
Solderpanas JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Mata uang Garuda kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.795 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) pukul 13.49 WIB. Posisi ini melemah 0,30% dibanding penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven, terutama dolar AS, setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar global. Kenaikan harga minyak turut menambah tekanan bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.
Rupiah Spot Melemah ke Rp 17.726 per Dolar AS pada Senin (25/5) Pagi
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Mengutip Reuters, Rupee India turun 0,2% ke level 95,4325 per dolar AS, sekaligus mengakhiri tren penguatan selama tiga hari berturut-turut.
Pelemahan rupee terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan dolar menjelang akhir bulan, meski sempat tertahan oleh aksi jual dolar dari bank-bank milik pemerintah India.
Sementara itu, yuan China juga bergerak melemah. Mengutip Reuters, yuan spot dibuka pada level 6,7860 per dolar AS dan terakhir diperdagangkan di posisi 6,7866 per dolar AS pada pukul 03.14 GMT.
Secara umum, mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan setelah naik 0,62% ke level 1.508,20 per dolar AS.
Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,07% ke Rp 17.667 per Dolar AS pada Kamis (21/5/2026)
Di sisi lain, peso Filipina mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,43%. Baht Thailand turun 0,31%, ringgit Malaysia melemah 0,28%, sementara rupiah terkoreksi 0,17% ke level Rp17.760 per dolar AS pada perdagangan pagi.
Yen Jepang juga melemah tipis 0,03% ke posisi 158,94 per dolar AS. Dolar Singapura turun 0,02%, sedangkan yuan China relatif stabil dengan pelemahan tipis 0,01%.
Meski tekanan terjadi di hampir seluruh kawasan Asia, dolar Taiwan masih mampu mencatat penguatan 0,11% terhadap dolar AS, mengikuti tren positif won Korea Selatan.
Sepanjang 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam. Nilai tukar rupiah tercatat turun 6,14% dibanding posisi akhir 2025.
Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah: Ditutup ke Rp 17.706 Per Dolar AS Hari Ini (19/5)
Tekanan serupa juga dialami rupee India yang melemah 5,63% sejak awal tahun, disusul won Korea Selatan yang turun 4,56% dan peso Filipina 4,46%.
Sebaliknya, yuan China dan ringgit Malaysia masih mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan. Yuan menguat sekitar 3%, sedangkan ringgit naik 2,4% dibanding posisi akhir tahun lalu.
