Premi Asuransi Jiwa Kuartal I Lesu, Begini Prospeknya di 2024

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp 47,2 triliun sepanjang kuartal pertama 2026. Angka tersebut mengalami sedikit koreksi sebesar 0,5% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatatkan Rp 47,50 triliun.

Advertisements

Berdasarkan lini produk, asuransi jiwa tradisional tetap menjadi tulang punggung industri dengan kontribusi pendapatan premi sebesar Rp 30,1 triliun, meskipun mengalami penurunan 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 31 triliun.

Dalam hal kanal distribusi, bancassurance masih mendominasi dengan perolehan premi sebesar Rp 18,54 triliun, diikuti oleh kanal distribusi alternatif sebesar Rp 14,44 triliun. Di sisi lain, kanal keagenan menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 1,2% menjadi Rp 14,29 triliun. Optimisme industri juga didorong oleh kenaikan premi bisnis baru sebesar 5,0% menjadi Rp 27,90 triliun, serta peningkatan signifikan jumlah tertanggung sebanyak 20,9% menjadi 118,28 juta orang.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, mengungkapkan bahwa total pendapatan keseluruhan industri pada kuartal pertama 2026 tercatat sebesar Rp 47,63 triliun, turun 6% dari Rp 50,66 triliun pada kuartal I 2025. Meski pendapatan mengalami penyesuaian, komitmen industri terhadap nasabah tetap menjadi prioritas utama. “Di saat yang sama, industri tetap menjalankan komitmennya melalui pembayaran klaim dan manfaat kepada masyarakat sebesar Rp 38,73 triliun, atau tumbuh 1,5% secara tahunan,” ujar Albertus dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).

Advertisements

Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma, menambahkan bahwa industri asuransi jiwa terus menjaga ketahanan keuangan melalui pengelolaan investasi yang prudent dan terdiversifikasi. Hal ini terbukti dari total aset industri yang meningkat 5,8% menjadi Rp 652,89 triliun, serta pertumbuhan total investasi sebesar 5,7% menjadi Rp 571,70 triliun.

Menurut Handojo, penguatan aset dan investasi mencerminkan kemampuan industri dalam menjaga stabilitas keuangan serta memenuhi kewajiban pemegang polis. Fokus investasi jangka panjang menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan perusahaan. Saat ini, portofolio investasi industri tersebar di berbagai instrumen, dengan Surat Berharga Negara (SBN) dan saham sebagai instrumen utama. Investasi pada SBN tercatat sebesar Rp 248,03 triliun atau setara 43,4% dari total portofolio, yang meningkat 15,8% secara tahunan. Selain SBN, dana investasi juga ditempatkan pada saham sebesar Rp 112,64 triliun dan reksa dana senilai Rp 72,45 triliun, yang sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan pemerintah.

Di sisi perlindungan konsumen, Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI, Wianto Chen, menegaskan bahwa industri terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu sorotan utama adalah lonjakan klaim akhir kontrak sebesar 112% menjadi Rp 10,45 triliun, yang menandakan semakin banyaknya pemegang polis yang berhasil mencapai akhir masa perlindungan. Sementara itu, klaim surrender justru mencatatkan penurunan signifikan sebesar 30,4% menjadi Rp 13,37 triliun. Adapun klaim meninggal dunia tercatat sebesar Rp 2,83 triliun, dan klaim kesehatan naik 15,3% menjadi Rp 6,7 triliun, mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan.

Prospek Asuransi Kesehatan hingga Akhir Tahun

Menatap masa depan, Wianto optimis bahwa asuransi kesehatan akan menjadi motor pertumbuhan utama industri asuransi jiwa. Dengan tingkat penetrasi yang masih rendah dibandingkan negara lain, potensi pasar asuransi kesehatan di Indonesia dinilai masih sangat besar. Meski demikian, industri tetap menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan sisi permintaan dan pasokan layanan kesehatan.

Terkait kinerja premi, premi asuransi kesehatan individu tercatat sebesar Rp 35,75 triliun, sedikit terkoreksi dari Rp 36,6 triliun. Wianto menilai penurunan ini disebabkan oleh melambatnya aktivitas ekonomi yang memengaruhi daya beli masyarakat. Namun, tren berbeda justru terlihat pada asuransi kesehatan kumpulan yang terus menunjukkan peningkatan. Ia berharap koordinasi yang lebih kuat antara regulator dan penyelenggara asuransi dapat memperluas akses perlindungan bagi masyarakat sekaligus menjaga profitabilitas bisnis asuransi jiwa.

Ringkasan

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan total premi industri pada kuartal I 2026 mencapai Rp 47,2 triliun, sedikit terkoreksi 0,5% secara tahunan. Meskipun total pendapatan keseluruhan industri turun 6%, komitmen pembayaran klaim dan manfaat justru tumbuh 1,5% menjadi Rp 38,73 triliun. Premi bisnis baru menunjukkan pertumbuhan 5,0%, diikuti peningkatan signifikan jumlah tertanggung sebesar 20,9%.

Industri asuransi jiwa juga menunjukkan ketahanan finansial dengan kenaikan total aset 5,8% dan investasi 5,7%. Lonjakan klaim akhir kontrak 112% serta penurunan klaim *surrender* 30,4% menjadi sorotan positif. Ke depannya, asuransi kesehatan diyakini akan menjadi motor pertumbuhan utama industri karena potensi pasar yang masih luas di Indonesia.

Advertisements