PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menggelontorkan pinjaman jumbo senilai Rp 1,34 triliun kepada dua entitas anak usahanya, PT Adhi Prakarsa Raya (APR) dan PT Sumber Cahaya Raya (SCR). Dana segar ini dialokasikan untuk memuluskan langkah strategis akuisisi dua perusahaan tambang nikel yang beroperasi di wilayah Sulawesi Tenggara, menandai ekspansi signifikan di sektor sumber daya alam.
Rincian transaksi ini terungkap melalui keterbukaan informasi yang dirilis pada Selasa (26/5). PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) diketahui telah menandatangani perjanjian pinjaman dengan APR dan SCR sejak Jumat (22/5). Pinjaman tersebut terbagi menjadi Rp 749,59 miliar untuk APR dan Rp 591,78 miliar untuk SCR. Uniknya, fasilitas pinjaman ini diberikan tanpa bunga dan tanpa jaminan, dengan tenor dua tahun sejak penarikan dana yang dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan para pihak.
Manajemen PACK menjelaskan, transaksi pinjaman ini merupakan bagian dari upaya mendukung aksi korporasi strategis anak usaha dalam mengakuisisi saham dua perusahaan pertambangan. “Transaksi pinjaman dilakukan dalam rangka penyaluran dana dari pinjaman perpetual yang telah diterima oleh perseroan untuk keperluan pembayaran pembelian saham pada PT Konutara Sejati dan PT Karyatama Konawe Utara oleh APR dan SCR,” terang manajemen dalam keterangan resmi yang dikutip pada Rabu (27/5). Kedua perusahaan target akuisisi ini bergerak di sektor pertambangan dan eksplorasi bijih nikel, berlokasi di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara.
PACK menegaskan bahwa APR dan SCR merupakan perusahaan terkendali, dengan kepemilikan saham langsung oleh PACK mencapai lebih dari 99%. Status ini menjadikan transaksi tersebut masuk dalam kategori transaksi afiliasi yang dikecualikan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oleh karena itu, transaksi ini tidak memerlukan penilai independen maupun persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Manajemen menilai, pendekatan transaksi dengan pihak afiliasi ini lebih efektif dan efisien. “Transaksi ini lebih efektif dan efisien apabila dilakukan antara pihak-pihak terafiliasi mengingat adanya kemudahan penyelarasan tujuan bisnis dan efisiensi operasional serta penerapan pendekatan yang lebih terintegrasi,” imbuh perseroan.
Meskipun merupakan transaksi afiliasi, nilai pinjaman yang digelontorkan melampaui 20% dari ekuitas perseroan, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Januari 2026. Dengan demikian, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material sesuai POJK Nomor 17 Tahun 2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Namun demikian, PACK memastikan bahwa aksi korporasi ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan. “Tidak ada dampak signifikan terhadap keadaan kondisi keuangan Perseroan, dalam melakukan transaksi ini,” jamin manajemen.
Direksi dan Dewan Komisaris PACK secara kolektif menyatakan bahwa seluruh informasi material terkait transaksi ini telah diungkapkan secara transparan dan tidak mengandung benturan kepentingan, sebagaimana diatur dalam POJK terkait transaksi afiliasi. Emiten tambang yang dikenal dimiliki oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ini juga menegaskan bahwa seluruh proses transaksi telah dilakukan sesuai prosedur internal dan praktik bisnis yang berlaku umum. Langkah ini mencerminkan komitmen perseroan terhadap tata kelola perusahaan yang baik dan kepatuhan regulasi.
Baca juga:
- Salat Iduladha di Paris, Prabowo Rayakan Kurban bersama Diaspora Indonesia
- 31 Orang Tewas di Lebanon, Iran: AS Langgar Gencatan Senjata Terang-terangan
- Rupiah Tembus 17.800 per Dolar AS, Purbaya Jamin APBN Masih Aman
Ringkasan
PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), emiten milik Haji Isam, menyalurkan pinjaman sebesar Rp 1,34 triliun kepada dua anak usahanya, PT Adhi Prakarsa Raya (APR) dan PT Sumber Cahaya Raya (SCR). Dana jumbo ini dialokasikan untuk mengakuisisi dua perusahaan tambang nikel, PT Konutara Sejati dan PT Karyatama Konawe Utara, yang beroperasi di Sulawesi Tenggara. Pinjaman tanpa bunga dan tanpa jaminan ini menandai langkah ekspansi signifikan PACK di sektor sumber daya alam.
Transaksi ini merupakan pinjaman afiliasi karena PACK memiliki lebih dari 99% saham APR dan SCR, namun dikategorikan sebagai transaksi material sesuai POJK karena nilainya melebihi 20% dari ekuitas perseroan. Manajemen PACK memastikan bahwa aksi korporasi ini tidak akan berdampak signifikan pada kondisi keuangan perusahaan. Selain itu, transaksi ini ditegaskan telah dilakukan sesuai prosedur, transparan, dan tanpa benturan kepentingan.
