Solderpanas JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan. Berdasarkan data Bloomberg yang terpantau pada Senin (25/5) pukul 12.47 WIB, rupiah di pasar spot terdepresiasi sebesar 0,05%, mencapai posisi Rp 17.725 per dolar AS.
Penurunan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada pekan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5), rupiah juga tercatat melemah sebesar 0,28% secara harian, berhenti di level Rp 17.717 per dolar AS. Bahkan, pada siang hari Senin (25/5), rupiah spot terpantau sempat melemah 0,06% ke Rp 17.723 per dolar AS, menunjukkan tekanan jual yang berkelanjutan sejak pembukaan perdagangan.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa salah satu pemicu utama di balik pelemahan rupiah ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Dinamika politik internasional yang memanas menciptakan sentimen negatif di pasar keuangan, mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Ibrahim menyoroti berlanjutnya pembicaraan negosiasi antara AS dan Iran sebagai salah satu faktor yang memengaruhi. Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim adanya harapan dalam proses dialog tersebut, pihak Iran justru menyatakan bahwa AS tidak jujur dan tidak menghormati hak-hak rakyat Iran. Kondisi ini mengakibatkan penolakan terhadap banyak draf nota kesepahaman yang diajukan. Selain itu, situasi semakin diperkeruh oleh agresi Israel yang terus-menerus melakukan penyerangan di wilayah Lebanon Selatan.
Melihat kompleksitas dinamika geopolitik yang terus berkembang tersebut, Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah pada hari Senin (25/5) berpotensi bergerak dalam rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS.
Baca juga: IHSG Menguat 0,93% ke 6.219 di Sesi I Senin (25/5), ADMR, MDKA, SCMA Top Gainers LQ45
Ringkasan
Nilai tukar rupiah menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar AS, mencapai Rp 17.725 per dolar AS di pasar spot pada Senin (25/5) pukul 12.47 WIB. Depresiasi 0,05% ini melanjutkan tren negatif dari pekan sebelumnya, di mana rupiah juga melemah 0,28% pada penutupan Jumat (22/5) di level Rp 17.717.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global. Negosiasi AS-Iran yang alot dan agresi Israel di Lebanon Selatan menciptakan sentimen negatif di pasar. Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS pada hari yang sama.
