5 minutes read

Cara Tes Transistor dengan Multimeter! Ini Cara Pakai & Baca Hasilnya (Untuk Pemula)

Untuk mengetes transistor, Anda tidak perlu alat khusus. Cukup gunakan multimeter pada mode dioda atau ohmmeter (x10). Dengan mengukur hubungan antar kakinya, Anda bisa menentukan jenis transistor (NPN/PNP), mengetahui urutan kaki Basis-Kolektor-Emitor (BCE), dan memastikan apakah transistor tersebut masih bagus atau sudah rusak (short/putus).

Halo sobat opreker! Kalau Anda hobi bongkar-pasang perangkat elektronik, pasti sering ketemu komponen kecil berkaki tiga yang namanya transistor. Benda ini ibarat otaknya sirkuit, tapi sering juga jadi biang kerok kalau ada kerusakan. Nah, masalahnya, bagaimana cara kita tahu transistor itu masih sehat atau sudah “almarhum”?

Tenang, Anda tidak perlu beli alat tes transistor yang mahal. Cukup pakai senjata andalan kita semua, multimeter. Baik yang model jarum (analog) maupun yang digital, keduanya bisa diandalkan untuk “interogasi” kondisi transistor. Yuk, kita pelajari caranya langkah demi langkah.

Kenapa Tes Transistor Itu Penting?

Dalam dunia servis, transistor adalah salah satu komponen yang paling sering rusak. Kerusakannya biasanya ada dua: short (korslet) atau putus (open). Jika transistor short, arus akan bablas tanpa kendali. Sebaliknya, jika putus, arus tidak akan mengalir sama sekali. Keduanya bisa membuat seluruh rangkaian gagal berfungsi. Dengan bisa mengetesnya, Anda bisa langsung menemukan sumber masalah tanpa harus menebak-nebak.

Mengenal Kaki-Kaki Transistor (BCE)

Sebelum mengukur, kita harus kenal dulu ketiga kakinya. Transistor Bipolar (BJT) yang umum punya tiga kaki:

  • Basis (B): Kaki pemicu atau gerbang. Arus kecil di sini akan mengontrol arus besar yang lewat di dua kaki lainnya.
  • Kolektor (C): Kaki tempat masuknya arus utama.
  • Emitor (E): Kaki tempat keluarnya arus utama.

Urutan kaki BCE ini tidak selalu sama untuk setiap tipe transistor. Cara paling pasti untuk mengetahuinya adalah dengan melihat datasheet. Cukup ketikkan kode yang ada di badan transistor (misal: C828 atau 2N3904) di Google diikuti kata “datasheet”.

Tips Praktis: Jika tidak ada datasheet, jangan khawatir. Dengan multimeter, kita juga bisa lho mencari mana kaki Basis, Kolektor, dan Emitornya. Caranya akan kita bahas di bawah.

Cara Tes Transistor dengan Multimeter Analog

multimeter digital vs analog

Ini cara klasik yang masih sangat ampuh. Multimeter analog (jarum) sangat bagus untuk melihat hubungan antar kaki.

  1. Atur Multimeter: Putar saklar selektor ke mode Ohmmeter (Ω), biasanya di posisi x1k atau x10.
  2. Cari Kaki Basis:
    • Ambil satu probe (misal probe hitam) dan tempelkan di salah satu kaki transistor (anggap saja kaki 1).
    • Sentuhkan probe merah secara bergantian ke dua kaki lainnya (kaki 2 dan 3).
    • Perhatikan jarumnya. Jika jarum bergerak (menyimpang) saat probe merah menyentuh kaki 2 dan 3, berarti kaki 1 adalah Basis-nya. Dan karena probe hitam (negatif) yang jadi patokan, transistor ini jenisnya NPN.
    • Jika tidak ada hasil, pindahkan probe hitam ke kaki 2, lalu ke kaki 3, ulangi terus sampai Anda menemukan satu kaki yang bisa membuat jarum bergerak saat dihubungkan ke dua kaki lainnya.
    • Kebalikannya: Jika Anda menemukan kaki Basis dengan probe merah sebagai patokan, berarti itu transistor jenis PNP.
  3. Cek Kondisi Baik/Buruk:
    • Transistor Bagus: Hanya ada satu konfigurasi (seperti langkah di atas) yang membuat jarum bergerak. Jika posisi probe dibalik, jarum harus diam (tidak bergerak sama sekali).
    • Transistor Rusak (Short): Jarum bergerak di hampir semua posisi pengukuran. Antar kaki seolah terhubung semua.
    • Transistor Rusak (Putus): Jarum tidak bergerak sama sekali di semua posisi pengukuran. Tidak ada hubungan antar kaki.

Cara Tes Transistor dengan Multimeter Digital

Menggunakan multimeter digital lebih mudah karena hasilnya langsung berupa angka.

  1. Atur Multimeter: Putar saklar selektor ke mode Dioda (biasanya ada simbol dioda). Mode ini akan menampilkan nilai tegangan (voltage drop).
  2. Cari Kaki Basis dan Cek Kondisi:
    • Prosesnya sama persis dengan multimeter analog. Cari satu kaki yang saat dihubungkan dengan satu probe, akan menampilkan nilai (biasanya antara 0.400 sampai 0.900) saat probe lainnya menyentuh dua kaki sisanya.
    • Kaki yang jadi patokan itu adalah Basis.
    • Transistor NPN Bagus: Probe merah di Basis, probe hitam di Kolektor dan Emitor akan menampilkan nilai. Posisi lain akan menampilkan “OL” (Over Limit/Open).
    • Transistor PNP Bagus: Probe hitam di Basis, probe merah di Kolektor dan Emitor akan menampilkan nilai. Posisi lain akan menampilkan “OL”.
    • Transistor Rusak (Short): Akan menampilkan nilai mendekati 0.000 atau berbunyi (jika ada mode buzzer).
    • Transistor Rusak (Putus): Akan selalu menampilkan “OL” di semua posisi pengukuran.

FAQ – Pertanyaan Umum Tes Transistor

1. Bagaimana cara menentukan mana Kolektor dan Emitor setelah Basis ketemu?

Pada multimeter analog (posisi x10k), ukur antara Kolektor dan Emitor. Biasanya ada sedikit sekali kebocoran (jarum bergerak sedikit). Cara paling akurat tetap melihat datasheet. Namun, untuk sebagian besar transistor umum, nilai pengukuran Basis-Kolektor sedikit lebih rendah daripada Basis-Emitor di multimeter digital.

2. Multimeter digital saya punya lubang tes transistor (hFE), apakah itu akurat?

Fitur hFE (penguatan arus) itu berguna untuk mengetahui nilai penguatan transistor, tapi kurang bisa diandalkan untuk menentukan rusak atau tidaknya. Transistor yang short kadang masih menunjukkan nilai hFE. Cara paling pasti tetap menggunakan mode dioda/ohm.

3. Apakah transistor harus dilepas dari PCB untuk dites?

Sangat disarankan, ya. Mengukur transistor saat masih terpasang di papan sirkuit (PCB) bisa memberikan hasil yang salah karena multimeter juga akan mengukur komponen lain yang terhubung dengannya. Melepas salah satu atau semua kakinya adalah cara terbaik.