Prabowo Ungkap Ada Negara Minta Impor Beras Indonesia dengan Harga Diskon

Presiden Terpilih Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa banyak negara menunjukkan ketertarikan untuk mengamankan pasokan beras dari Indonesia. Permintaan ini mencuat di tengah krisis pangan global yang diperparah oleh kondisi perang di Timur Tengah, menciptakan tekanan besar pada rantai pasok dunia.

Advertisements

“Jadi ada yang mau beli beras, habis itu minta potongan harga, tapi permintaannya cukup besar,” kata Prabowo dalam kesempatan peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur. Acara tersebut dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Sabtu (16/5).

Permintaan beras global yang meningkat signifikan ini, menurut Prabowo, terjadi setelah sejumlah negara produsen besar seperti India dan Bangladesh mengambil kebijakan untuk menghentikan ekspor komoditas pangan vital seperti beras, jagung, dan gandum. Kebijakan ini secara langsung mendorong banyak negara untuk mencari alternatif pasokan, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.

Menyikapi situasi tersebut, Presiden Prabowo telah memberikan instruksi agar Indonesia dapat memenuhi permintaan pasokan beras dari negara-negara lain melalui jalur perdagangan. Langkah ini, menurutnya, merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi dalam membantu mengatasi krisis pangan yang melanda dunia.

Advertisements

Baca juga:

  • Prabowo soal Rupiah Anjlok: Mau Dolar Berapa Ribu, di Desa Enggak Pakai Dolar
  • Bertemu Iran di Forum BRICS, UEA Bantah Terlibat Agresi Militer AS-Israel
  • Presiden Prabowo Resmikan Operasionalisasi 1.061 Kopdes Merah Putih

Meskipun demikian, Prabowo menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga. “Tapi harganya harus baik, jangan sampai petani jadi korban. Harganya minimal harus bisa memberi keuntungan sedikit, jangan terlalu murah tapi jangan pula mengambil untung berlebihan,” tegasnya.

Prabowo juga memberikan peringatan keras kepada pihak terkait, termasuk Badan Urusan Logistik (Bulog), untuk senantiasa memprioritaskan kebutuhan pangan dalam negeri. Peringatan ini sangat relevan mengingat potensi krisis global yang diprediksi dapat berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang, menuntut kesiapan dan ketahanan pangan nasional.

“Dan selalu saya katakan, pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa,” ucap Prabowo, menyoroti urgensi ketahanan pangan sebagai fondasi kedaulatan negara.

Bagi Prabowo, pangan jauh melampaui sekadar komoditas ekonomi; ia adalah isu krusial terkait kelangsungan hidup suatu bangsa. Ia secara tegas menolak pandangan bahwa pemenuhan kebutuhan domestik akan lebih efisien jika dilakukan melalui impor. Baginya, ketersediaan pangan adalah harga mati.

“Kelangsungan hidup bangsa bukan sekadar lebih murah, tapi ada atau tidaknya pasokan. Akhirnya sejarah membuktikan bahwa kita telah lebih dulu aman soal pangan. Krisis apa pun di luar negara kita, kita relatif lebih aman dan lebih siap menghadapi cobaan,” pungkasnya, menegaskan keyakinannya terhadap kemandirian pangan Indonesia.

Permintaan Pupuk dari Negara Lain

Selain beras, Prabowo juga mengungkapkan bahwa Indonesia kini menjadi tujuan permintaan impor pasokan pupuk urea dari berbagai negara. Laporan mengenai permintaan ini, menurutnya, telah diterima langsung dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

“Kita tidak euforia, tidak sombong. Kita sekarang berada di pihak yang bisa memberikan bantuan. Australia meminta tolong, begitu pula Filipina, India, Bangladesh, dan Brasil juga mengajukan permintaan kepada kita. Saya perintahkan untuk membantu semua,” ujar Prabowo, kembali dari Nganjuk, Jawa Timur, dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, yang juga dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Sabtu (16/5).

Prabowo merinci bahwa saat ini Indonesia telah berhasil memasok 500 ribu ton pupuk urea ke Australia. Ia menjelaskan bahwa lonjakan permintaan pupuk dari negara-negara lain ini secara langsung disebabkan oleh dampak konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Konflik yang telah pecah sejak akhir Februari lalu tersebut telah mengganggu akses Selat Hormuz, jalur strategis yang krusial bagi pengiriman 20% komoditas energi dunia. Penutupan atau gangguan akses di selat tersebut telah menimbulkan kesulitan besar bagi banyak negara, terutama dalam mendapatkan pasokan energi.

“Berarti pupuk juga terpengaruh karena bahan bakunya berasal dari minyak dan gas. Pupuk urea sangat dibutuhkan untuk pertanian global,” jelasnya, mengaitkan secara langsung dampak konflik energi terhadap pasokan pupuk dunia.

Ringkasan

Presiden Terpilih Prabowo Subianto menyatakan banyak negara tertarik mengimpor beras dari Indonesia di tengah krisis pangan global dan perang di Timur Tengah. Permintaan ini, termasuk yang meminta diskon, muncul setelah produsen besar menghentikan ekspor, menjadikan Indonesia tujuan pasokan alternatif. Prabowo menginstruksikan agar Indonesia memenuhi permintaan tersebut melalui perdagangan, namun dengan harga yang adil bagi petani. Ia juga menekankan pentingnya memprioritaskan ketahanan pangan domestik sebagai isu hidup-mati suatu bangsa.

Selain beras, Prabowo juga mengungkapkan Indonesia menjadi tujuan permintaan impor pupuk urea dari berbagai negara, seperti Australia, Filipina, India, Bangladesh, dan Brasil. Menteri Pertanian Amran Sulaiman melaporkan permintaan ini, di mana Indonesia telah memasok 500 ribu ton ke Australia. Peningkatan permintaan pupuk urea global ini disebabkan konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi, bahan baku utama produksi pupuk. Prabowo memerintahkan bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan.

Advertisements