Kinerja PGN (PGAS) ditopang permintaan domestik, begini rekomendasi saham dari analis

Solderpanas – JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), salah satu entitas kunci dalam sektor energi nasional, berhasil membukukan peningkatan laba bersih yang signifikan pada kuartal I tahun 2026, meski di tengah tantangan penurunan pendapatan. Kinerja positif ini didorong oleh strategi efisiensi operasional dan optimalisasi aset, dengan proyeksi permintaan gas domestik yang kuat sebagai katalis pendorong utama kinerja PGAS ke depan.

Advertisements

Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, memproyeksikan bahwa prospek kinerja PGAS pada kuartal II – 2026 akan tetap positif. Optimisme ini didukung oleh solidnya permintaan gas domestik, ekspansi bisnis LNG, serta upaya efisiensi operasional yang berhasil menjaga profitabilitas perusahaan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, antara lain volatilitas harga energi global, pelemahan nilai tukar rupiah, potensi penurunan volume permintaan dari sektor industri, serta risiko kenaikan biaya LNG yang dipicu oleh tensi geopolitik.

Lebih lanjut, Sukarno menekankan pentingnya mencermati beberapa sentimen kunci yang akan memengaruhi kinerja PGAS. Hal tersebut meliputi pergerakan harga LNG global, volume distribusi gas, implementasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), stabilitas pasokan gas nasional, serta fluktuasi kurs dan suku bunga. Potensi kenaikan laba bersih PGAS, menurutnya, masih terbuka lebar melalui efisiensi biaya operasional, strategi refinancing utang, serta optimalisasi utilisasi jaringan pipa dan fasilitas LNG yang dimiliki perusahaan.

Sementara itu, analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, mencatat adanya penurunan volume pada kuartal I – 2026. Volume perdagangan gas tercatat turun 9,8% secara tahunan (yoy) menjadi 777 billion british thermal units per day (BBTUD), dan transmisi gas juga mengalami penurunan 3,9% yoy menjadi 1.539 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Penurunan juga terlihat pada produksi hulu yang menyusut 18,3% secara kuartalan (QoQ) menjadi 15,98 thousand barrels of oil equivalent per day (MBOEPD). Meskipun demikian, kenaikan harga jual rata-rata distribusi menjadi US$ 9,69 per million british thermal units (MMBTU), naik 13,8% yoy, berhasil meredam dampak penurunan volume tersebut. Kenaikan harga ini bahkan melampaui kenaikan harga pokok penjualan, sehingga meningkatkan spread distribusi menjadi US$ 2,0 per MMBTU, tumbuh impresif 37,2% yoy.

Advertisements

Hasan mengonfirmasi bahwa volume pada kuartal pertama tahun 2026 memang menunjukkan pelemahan di seluruh sektor. Adapun kontribusi LNG terhadap total pasokan distribusi gas kian signifikan, mencapai sekitar 21% pada kuartal I – 2026, naik dari 7% di kuartal I – 2025 dan 12% untuk sepanjang tahun 2025. Manajemen PGAS mengidentifikasi tingginya lingkungan harga minyak dan gas global sebagai salah satu tantangan utama tahun 2026, yang berpotensi menekan kenaikan harga gas bagi pengguna akhir.

Menanggapi hal ini, Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia, menilai bahwa situasi tersebut berisiko terhadap volume dan margin distribusi gas. PGAS, dalam skenario ini, mungkin tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya pembelian LNG kepada konsumen. Meski demikian, manajemen PGAS tetap optimistis dan menegaskan panduan spread distribusi gas sebesar US$ 1,65 – US$ 1,85/MMBTU untuk tahun 2026. Timothy juga mengamati bahwa harga saham PGAS telah terkoreksi sekitar 22% sejak pengumuman hasil kinerja kuartal IV – 2025 pada akhir Februari, seiring dengan kekhawatiran investor akan perkiraan kinerja setahun penuh yang meleset dan prospek imbal hasil dividen yang lebih rendah. PGAS sendiri dijadwalkan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 22 Mei 2026.

Timothy memperkirakan pembayaran dividen PGAS akan mencapai 90% dari laba bersih setelah pajak (NPATS) tahun 2025, yang diperkirakan akan menghasilkan dividend yield sekitar 7%. Angka ini, menurutnya, masih berada di bawah rata-rata perusahaan batubara atau energi lainnya di Indonesia. Ia juga mengidentifikasi beberapa risiko bagi PGAS, termasuk transaksi antar grup dengan perusahaan induknya, kemungkinan volume distribusi gas yang lebih tinggi dari perkiraan, tantangan dalam mempertahankan dan memperoleh pasokan gas yang ada maupun yang akan datang, serta perubahan peraturan yang dapat memengaruhi pengembalian marjinal investasi. Bencana alam atau kebocoran yang berpotensi mengganggu bisnis transmisi dan distribusi juga patut diwaspadai.

Dari sudut pandang Hasan Barakwan, potensi risiko lain yang perlu dicermati meliputi volatilitas harga minyak dan gas global, di mana harga gas yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pokok penjualan (COGS) selama negosiasi ulang kontrak. Selain itu, perlambatan ekonomi berpotensi mengurangi permintaan gas. Perubahan kebijakan pemerintah, khususnya terkait kuota insentif harga gas khusus untuk mendukung industri, juga merupakan faktor risiko. Dividen yang lebih rendah dari perkiraan dan biaya yang lebih tinggi akibat kasus hukum turut menjadi perhatian.

Kendati demikian, Hasan melihat sisi positif dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang dapat menjadi sentimen positif jika mampu mendorong permintaan listrik dan gas secara keseluruhan. Peningkatan kapasitas di PT Perta Arun Gas juga dinilai dapat membantu PGAS dalam berekspansi ke pasar internasional. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Hasan memproyeksikan pendapatan PGAS akan mencapai US$ 4,09 miliar dan laba bersih sebesar US$ 326 juta pada tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan pendapatan US$ 3,9 miliar dan laba bersih US$ 215 juta yang dicapai pada tahun 2025.

Berdasarkan analisisnya, Hasan merekomendasikan buy untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.150 per saham. Senada, Sukarno dari Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy untuk saham PGAS dengan target harga antara Rp 2.000 hingga Rp 2.100 per saham, dengan skenario bearish di Rp 1.750 per saham. Sementara itu, Timothy dari UBS Sekuritas merekomendasikan netral untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.180 per saham.

Ringkasan

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membukukan kenaikan laba bersih signifikan pada kuartal I 2026, didorong efisiensi operasional dan optimalisasi aset, meskipun di tengah penurunan pendapatan. Permintaan gas domestik yang kuat diproyeksikan menjadi katalis utama kinerja PGAS ke depan. Meskipun volume perdagangan, transmisi, dan produksi hulu PGAS mengalami penurunan pada periode tersebut, kenaikan harga jual rata-rata distribusi berhasil meningkatkan spread dan meredam dampaknya.

Analis memproyeksikan kinerja PGAS akan tetap positif pada kuartal II 2026, namun menyoroti tantangan seperti volatilitas harga energi global dan potensi kenaikan biaya LNG. Risiko lain mencakup ketidakmampuan meneruskan biaya pembelian gas yang lebih tinggi kepada konsumen dan fluktuasi kebijakan pemerintah. Mayoritas analis merekomendasikan “buy” atau “trading buy” untuk saham PGAS dengan target harga berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 2.180 per saham, melihat potensi peningkatan pendapatan dan laba bersih di tahun 2026.

Advertisements