Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Akibat Sentimen Geopolitik

JAKARTANilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Mengutip data Bloomberg pada Jumat (15/5/2026) pukul 13.01 WIB, rupiah tercatat melemah 0,46% dan berada di level Rp 17.610 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang telah terlihat, di mana pada Jumat (8/5) pagi sebelumnya, rupiah spot juga tercatat melemah 0,21% ke Rp 17.369 per dolar AS, serta sempat loyo hingga Rp 17.414 per dolar AS akibat sentimen global.

Advertisements

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah kali ini didominasi oleh sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Menurut Ibrahim, ketegangan di Selat Hormuz antara AS dan Iran semakin intensif, diperparah dengan laporan latihan perang yang dilakukan oleh Iran di wilayah strategis tersebut, menciptakan bayang-bayang yang berpotensi menguatkan indeks dolar AS.

“Kita melihat di Selat Hormuz semakin memanas setelah ada kapal kargo India tenggelam di perairan lepas Pantai Oman, ini juga membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah,” ujar Ibrahim pada Jumat (15/5/2026). Insiden ini, imbuhnya, kian memperkeruh situasi dan berpotensi memicu gejolak lebih lanjut di kawasan tersebut.

Di samping faktor geopolitik, isu kepemimpinan di bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), juga menjadi sorotan utama. Dengan berpindahnya kepemimpinan dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru, pasar mencermati kemungkinan perubahan kebijakan. Ibrahim memperkirakan adanya peluang besar bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada tahun 2026.

Advertisements

Keputusan tersebut, lanjut Ibrahim, didorong oleh tingginya angka inflasi di AS, terutama akibat lonjakan harga bensin atau gasoline yang berdampak signifikan pada perekonomian. “Ini mengindikasikan mempertahankan suku bunga tinggi lagi berdampak terhadap indeks dolar AS,” kata Ibrahim, menunjukkan bahwa kebijakan ini akan semakin memperkuat posisi dolar AS dan memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti keterbatasan Bank Indonesia (BI) dalam melakukan intervensi. BI, menurutnya, hanya dapat melakukan intervensi di pasar internasional, sementara transaksi valuta asing (valas) di pasar domestik terus bergejolak dalam dua hari terakhir. Selain itu, permasalahan anggaran yang cukup besar untuk mensubsidi minyak mentah juga dinilai sebagai salah satu penyebab fundamental pelemahan mata uang rupiah.

Melihat kondisi ini, Ibrahim Assuaibi melontarkan proyeksi yang kurang optimis bagi rupiah. “Dalam perdagangan di Mei ini kemungkinan besar rupiah ke Rp 18.000 per dolar AS akan tembus. Kalau seandainya tembus, ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp 22.000 per dolar AS pada Agustus,” jelasnya, mengindikasikan prospek depresiasi yang substansial.

Menanggapi potensi pelemahan lebih lanjut, Ibrahim menilai kemungkinan besar Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) selanjutnya. Langkah ini diperlukan sebagai upaya untuk menstabilkan mata uang rupiah di tengah berbagai tekanan. Namun, ia juga mengakui dilema yang dihadapi BI. “Memang dalam kondisi saat ini sangat sulit bagi BI antara mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga,” pungkas Ibrahim, menggambarkan situasi pelik yang harus diatasi oleh otoritas moneter.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS, mencapai level Rp17.610 per dolar AS akibat sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Ketegangan di Selat Hormuz serta ketidakpastian kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru The Federal Reserve turut menekan mata uang domestik. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam inflasi AS, yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Di sisi domestik, Bank Indonesia menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan intervensi dan beban subsidi minyak yang menekan fundamental ekonomi. Analis memproyeksikan rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS pada bulan Mei dan dapat mencapai Rp22.000 per dolar AS pada Agustus mendatang. Sebagai respons, Bank Indonesia kemungkinan harus menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas mata uang, meskipun otoritas moneter saat ini berada dalam posisi dilematis.

Advertisements