Jakarta, IDN Times – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (21/5/2026) sempat menguat setelah dibuka di level perdagangan 6.366,48 pagi ini. IHSG pun sempat menyentuh level tertingginya pada posisi 6.378,81.
Meski begitu, IHSG justru kembali menukik tajam ke zona merah beberapa menit usai pembukaan perdagangan pagi ini.
“Secara teknikal, IHSG berupaya rebound karena faktor oversold atau jenuh jual menurut indikator RSI setelah sebelumnya berhasil menyentuh target wave 5/A. Namun demikian, target wave 5/A alt masih berlaku selama indikator Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume,” kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, Kamis pagi.
1. Langkah mengejutkan BI naikkan suku bunga 
Nafan mengatakan, Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif dari ekspektasi konsensus dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen.
Padahal, konsensus sebelumnya memperkirakan kenaikan terbatas ke level 5 persen. Menurut Nafan, langkah ini diambil untuk meredam tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah yang belakangan ini cukup intensif.
“Hal ini tentunya menjadi sentimen positif bagi rupiah yang terpantau menguat 0,29 persen di level Rp17.653,5 per dolar AS,” ujar Nafan.
2. Pelaku pasar mulai dapat kepastian dari pidato Prabowo 
Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mendapatkan kepastian ketika Presiden Prabowo memaparkan pidato dalam sidang paripurna DPR tentang target pertumbuhan ekonomi yang realistis, misalnya pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen untuk tahun fiskal mendatang.
“Bersamaan dengan kepastian asumsi makro seperti target yield SBN sehingga hal ini memberikan kepastian bagi market demi meredam risiko volatilitas,” kata Nafan.
3. Sentimen global 
Dari global, dinamika tensi geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi market lantaran Presiden Trump mengatakan, AS berada dalam tahap akhir pembicaraan damai dengan Iran.
Hal ini membuat harga minyak WTI anjlok tajam di atas 4 persen. Sementara itu, risalah pertemuan The Fed bulan April menunjukkan bahwa mayoritas peserta FOMC percaya bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan menjadi tepat jika inflasi terus berlanjut di atas target 2 persen yang ditetapkan The Fed.
Risalah rapat ini muncul pada saat The Fed sedang dalam masa transisi ketika masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Fed berakhir 15 Mei 2026 lalu dan penggantinya, Kevin Warsh yang merupakan pilihan Trump diperkirakan akan segera dilantik.
“Menurut CME FedWatch, market secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun ini, namun ekspektasi terkait kenaikan suku bunga terlihat meningkat dari Juli hingga Desember tahun ini,” kata Nafan.
IHSG Tumbang Lagi Kamis Pagi, 7 Saham Ini Bisa Jadi Pantauan Pengaruh IHSG terhadap Saham, Investor Pemula Wajib Tahu
