
Solderpanas – JAKARTA. Valuta asing (valas) utama diproyeksi bergerak beragam setelah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 April dirilis Rabu (20/5/2026). Dalam risalah tersebut, mayoritas pejabat The Fed menilai pengetatan kebijakan moneter kemungkinan diperlukan apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2%.
Mengutip Trading Economics, Kamis (21/5/2026) pukul 15.40 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,1625, terkoreksi 0,93% secara year to date (ytd). Pairing valas GBP/USD di level 1,3433, melemah 0,07% ytd. Pasangan valas AUD/USD di level 0,7133, menguat 6,93%.
Berikutnya, pairing valas USD/JPY di level 158,98, menguat 1,39%. Pairing valas USD/CHF di level 0,7867, melemah 0,83% ytd.
Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX mengatakan, sentimen hawkish The Fed turut menopang penguatan dolar AS. Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran memasuki tahap akhir, namun tetap mengancam akan melanjutkan serangan apabila kesepakatan tidak tercapai.
AUD, NZD dan CAD Terhimpit Dolar AS, Ini Valas yang Menarik Dicermati
Namun, euro masih mendapatkan dukungan dari ekspektasi bahwa European Central Bank akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni mendatang. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data PMI kawasan Eurozone, Jerman, dan Amerika Serikat yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan pasangan mata uang ini.
“Kondisi ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS sehingga membatasi ruang penguatan EUR/USD,” ujar Yoga kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Berikutnya, pasangan valas GBP/USD. Yoga melihat pasangan mata uang ini bergerak relatif stabil di sekitar area 1,3440. Pergerakan poundsterling masih terbatas setelah data inflasi Inggris menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya. Inflasi tahunan Inggris pada April tercatat turun menjadi 2,8% dari 3,3% pada Maret dan berada di bawah proyeksi pasar sebesar 3,0%. Di saat yang sama, inflasi inti juga mengalami penurunan menjadi 2,5% dari sebelumnya 3,1%, mencerminkan mulai berkurangnya tekanan harga di sektor domestik.
Melemahnya data inflasi disertai kenaikan tingkat pengangguran Inggris ke level 5,0% membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap langkah agresif Bank of England dalam menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.
“Kondisi tersebut menahan penguatan poundsterling terhadap dolar AS. Investor kini menantikan rilis data PMI Inggris dan Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai kondisi aktivitas ekonomi kedua negara,” terang Yoga.
Dolar AS Terpukul Sentimen Damai Timur Tengah, Simak Prospek Valas Berikut
Selanjutnya, pasangan valas AUD/USD. Yoga menilai pasangan mata uang ini bergerak melemah tertekan oleh rilis data ekonomi Australia yang lebih lemah dari ekspektasi. Data PMI manufaktur Australia turun menjadi 50,3 dari sebelumnya 51,3, sementara PMI jasa dan komposit kembali masuk ke zona kontraksi di level 47,7 dan 47,8. “Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas bisnis Australia sehingga membebani pergerakan dolar Australia terhadap dolar AS,” kata Yoga.
Selain faktor domestik Australia, penguatan dolar AS juga didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat-Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran memasuki tahap akhir, namun tetap membuka peluang serangan lanjutan apabila kesepakatan gagal tercapai.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan eksternal. Sentimen tersebut menopang penguatan greenback dan menjadi tekanan tambahan bagi AUD/USD.
Lalu, pairing valas USD/JPY. Yoga menyoroti pernyataan hawkish dari pejabat Bank of Japan. Anggota dewan kebijakan BoJ, Junko Koeda, menyampaikan bahwa inflasi inti Jepang telah mendekati target 2%, sehingga bank sentral dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga secara bertahap. Pernyataan tersebut memberikan dukungan terhadap yen Jepang dan menekan pergerakan USD/JPY.
Koeda juga menekankan bahwa kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Selain itu, pertumbuhan upah yang solid mulai mendorong kenaikan harga jasa secara lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya. BoJ menilai suku bunga riil Jepang masih berada di wilayah negatif sehingga diperlukan penyesuaian kebijakan secara hati-hati guna menjaga keseimbangan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan.
Atur Strategi Diversifikasi Valas, Dolar AS Masih Jadi Lindung Nilai Jangka Pendek
Berikutnya, pairing valas USD/CHF. Yoga menilai pasangan mata uang ini bergerak turun akibat pergerakan dolar AS yang cenderung tertahan di tengah sikap hati-hati investor terhadap situasi geopolitik global. Walaupun risalah pertemuan terbaru Federal Reserve menunjukkan sebagian besar pejabat masih mempertimbangkan peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target 2%, pelaku pasar masih memilih menunggu rilis data ekonomi berikutnya sebelum memperbesar eksposur terhadap dolar AS.
Sementara itu, ketidakpastian mengenai proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti franc Swiss. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembahasan dengan Iran telah mendekati tahap akhir, namun tetap mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer lanjutan apabila kesepakatan tidak tercapai.
“Situasi tersebut mendorong investor untuk beralih ke aset yang dinilai lebih aman dan memberikan tekanan terhadap pergerakan USD/CHF dalam jangka pendek” imbuh Yoga.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, prospek valas utama akan sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Saat ini The Fed termasuk yang paling memiliki ruang untuk tetap hawkish karena ekonomi AS masih relatif kuat dibanding negara maju lain, sementara inflasi kembali berisiko naik akibat lonjakan harga energi dari konflik AS-Iran.
Risalah FOMC terbaru juga menunjukkan The Fed mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan bila tekanan inflasi kembali meningkat. “Kondisi ini membuat dolar AS masih memiliki fundamental paling kuat di antara valas utama,” ujar Lukman.
Selama pasar masih berada dalam tema “higher for longer”, Lukman mengatakan, dolar AS dan franc Swiss cenderung lebih menarik dicermati, terutama karena didukung kombinasi suku bunga relatif tinggi, ekonomi yang lebih stabil, serta status safe haven di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. Sedangkan AUD diperkirakan masih akan didukung oleh harga komoditas yang tinggi.
Berdasarkan asumsi harga minyak dunia yang masih tinggi dan perang AS-Iran yang masih belum berakhir, Lukman memproyeksikan pasangan valas EUR/USD bergerak dikisaran 1,1400-1,5500 hingga awal kuartal III – 2026.
Pasangan valas GBP/USD direntang 1,2900 – 1,3000, dan pairing valas AUD/USD dikisaran 0,7000 – 0,7100. Pairing valas USD/JPY berkisar 155 – 165, serta pasangan valas USD/CHF diproyeksi dikisaran 0,7800 – 0,8000 hingga awal kuartal III – 2026.
Negosiasi AS-Iran Buntu, Valas Komoditas Ini Menarik Untuk Dicermati
