, serta potensi intervensi kebijakan moneter dari bank sentral dunia. Strategi investasi yang hati-hati sangat disarankan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Advertisements