Ekonom soroti efektivitas BSF saat yield SBN dan rupiah masih rentan

Solderpanas JAKARTA. Rencana pemerintah mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) dinilai dapat menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah.

Advertisements

Instrumen ini disiapkan sebagai dana stabilisasi yang dapat digunakan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) ketika yield mengalami kenaikan terlalu tajam.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi berpandangan BSF efektif sebagai instrumen penahan lonjakan yield SBN jika tekanan pasar muncul dari aksi jual teknis, kekeringan likuiditas, atau kepanikan portofolio jangka pendek.

“Dana ini dapat hadir sebagai pembeli penyangga ketika harga SBN turun, sehingga yield tidak melonjak liar,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).

Advertisements

Ia menilai kondisi pasar saat ini masih memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan strategi tersebut. Per 7 Mei 2026, yield SBN tenor 10 tahun tercatat stabil di level 6,701%, sementara yield tenor 3 tahun turun tipis ke 6,542% dan tenor 5 tahun hanya naik sangat terbatas ke 6,781%.

Yield SBN Tinggi, Bond Stabilization Fund Dinilai Hanya Jadi Penyangga Stabilitas

Di saat yang sama, premi risiko Indonesia yang tercermin dari credit default swap (CDS) juga mengalami penurunan di berbagai tenor. CDS Indonesia tenor 5 tahun turun 2,978 basis poin (bps), sedangkan CDS tenor 10 tahun turun 2,344 bps.

Menurut Syafruddin, penurunan CDS menunjukkan pasar belum memandang risiko kredit Indonesia memburuk secara signifikan.

“Keberadaan BSF dapat meningkatkan kepercayaan investor, asalkan pemerintah menjelaskannya sebagai rem dini, bukan tanda darurat,” tandasnya.

Syafruddin pun menyebut investor akan lebih percaya jika BSF memiliki mandat jelas, seperti untuk menjaga likuiditas SBN, mencegah dislokasi harga, dan menahan arus keluar modal akibat capital loss.

Meski begitu, Syafruddin menilai BSF tidak cukup kuat apabila berdiri sendiri untuk menahan arus keluar dana asing. Menurutnya, investor tetap mencermati berbagai indikator lain seperti pergerakan rupiah, inflasi, CDS, defisit fiskal, hingga arah suku bunga global.

Saat ini, rupiah masih berada di level lemah sekitar Rp 17.333 per dolar Amerika Serikat (AS), meski menguat tipis secara harian. Di sisi lain, forward USD/IDR juga masih berada di atas level spot, yakni sekitar Rp 17.386 untuk tenor satu bulan dan Rp 17.435 untuk tenor tiga bulan.

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Jumat (8/5), Cek Rekomendasi Sahamnya

“Artinya, pasar masih memasukkan premi depresiasi rupiah ke depan,” ujarnya.

Karena itu, Syafruddin menilai efektivitas BSF sangat bergantung pada sinergi kebijakan lain, termasuk stabilisasi rupiah, disiplin APBN, kecukupan cadangan devisa, serta koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).

Adapun setelah sempat hampir mendekati level 7% pada kisaran Maret hingga April 2026, yield SBN tenor 10 tahun kini mulai melandai ke kisaran 6,7% pada Kamis (7/5). Sementara IHSG naik kuat lebih dari 1% dan CDS turun.

Kombinasi ini memberi sinyal bahwa investor belum melakukan repricing risiko secara agresif terhadap Indonesia.

Jika pemerintah mampu menjaga kredibilitas BSF, mengelola lelang SBN dengan hati-hati, menjaga stabilitas rupiah, dan mempertahankan inflasi rendah, yield SBN berpeluang bergerak lebih terkendali hingga akhir tahun.

IHSG Rebound ke 7.174, Peluang Bullish Terbuka Jika Konflik Global Mereda

Dalam skenario konstruktif, Syafruddin memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun dapat bertahan di kisaran 6,6%–6,9% di sisa tahun 2026, sementara harga SBN berpotensi pulih secara bertahap didukung membaiknya sentimen risiko dan penurunan CDS.

Namun, ia mengingatkan risiko utama tetap berasal dari pergerakan rupiah, kenaikan yield global, arus modal asing, hingga tekanan fiskal.

Jika dolar AS kembali menguat, yield US Treasury meningkat, harga minyak naik, atau rupiah kembali tertekan, investor diperkirakan akan kembali meminta premi risiko yang lebih tinggi.

Selain itu, pasar derivatif juga dinilai belum sepenuhnya tenang. Hal tersebut tercermin dari kenaikan NDF USD/IDR tenor satu bulan sebesar 68 poin dan tenor tiga bulan sebesar 55 poin, serta volatilitas USD/IDR tenor satu bulan yang naik 0,105.

“Tren yield SBN di sisa 2026 tidak akan ditentukan oleh BSF saja. Arah yield akan ditentukan oleh kepercayaan pasar bahwa pemerintah dapat menjaga APBN tetap kredibel dan BI dapat menjaga rupiah tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan,” pungkasnya.

Advertisements