Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, mendesak Pertamina untuk menambah jumlah fuel terminal atau depo bahan bakar minyak (BBM) di wilayahnya. Permintaan ini diajukan demi menjaga stabilitas dan keberlanjutan suplai BBM di seluruh penjuru provinsi.
Agustiar menjelaskan bahwa Kalimantan Tengah terbagi menjadi tiga zona utama: barat, tengah, dan timur. “Zona barat telah memiliki dua depo BBM, masing-masing berlokasi di Sampit dan Pangkalan Bun. Sementara itu, zona tengah baru memiliki satu di Pulang Pisau, dan yang paling memprihatinkan, zona timur sama sekali belum memiliki fasilitas tersebut,” ungkapnya saat berbicara di Palangka Raya pada Ahad, 10 Mei 2026, seperti dilansir oleh Antara.
Sebagai informasi, Fuel Terminal Pertamina merupakan fasilitas vital yang berfungsi sebagai pusat penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran BBM dalam skala besar. Perannya sangat krusial sebagai titik transit utama sebelum bahan bakar didistribusikan lebih lanjut ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan titik penyaluran lainnya.
Menurut Agustiar, setidaknya dibutuhkan penambahan satu depo BBM lagi, khususnya di zona timur. Wilayah ini meliputi Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, Barito Utara, dan Murung Raya. Penambahan ini diharapkan dapat mengoptimalkan alur distribusi BBM serta memastikan suplai bahan bakar tetap terjaga stabil secara berkelanjutan di seluruh area tersebut.
Keberadaan depo BBM di zona tengah yang hanya satu unit, ditambah dengan ketiadaan fasilitas serupa di zona timur, dinilai Agustiar masih jauh dari kondisi ideal untuk menjamin efisiensi penyaluran BBM bagi masyarakat.
“Melalui pertemuan dengan jajaran Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, kami telah menyampaikan usulan mendesak ini. Besar harapan kami agar inisiatif penting ini dapat segera terwujud,” tutur Agustiar, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengatasi tantangan suplai BBM.
Di sisi lain, Agustiar juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik atau panic buying terhadap BBM. Ia menekankan bahwa saat ini, upaya kolaborasi antara pemerintah dan Pertamina sudah berjalan optimal. Oleh karena itu, diharapkan tidak akan ada lagi fenomena antrean panjang BBM di SPBU yang mengganggu kenyamanan publik.
Menanggapi usulan tersebut, Executive General Manager Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Isfahani, memaparkan data infrastruktur BBM di Kalimantan Tengah. Ia menyebutkan bahwa saat ini tersedia setidaknya 75 unit SPBU reguler, tiga depo BBM atau fuel terminal, delapan SPBE, dan fasilitas pendukung lainnya.
Isfahani menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menjalin koordinasi dan sinergi erat dengan pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan terkait. Ini termasuk keterbukaan dalam menerima berbagai masukan dan usulan demi memastikan penyaluran BBM dapat terlaksana dengan baik dan merata.
“Pertamina, dalam mengembangkan fasilitas terminal BBM, senantiasa mempertimbangkan aspek kebutuhan dan jangkauan. Sebab, dalam konteks perekonomian, setiap investasi yang kami lakukan harus dapat dipertanggungjawabkan secara pengembaliannya,” terang Isfahani, menjelaskan prinsip di balik keputusan investasi infrastruktur BBM.
Pilihan Editor: Pola Konsumsi yang Berubah Setelah Harga BBM Nonsubsidi Naik
Ringkasan
Gubernur Kalimantan Tengah mendesak Pertamina untuk menambah jumlah depo bahan bakar minyak (BBM) di wilayahnya guna menjaga stabilitas pasokan. Ia menjelaskan bahwa dari tiga zona di provinsi tersebut, zona barat memiliki dua depo, zona tengah satu, namun zona timur sama sekali belum memiliki fasilitas penyimpanan. Penambahan setidaknya satu depo lagi, khususnya di zona timur yang meliputi empat kabupaten, dinilai krusial untuk mengoptimalkan distribusi dan memastikan suplai BBM berkelanjutan.
Gubernur juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik, karena upaya kolaborasi pemerintah dan Pertamina sudah berjalan optimal. Menanggapi usulan tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyatakan telah memiliki 75 SPBU dan tiga depo BBM di Kalteng, serta berkomitmen untuk berkoordinasi dan menerima masukan. Namun, Pertamina juga menekankan bahwa pengembangan fasilitas terminal BBM akan selalu mempertimbangkan aspek kebutuhan, jangkauan, serta pengembalian investasi secara ekonomis.
