
Solderpanas JAKARTA. Kinerja PT Timah Tbk (TINS) pada kuartal I-2026 semakin memperkuat keyakinan analis terhadap fase pemulihan laba emiten pelat merah tersebut. Kinerja TINS ini sejalan dengan lonjakan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) timah dan ekspansi margin yang signifikan, Timah berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, dalam riset Jumat (29/5/2026) menyebut, capaian tersebut telah mencapai sekitar 44,6% dari proyeksi laba bersih TINS sepanjang 2026 yang telah direvisi.
“Hasil kuartal I-2026 mengonfirmasi tesis kami mengenai titik balik pertumbuhan laba (earnings inflection). Kinerja kuat ini ditopang oleh harga jual rata-rata yang tinggi serta ekspansi margin yang signifikan,” tulis Andhika dalam risetnya.
Surge (WIFI) Resmi Meluncurkan Internet Rakyat, BRI Danareksa Rekomendasikan Buy
Sepanjang Januari-Maret 2026, TINS mencatat penjualan timah olahan sebesar 6.000 ton dengan ASP mencapai US$ 49.200 per ton. Sementara itu, biaya tunai (cash cost) tercatat relatif terkendali di level US$ 21.500 per ton atau hanya naik sekitar 3% secara tahunan.
Kombinasi harga jual yang tinggi dan pengendalian biaya berhasil mendorong margin laba perusahaan ke level yang jauh lebih sehat. Margin kotor meningkat menjadi 38,6%, margin EBITDA mencapai 37,2%, sedangkan margin laba bersih melonjak menjadi 27,5%.
Melihat kuatnya tren harga timah global, BRI Danareksa menaikkan proyeksi laba bersih TINS tahun 2026 sebesar 13,4% menjadi Rp 3,4 triliun.
Revisi tersebut terutama didorong oleh peningkatan asumsi harga jual rata-rata timah menjadi US$ 50.000 per ton, jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi sebelumnya sebesar US$ 40.000 per ton.
Meski demikian, Andhika tetap mempertahankan asumsi volume penjualan yang konservatif di level 25.000 ton sepanjang tahun.
Menurut Andhika, capaian penjualan 6.000 ton pada kuartal pertama belum dapat langsung diekstrapolasi untuk satu tahun penuh karena masih terdapat sejumlah risiko operasional dan regulasi.
Megalestari (EPAC) Bersiap Ganti Pengendali, Triple B Kuasai 34% Saham
“Kami menghindari annualisasi langsung atas volume kuartal pertama karena pengiriman pada April 2026 berpotensi terganggu oleh masa transisi regulasi dan risiko waktu penerbitan RKAB setelah berakhirnya relaksasi RKAB pada akhir Maret 2026,” jelasnya.
Faktor tersebut juga menjadi alasan BRI Danareksa memangkas proyeksi laba bersih TINS tahun 2027 sebesar 8,7% menjadi Rp 3,5 triliun.
Meski prospek harga timah masih mendukung, BRI Danareksa menilai usulan kenaikan tarif royalti menjadi risiko terbesar bagi kinerja TINS ke depan.
Dalam proyeksi dasar (base case), Andhika belum memasukkan skenario perubahan royalti. Namun apabila usulan tersebut diterapkan, dampaknya terhadap profitabilitas perusahaan dinilai cukup signifikan.
Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan BRI Danareksa, laba bersih TINS berpotensi turun menjadi sekitar Rp 1,98 triliun dari proyeksi dasar Rp 3,36 triliun.
Bahkan dalam berbagai skenario sensitivitas, laba bersih tahun 2026 diperkirakan dapat berada pada rentang Rp 1,46 triliun hingga Rp 2,50 triliun. Kondisi tersebut berpotensi menekan valuasi saham perusahaan.
“Royalti yang lebih tinggi dapat menggerus margin kas secara material dan membatasi potensi rerating saham TINS dalam jangka pendek,” ujar Andhika.
Terlepas dari risiko regulasi tersebut, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TINS.
Harga Emas Antam Hari Ini (31/5) Stagnan di Rp 2,799 Juta per Gram
Target harga saham direvisi menjadi Rp 4.500 per saham, berdasarkan valuasi 10 kali price-to-earnings (P/E) tahun 2026. Meskipun lebih rendah dibanding asumsi sebelumnya di level Rp 4.800, valuasi tersebut masih mencerminkan optimisme terhadap berlanjutnya pemulihan laba perusahaan.
“Target multiple 10 kali P/E masih setara sekitar dua standar deviasi di atas rata-rata historis forward P/E TINS, yang mencerminkan keberlanjutan fase pemulihan laba meskipun terdapat ketidakpastian regulasi,” tulis Andhika.
Harga saham TINS pada Jumat (29/5/2026) ditutup turun 0,31% di Rp 3.210 per saham.
BRI Danareksa menilai sejumlah faktor tetap perlu dicermati investor, antara lain potensi penurunan harga timah global, gangguan pengiriman akibat transisi regulasi dan penerbitan RKAB, serta risiko kenaikan royalti maupun biaya produksi yang lebih tinggi dari perkiraan.
Hingga akhir 2026, BRI Danareksa memperkirakan pendapatan dan laba bersih masing-masing bisa mencapai Rp 24,16 triliun dan Rp 3,36 triliun. Sementara di tahun 2027 pendapatan dan laba bersih masing-masing bisa mencapai Rp 25,99 triliun dan Rp 3,48 triliun.
