Wall Street Lesu: Investor Waspadai Data Inflasi dan Gejolak Timur Tengah


NEW YORK – Pasar saham Wall Street terpantau mengalami penurunan dari level rekor tertinggi pada awal perdagangan hari ini. Pergerakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang meredam optimisme akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Para investor juga sedang mencerna data inflasi terbaru yang menjadi perhatian utama.

Advertisements

Pada Kamis (28/5/2026) pukul 21.15 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 110,97 poin atau 0,22%, mencapai level 50.533,31. Sementara itu, indeks S&P 500 justru menguat tipis 1,71 poin atau 0,02% ke posisi 7.521,68. Indeks Nasdaq Composite juga terpantau melemah tipis 6,80 poin atau 0,02%, ditutup pada 26.667,93. Pergerakan indeks yang variatif ini menunjukkan adanya sentimen pasar yang campur aduk di tengah dinamika global.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam di antaranya berada di zona merah. Sektor industri memimpin penurunan dengan pelemahan signifikan sebesar 1,1%, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global.

Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Teheran melancarkan serangan terhadap pangkalan udara AS pada hari Kamis. Langkah ini merupakan balasan beberapa jam setelah Washington melancarkan serangan baru, dan Presiden Donald Trump menolak laporan mengenai potensi kesepakatan kompromi dengan Iran. Situasi ini menambah ketidakpastian dan membebani sentimen pasar secara keseluruhan.

Advertisements

IHSG Diproyeksikan Bergerak Terbatas pada Jumat (29/5), Cermati Rekomendasi Analis

Dampak langsung dari ketegangan geopolitik ini terlihat pada lonjakan harga minyak global, yang melonjak hampir 3%. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga sedikit meningkat, seiring dengan berlanjutnya kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz. Situasi ini semakin memperparah kekhawatiran inflasi yang telah ada.

Data terkini menunjukkan bahwa inflasi AS meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir pada bulan April, yang didorong oleh kenaikan tajam harga energi, terutama di tengah konflik Iran. Namun, Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi global senior di Edward Jones, menyatakan bahwa data tersebut “tidak mengubah narasi” secara fundamental. “Angka-angkanya tidak seburuk yang dikhawatirkan. Ini sedikit meredam beberapa ekspektasi kenaikan suku bunga,” ujarnya. Kourkafas menambahkan bahwa sebagian besar fokus pasar akan tetap tertuju pada negosiasi Iran dan tren Kecerdasan Buatan (AI), yang keduanya akan menjadi pendorong utama narasi pasar saham ke depan.

Pada awal sesi perdagangan, saham Caterpillar terpantau turun 3% dan menjadi salah satu beban utama bagi indeks Dow Jones. Sektor maskapai penerbangan juga merasakan dampaknya, dengan saham American Airlines, Jetblue, dan Southwest Airlines masing-masing tergelincir antara 1,5% hingga 2,2% akibat kenaikan harga minyak yang membebani biaya operasional mereka. Sektor barang konsumsi non-esensial juga turun 0,7%, setelah sebelumnya sempat naik hampir 2% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Meski demikian, pasar saham sempat menikmati reli yang didorong oleh kepercayaan baru terhadap AI dan momentum pertumbuhan pendapatan. Hal ini tercermin dari penutupan ketiga indeks utama pada rekor tertinggi pada hari Rabu. Indeks S&P 500 bahkan berpotensi mencatat kenaikan mingguan kesembilan berturut-turut, menjadikannya rentetan kemenangan terpanjang sejak Desember 2023.

Beberapa saham menunjukkan kinerja positif yang menonjol. Marvell Technology naik 2,2% setelah perusahaan tersebut memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas perkiraan analis, dengan harga saham yang telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini. Perusahaan analitik data Snowflake melonjak dramatis 34% menyusul kenaikan perkiraan pendapatan produk tahunannya dan pengumuman kesepakatan infrastruktur AI lima tahun senilai $6 miliar dengan Amazon Web Services. Saham-saham pesaingnya, Datadog dan MongoDB, juga masing-masing naik 1,1% dan 9,8%.

IHSG Diproyeksikan Bergerak Terbatas pada Jumat (29/5), Cermati Rekomendasi Analis

Di sektor ritel, saham Dollar Tree menguat 16,8% setelah pengecer diskon tersebut menaikkan perkiraan laba setahun penuhnya. Sementara itu, Best Buy bertambah 13,5% setelah vendor elektronik ini memperkirakan penjualan kuartal kedua di atas perkiraan pasar. Jaringan toko serba ada Kohl’s juga melonjak 18,5% setelah membukukan penjualan kuartalan yang sesuai dengan perkiraan dan tetap mempertahankan target tahunannya.

Di sektor pertahanan dan teknologi, saham perusahaan drone turut merasakan dorongan positif. Kenaikan ini terjadi setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang dalam pembicaraan untuk mendanai perusahaan drone. Akibatnya, saham Unusual Machines melonjak 40,1%, sementara AeroVironment dan Kratos Defense & Security Solutions masing-masing bertambah 14,5% dan 12,7%.

Ringkasan

Pasar saham Wall Street terpantau mengalami penurunan dari level rekor tertinggi, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran data inflasi. Ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak global dan memperburuk kekhawatiran inflasi, meskipun data inflasi AS bulan April dinilai tidak mengubah narasi fundamental pasar secara signifikan. Indeks Dow Jones dan Nasdaq melemah, sementara S&P 500 menguat tipis, menunjukkan adanya sentimen pasar yang campur aduk.

Meskipun demikian, pasar saham juga sempat menikmati reli yang didorong optimisme terhadap Kecerdasan Buatan (AI) dan pertumbuhan pendapatan. Saham-saham seperti Snowflake, Marvell Technology, serta sektor ritel seperti Dollar Tree dan Best Buy menunjukkan kenaikan signifikan. Sebaliknya, saham Caterpillar dan sektor maskapai penerbangan melemah akibat kenaikan harga minyak dan prospek ekonomi global, sementara perusahaan drone menguat menyusul laporan potensi pendanaan pemerintah AS.

Advertisements