
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah gejolak pasar yang menekan nilai tukar rupiah, instrumen investasi berbasis dolar Amerika Serikat (AS) semakin memikat perhatian investor. Fenomena ini tercermin jelas dari peningkatan signifikan dana kelolaan (AUM) pada sejumlah reksadana dolar AS dalam kurun waktu satu tahun terakhir, menunjukkan pergeseran strategi investasi untuk mencari stabilitas dan potensi keuntungan di tengah ketidakpastian.
Data terbaru dari Infovesta menyoroti daftar reksadana dolar AS yang mencatat pertumbuhan dana kelolaan (AUM) paling impresif. Posisi teratas diduduki oleh BNP Paribas Prima USD dari kategori pendapatan tetap, yang berhasil membukukan pertumbuhan AUM sebesar US$106,53 juta, melonjak 82,77% secara tahunan. Tak kalah mencengangkan, Manulife Liquid Fund USD dari kategori pasar uang mengalami peningkatan dana kelolaan sebesar US$96,53 juta, dengan lonjakan fenomenal 372,15% secara year on year (yoy). Melengkapi daftar ini, Danamas Dollar, juga dari kategori pendapatan tetap, menunjukkan pertumbuhan AUM sebesar US$39,28 juta atau naik 33,85% yoy.
Tidak hanya dari sisi pertumbuhan dana kelolaan, reksadana dolar AS juga menunjukkan kinerja yang gemilang. Secara year to date (ytd), produk-produk berbasis saham global syariah mendominasi daftar reksadana dolar AS dengan return terbesar. Panin Global Sharia Equity Fund memimpin dengan return 37,17%, diikuti ketat oleh Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B (35,13%), Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A (34,06%), Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (32,57%), serta Principal Islamic Asia Pacific Equity Syariah USD (31,96%). Angka-angka ini menegaskan daya tarik investasi pada produk-produk syariah di pasar global.
Menanggapi tren ini, Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama, menegaskan bahwa investasi pada reksadana dolar AS tetap sangat prospektif. “Tidak ada kata terlambat untuk berinvestasi, namun hal tersebut harus selalu disesuaikan dengan kebutuhan serta profil risiko masing-masing investor,” ujar Wawan kepada Kontan pada Senin (11/5/2026). Ia menambahkan bahwa instrumen ini sangat cocok bagi investor yang memiliki alokasi atau kebutuhan dana dalam mata uang dolar AS.
Daya tarik reksadana dolar AS, menurut Wawan, tidak hanya bertumpu pada kinerja produk investasinya semata. Ada pula potensi keuntungan substansial yang berasal dari apresiasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. “Selain kinerja yang baik, ada pula potensi keuntungan kurs yang signifikan, mengingat kecenderungan rupiah melemah terhadap dolar AS yang terus berlanjut,” jelasnya, menyoroti dimensi ganda yang membuat investasi dolar AS ini kian menarik.
Kendati demikian, Wawan tidak luput mengingatkan para investor untuk tetap cermat memperhatikan risiko pasar. Terutama untuk reksadana dolar AS berbasis saham atau campuran, volatilitas pasar global dapat memengaruhi kinerja. Bahkan, reksadana pendapatan tetap pun berpotensi mencatatkan hasil negatif jika terjadi kenaikan suku bunga yang tidak terduga, menyoroti pentingnya diversifikasi dan pemahaman risiko.
Namun, Wawan melihat bahwa tren penguatan dolar AS terhadap rupiah dalam jangka panjang dapat menjadi penopang kuat bagi kinerja investasi. “Berdasarkan pengalaman sepuluh tahun terakhir, dolar AS secara konsisten menguat terhadap rupiah. Ini berarti, kerugian potensial dari sisi investasi itu sendiri bisa saja tertutupi oleh keuntungan kurs yang diperoleh,” papar Wawan, memberikan perspektif jangka panjang mengenai potensi imbal hasil.
Melihat ke depan, prospek reksadana dolar AS akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed, serta dinamika pergerakan rupiah. Meskipun demikian, Wawan optimistis terhadap daya tarik instrumen ini, terutama karena kemampuannya dalam menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan dengan deposito dolar AS. “Reksadana USD tetap menarik karena dapat memberikan imbal hasil dalam denominasi dolar AS yang secara substansial lebih tinggi dari deposito,” pungkas Wawan, memberikan alasan kuat mengapa investasi dolar AS ini patut dipertimbangkan oleh investor.
Ringkasan
Di tengah gejolak pasar dan pelemahan nilai tukar rupiah, investor semakin beralih ke instrumen reksadana dolar AS untuk mencari stabilitas dan potensi keuntungan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan signifikan dana kelolaan (AUM) pada sejumlah reksadana dolar AS, seperti BNP Paribas Prima USD dan Manulife Liquid Fund USD. Selain pertumbuhan AUM yang impresif, reksadana dolar AS juga menunjukkan kinerja gemilang, terutama pada produk saham syariah global dengan imbal hasil tinggi.
Menurut Wawan Hendrayana dari Infovesta Utama, daya tarik reksadana dolar AS tidak hanya karena kinerja produk yang baik, tetapi juga potensi keuntungan dari apresiasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Instrumen ini cocok bagi investor yang memiliki alokasi dana dalam dolar dan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan deposito dolar AS. Meskipun ada risiko volatilitas pasar, tren penguatan dolar AS terhadap rupiah dalam jangka panjang memberikan prospek positif bagi investasi ini.
