Yield SBN Masih Tinggi, Saatnya Investor Pemula Mulai Masuk?

Solderpanas JAKARTA. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mulai menunjukkan tren penurunan ke level 6,7% setelah sempat mendekati 7% pada periode Maret-April 2026. Meski demikian, level tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan posisi awal tahun 2026 yang berada di kisaran 6,0%.

Advertisements

Kondisi yield yang relatif tinggi dinilai membawa dampak berbeda bagi investor obligasi. Di satu sisi, kenaikan yield menekan harga obligasi yang sudah beredar di pasar sehingga memicu potensi capital loss bagi investor lama. Namun di sisi lain, kondisi ini justru membuka peluang menarik bagi investor baru.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan bahwa kenaikan yield membuat instrumen obligasi menjadi lebih menarik dari sisi imbal hasil maupun peluang capital gain ke depan.

“Di sisi lain, yield tinggi memberi peluang masuk bagi investor baru karena kupon dan potensi capital gain menjadi lebih menarik jika yield kemudian turun,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).

Advertisements

Pemerintah Tawarkan Sukuk Tabungan ST016, Kupon Capai 6,25%

Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun tercatat berada di level sekitar 6,701%, sementara tenor 5 tahun di level 6,781% dan tenor 3 tahun sebesar 6,542%. Menurut Syafruddin, level yield tersebut masih menawarkan imbal hasil nominal yang menarik, khususnya jika inflasi tetap terkendali.

Ia mencatat, inflasi saat ini berada di kisaran 2,42% dengan inflasi inti sebesar 2,44%. Dengan kondisi tersebut, selisih antara yield obligasi dan tingkat inflasi masih memberikan real yield positif bagi investor.

“Selisih antara yield dan inflasi memberi ruang real yield positif, yang dapat menarik investor jangka menengah-panjang,” bubuhnya.

Meski menawarkan peluang, Syafruddin mengingatkan investor agar tidak masuk ke pasar obligasi secara agresif tanpa mempertimbangkan risiko pasar yang masih tinggi. Strategi investasi yang lebih sehat dinilai adalah melakukan akumulasi secara bertahap serta memilih tenor obligasi sesuai profil risiko masing-masing.

Selain itu, investor juga disarankan untuk tidak menempatkan seluruh investasi pada satu tenor jatuh tempo guna mengurangi risiko konsentrasi portofolio.

Bagi investor konservatif, Syafruddin merekomendasikan obligasi tenor pendek hingga menengah untuk meminimalkan risiko durasi di tengah volatilitas pasar yang masih berlangsung.

Prospek Emiten Semen 2026 Masih Berat, SMGR dan INTP Dinilai Paling Tangguh

Sementara itu, investor agresif yang siap menghadapi fluktuasi pasar dapat mulai mengakumulasi obligasi tenor 5–10 tahun, terutama jika meyakini yield sudah mendekati titik puncak dan stabilitas nilai tukar rupiah mulai membaik.

Syafruddin menambahkan, investor institusional juga perlu mencermati sejumlah indikator penting seperti credit default swap (CDS), pergerakan rupiah, arus dana asing, serta jadwal lelang SBN pemerintah.

Apabila CDS terus menurun, rupiah tetap stabil, dan yield SBN tenor 10 tahun mampu bertahan di kisaran 6,7%, harga obligasi berpotensi kembali menguat dalam beberapa waktu mendatang.

“Jadi, yield tinggi memang dapat menjadi peluang, tetapi peluang itu hanya layak diambil dengan disiplin risiko, horizon investasi jelas, dan keyakinan bahwa stabilitas makro tetap terjaga,” pungkasnya.

Advertisements