Emiten nikel dihimpit sejumlah tantangan di tengah tren kenaikan harga komoditas

JAKARTA – Meskipun harga nikel di pasar global menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, geliat usaha para emiten di sektor ini belum sepenuhnya terjamin. Mereka masih dihadapkan pada serangkaian tantangan kompleks yang memerlukan perhatian serius agar prospek investasi tetap optimal.

Advertisements

Berdasarkan data terkini dari Trading Economics, harga nikel tercatat di level US$ 19.041 per ton pada Rabu (27/5) pukul 10.30 WIB, menunjukkan peningkatan impresif sebesar 13,07% year to date (ytd) sejak awal tahun. Kenaikan ini, menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi, sebagian besar ditopang oleh pengetatan produksi melalui implementasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Secara umum, prospek kinerja emiten nikel hingga tahun 2026 dinilai menarik, namun bersifat selektif.

Di balik optimisme terhadap kenaikan harga komoditas nikel, sejumlah analis menyoroti berbagai hambatan yang berpotensi menekan margin laba para pelaku industri nikel. Setidaknya ada tiga tantangan utama yang harus dihadapi oleh para emiten sektor nikel saat ini.

Pertama, kenaikan harga sulfur menjadi sorotan utama. Muhammad Wafi menjelaskan bahwa hal ini dapat secara signifikan menekan Cost of Goods Sold atau Harga Pokok Penjualan (HPP) smelter High Pressure Acid Lead (HPAL). Senada, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menekankan dampak besar kenaikan harga sulfur akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, mengingat sulfur berkontribusi hingga 40% dari total HPP perusahaan.

Advertisements

Kedua, industri nikel juga dihadapkan pada kehadiran formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru yang berpotensi mengubah lanskap perhitungan biaya dan pendapatan. Ketiga, potensi masuknya produk ferronikel sebagai komoditas yang hanya dapat diekspor melalui satu pintu, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), menambah daftar ketidakpastian. Harry Su juga menambahkan bahwa selain kebijakan ekspor baru oleh DSI, emiten nikel juga masih harus berhadapan dengan ketidakpastian terkait kuota RKAB.

Selain itu, Muhammad Wafi turut menyoroti bahwa stok nikel di London Metal Exchange (LME) yang masih berada di level tinggi, yakni lebih dari 250.000 ton, secara tidak langsung membatasi ruang gerak kenaikan harga nikel lebih lanjut, seperti yang disampaikannya pada Selasa (26/5).

Menghadapi berbagai tantangan ini, para ahli memberikan beberapa rekomendasi strategis bagi emiten nikel untuk menjaga ketahanan kinerja. Harry Su menyarankan agar emiten produsen nikel, terutama di sektor hulu, aktif mengamankan rantai pasok. Ini termasuk memastikan kuota RKAB yang disetujui pemerintah, ketersediaan pasokan ore, serta pasokan sulfur yang memadai.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyoroti pentingnya efisiensi energi sebagai faktor krusial untuk menjaga daya saing di tengah tingginya biaya operasional. Ia juga menekankan kebutuhan akan diversifikasi produk turunan agar emiten tidak hanya bergantung pada satu segmen pasar, serta penguatan struktur keuangan demi menjaga ketahanan kinerja dalam menghadapi volatilitas harga komoditas.

Secara lebih spesifik, Wafi merekomendasikan emiten nikel di bagian hulu untuk fokus pada efisiensi biaya pengeluaran dan memastikan persetujuan RKAB. Sementara itu, bagi emiten yang mengoperasikan smelter pengolahan nikel, langkah lindung nilai (hedging) biaya pembelian sulfur dan diversifikasi sumber pasokan energi menjadi sangat penting. Emiten dengan porsi ekspor produk olahan nikel dalam jumlah besar juga perlu mempersiapkan skenario novasi kontrak jika DSI akhirnya memasukkan ferronikel sebagai komoditas wajib ekspor satu pintu. Lebih jauh, integrasi vertikal ke produk baterai kendaraan listrik disebut sebagai strategi jangka panjang yang paling defensif.

Dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan strategi yang tepat, Muhammad Wafi menyebut PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berpeluang menjadi emiten produsen nikel dengan kinerja optimum. ANTM diuntungkan oleh kuota RKAB yang meningkat, biaya pengeluaran yang kompetitif, serta sentimen komoditas emas yang berfungsi sebagai penopang kinerja. Wafi merekomendasikan saham ANTM dengan target harga di kisaran Rp 3.880 per saham.

Selain ANTM, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dinilai cukup menarik karena produk nickel matte yang dihasilkannya belum masuk dalam kategori komoditas wajib ekspor melalui DSI. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga masih prospektif dari sisi volume produksi dan penjualan, meskipun lebih rentan terhadap isu regulasi ekspor. Untuk INCO, Wafi menargetkan harga di level Rp 6.050 per saham.

Senada dengan Wafi, Harry Su juga melihat INCO sebagai emiten nikel yang berpotensi mencetak kinerja optimal di tengah tren kenaikan harga komoditas tahun ini. Harry merekomendasikan saham INCO untuk dicermati investor dengan target harga yang lebih tinggi, yakni di level Rp 7.500 per saham. Prospek kinerja INCO ini juga dapat dilihat lebih lanjut melalui grafik kinerja saham.

Ringkasan

Meskipun harga nikel global menunjukkan kenaikan signifikan didukung pengetatan produksi melalui RKAB, emiten nikel dihadapkan pada serangkaian tantangan kompleks. Tantangan utama meliputi kenaikan harga sulfur yang signifikan menekan Harga Pokok Penjualan (HPP) smelter HPAL, potensi formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru, serta ketidakpastian regulasi ekspor ferronikel satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan kuota RKAB. Selain itu, stok nikel tinggi di London Metal Exchange juga membatasi ruang gerak kenaikan harga.

Untuk menjaga ketahanan kinerja, emiten disarankan mengamankan rantai pasok, meningkatkan efisiensi energi, dan diversifikasi produk turunan. Strategi lain meliputi lindung nilai biaya pembelian sulfur dan integrasi vertikal ke produk baterai kendaraan listrik sebagai langkah jangka panjang. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) direkomendasikan karena prospek kinerja optimal, di mana INCO diuntungkan karena produknya belum masuk kategori komoditas wajib ekspor melalui DSI.

Advertisements