IHSG ditutup melemah 144,43 poin pada perdagangan Kamis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 30 April 2026, dengan performa yang kurang menggembirakan, tergelincir ke zona merah. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks acuan pasar modal Indonesia ini meraup kerugian sebesar 144,43 poin atau setara 2,03 persen, menghentikan lajunya pada level 6.956,80.

Advertisements

Sejak dibuka di level 7.103,26, pergerakan IHSG pada hari itu menunjukkan volatilitas signifikan, sempat menyentuh puncaknya di 7.109,00 sebelum akhirnya terjun bebas ke level terendah 6.876,58. Aktivitas perdagangan juga cukup ramai, tercatat volume 46,35 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 21,85 triliun, yang ditopang oleh 2,639 juta kali frekuensi transaksi.

Sentimen negatif tampak mendominasi dengan kuat di lantai bursa, terlihat dari banyaknya saham yang melemah, mencapai 600 emiten. Hanya 146 saham yang mampu menguat, sementara 213 saham lainnya stagnan. Kondisi ini sejalan dengan koreksi mendalam yang juga menimpa sejumlah indeks utama lainnya, di mana indeks LQ45, misalnya, turun 14,80 poin atau 2,16 persen ke level 669,34.

Potret pelemahan pasar semakin jelas tergambar dari kinerja seluruh sektor yang serentak berada di zona merah. Sektor infrastruktur menjadi salah satu yang paling terpukul dengan penurunan 2,93 persen, disusul sektor perindustrian yang melemah 2,95 persen, dan sektor bahan baku yang terkoreksi 2,09 persen. Sektor-sektor vital lainnya seperti keuangan turun 1,73 persen, properti dan real estat anjlok 2,19 persen, kesehatan tergerus 1,15 persen, transportasi kehilangan 0,80 persen, serta energi merosot 1,08 persen.

Advertisements

Menanggapi performa IHSG yang tertekan ini, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengidentifikasi dua pemicu utama: sentimen global risk off dan tekanan dari faktor domestik. “Dari ranah global, penguatan dolar AS yang signifikan dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga acuan mendorong terjadinya capital outflow atau arus modal keluar,” jelas Reydi pada Kamis, 30 April 2026, seperti dilansir dari Antara. “Sementara itu, di dalam negeri, isu-isu terkait free float, HSC, serta rebalancing indeks turut memperdalam koreksi yang terjadi pada pasar saham Indonesia,” tambahnya.

Reydi lebih lanjut mengamati bahwa sikap investor, terutama investor asing, cenderung bersifat defensif dan memilih untuk melakukan net sell atau aksi jual bersih di pasar saham domestik.

Untuk saat ini, para investor masih menantikan kejelasan mengenai beberapa hal krusial. Di antaranya adalah arah kebijakan suku bunga acuan global, stabilisasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, serta kepastian regulasi di pasar modal domestik. Kejelasan ini sangat penting untuk menghilangkan keraguan dan menjadi dasar bagi mereka dalam mengambil keputusan investasi di masa mendatang.

Dalam proyeksinya untuk jangka pendek, Reydi memperkirakan bahwa IHSG berpotensi untuk bergerak sideways atau mendatar, dengan kecenderungan melemah. Kendati demikian, ia juga melihat adanya peluang untuk terjadinya technical rebound yang dapat memberikan sedikit dorongan positif.

Pilihan Editor: Antara Defisit dan Pertumbuhan Setelah Belanja Negara Diubah

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan sebesar 144,43 poin atau 2,03 persen pada level 6.956,80 di perdagangan Kamis, 30 April 2026. Pergerakan indeks menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang hari, didominasi oleh sentimen negatif di mana 600 saham melemah dan seluruh sektor, termasuk LQ45, berada di zona merah.

Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global risk-off seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian kebijakan suku bunga, yang menyebabkan arus modal keluar. Tekanan juga datang dari faktor domestik seperti isu free float dan rebalancing indeks, mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih. Investor kini menantikan kejelasan terkait arah kebijakan suku bunga global, stabilisasi Rupiah, dan regulasi pasar modal domestik.

Advertisements